Fokuskan CSR Untuk Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat

Konsep bisnis sosial yang berfokus pada tujuan sosial yang berkelanjutan dapat menjadi solusi untuk mengatasi masalah-masalah sosial di berbagai bidang seperti pendidikan, kesehatan, akses informasi, kemiskinan, dan lingkungan melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat. Secara bersamaan, konsep bisnis sosial juga meningkatkan kesadaran sosial di kalangan pelaku bisnis di Indonesia.

NERACA

Indonesia dengan keragaman budaya dan sumber daya manusia yang memadai memiliki potensi tinggi untuk mengembangkan bisnis sosial, terutama bisnis yang memberdayakan penduduk lokal.

Untuk mewujudkannya, pelaku bisnis dan setiap individu yang terlibat di dalamnya harus terus memperbarui strategi program-program pemberdayaan, adaptif terhadap perubahan, meningkatkan keterampilan, membuka wawasan, serta memperluas jaringan sosial.

Dengan begitu, baik pelaku usaha bisnis sosial maupun masyarakat yang dibantu, bisa mandiri melalui karya-karya yang menghasilkan profit secara berkelanjutan.

Pakar Corporate Social Responsibility (CSR), Pudyardono Prajarto menuturkan, konsep bisnis sosial bisa terwujud dalam suatu kesinambungan dan konsep berlanjut yang mengacu pada kearifan lokal.

“Tujuan dari konsep bisnis sosial adalah untuk mewujudkan suatu kesinambungan dan konsep tersebut akan berkelanjutan jika tetap memperhatikan pada kearifan lokal,” kata Pudyardono

Konsep bisnis sosial dipelopori oleh bangkir asal Bangladesh bernama Muhammad Yunus, menawarkan sudut pandang baru dalam menjalankan bisnis. Menerapkan dasar pemikiranentrepreneurial,bisnis sosial dirancang dan diharapkan dapat mengubah pandangan konsep bisnis konvensional yang hanya berorientasi pada keuntungan untuk diri sendiri menjadi lebih fokus kepada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Terdapat tujuh hal yang membedakan bisnis sosial dengan bisnis konvensional, yaitu;

Tujuan bisnis adalah untuk mengatasi masalah-masalah sosial di masyarakat, bukan memaksimalkan profit

Bisnis sosial mengubah wujud profit menjadi program-program pemberdayaan yang bermanfaat sosial secara berkesinambungan. Sejak dicetuskan pertama kali pada tahun 1976, praktik bisnis sosial sudah terbukti dapat menjadi solusi untuk mengatasi masalah-masalah sosial di berbagai bidang seperti pendidikan, kesehatan, akses informasi, kemiskinan, lingkungan melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat. Pada saat bersamaan, konsep ini juga meningkatkan kesadaran sosial di antara pelaku bisnis.

Pengelolaan finansial dan ekonomi yang berkelanjutan

Masalah-masalah sosial bukan hal yang dapat diatasi dalam sekejap. Diperlukan program jangka panjang dan pengelolaan finansial yang terencana dan terukur. Untuk mewujudkannya, bisnis sosial tidak bisa selalu mengandalkan donasi. Oleh sebab itu, pelaku bisnis dan setiap individu yang terlibat di dalamnya harus terus memperbarui strategi program-program pemberdayaan, adaptif terhadap perubahan, meningkatkan ketrampilan, membuka wawasan, serta memperluas jaringan sosial. Dengan begitu, baik pelaku usaha bisnis sosial maupun masyarakat yang dibantu, bisa mandiri melalui karya-karya yang menghasilkan profit secara berkelanjutan.

Investor hanya akan mendapatkan kembali uang mereka sejumlah investasi yang ditanamkan

Untuk menjadi investor dalam praktik bisnis sosial, uang bukanlah hal utama. Kesadaran sosial dan rasa kepedulian untuk saling membantu masyarakat lebih dibutuhkan karena investor tidak akan menerima profit dari uang yang mereka tanamkan. Investor hanya akan mendapatkan kembali uang sejumlah nilai investasi yang mereka tanamkan.

Seratus persen profit akan digunakan untuk kepentingan pengembangan dan peningkatan kualitas masyarakat

Seperti bisnis konvensional, bisnis sosial pun harus menghasilkan profit. Namun, profit yang biasanya digunakan untuk kepentingan diri sendiri dan dalam bentuk harta, diubah wujudnya menjadi program-program pemberdayaan beserta sarana pendukungnya yang dibangun secara berkelanjutan untuk kembali memberdayakan masyarakat.

Kesadaran sosial

Untuk meningkatkan kinerja bisnis sosial, pelaku usaha perlu menjalin kerjasama dengan pihak-pihak yang juga memiliki kesadaran dan kepedulian sosial seperti lembaga non profit, tokoh masyarakat, atau yayasan. Melalui kerjasama ini, pelaku bisnis sosial dapat menggunakan saluran dan kredibilitas pihak-pihak tersebut untuk menjangkau lebih banyak masyarakat yang pada akhirnya dapat menciptakan perubahan perilaku yang positif.

Kompensasi untuk para tenaga kerja bisnis sosial diperoleh melalui lingkungan yang sehat

Bisnis sosial ingin membuat lingkungan hidup yang lebih manusiawi dan lebih ramah huni, termasuk di lingkungan kerja.

Lakukan dengan tulus

Untuk memaksimalkan profit dan kemanfaatan sosial, praktik bisnis sosial tidak dapat dilakukan setengah hati. Perasaan tulus dan ikhlas dalam melakukan pekerjaan memicu kreativitas dan inovasi yang dalam jangka panjang dapat meningkatkan kinerja praktik bisnis sosial.

Related posts