Perekonomian Asia Tenggara Dinilai Tetap Kuat

NERACA

Jakarta – Prospek ekonomi negara-negara berkembang (emerging market) di wilayah Asia Tenggara diprediksi tetap kuat dalam jangka menengah. Pasalnya, pertumbuhan kelas menengah akan mendorong kenaikan konsumsi pada pasar domestik. Meskipun pada prosesnya akan berjalan melambat secara bertahap.

“Asia Tenggara, China dan India ke depannya tetap akan kuat dalam jangka menengah. Bahkan wilayah-wilayah tersebut diperkirakan akan terus memainkan peran penting dalam pertumbuhan global. Meskipin proykesi PDB (Produk Domestik Bruto) nya akan melambat secara gradual (bertahap),” kata Kepala Bagian Asia The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), Kensuke Tanaka, pada acara International Seminar on Structural Policy Challenges and Responses di Gedung Djuanda, Kementerian Keuangan, Kamis (5/12).

Dia mengatakan, berdasarkan penelitian OECD Indonesia diproyeksikan akan menjadi negara dengan pertumbuhan paling cepat di antara negara-negara di ASEAN. Pasalanya, pertumbuhan ekonomi di Indonesia akan mencapai 6% rata-rata per tahun hingga 2018. Kemudian diikuti oleh Filipina sebesar 5,8%, Malaysaia 5,1%, Thailand 4,1% dan Singapura sebesar 3,3%. “Rata-rata pertumbuhan ekonomi di Asia Tenggara akan dipengaruhi oleh meningkatnya konsumsi domestik. Juga dalam hal investasi di bidang infrastruktur.

Untuk mencapai pertumbuhan sebesar itu Tanaka juga menekankan agar pemerintah punya bisa mereformasi kebijakan yang tepat untuk menghadapi tantangan ekonomi global. Terutama dalam hal merealisasikan kesejahteraan penduduk. Serta menjaga iklim politik yang demokratis.

”Proses reformasi sistem pensiun merupakan salah satu pilar dari sistem jaminan sosial di Indonesia. Sistem jaminan sosial yang saat ini ada tidak memadai untuk memberikan pendapayan yang terjamin bagi mayoritas peduduk terutama yang telah pensiun. Hal ini saya rasa harus dipercepat,” tutur Tanaka.

Menganai pertumbuhan rata-rata di Asia, OECD memproyeksikan pertumbuhan rata-rata hingga tahun 2012 akan mencapai 6,9%. Angka itu dinilai cukup realistis mengingat kondisi perekonomian global belum stabil. “Memang proyeksi tersebut masih lebih rendah dari pertumbuhan pada periode sebelum krisis keuangan global pada tahun 2000 sampai 2007. Tapi angka 6,9% cukup realistis mengingat perekonomian global belum stabil," tandasnya. [lulus]

BERITA TERKAIT

Pemindahan Ibu Kota Dinilai Akan Dorong Permintaan Hunian

Pemindahan Ibu Kota Dinilai Akan Dorong Permintaan Hunian NERACA Jakarta - Rencana pemindahan ibu kota ke luar Jawa yang disampaikan…

WALAU HADAPI HAMBATAN EKSTERNAL KUAT - IMF Nilai Kinerja Ekonomi RI Baik

Jakarta-Tim Dana Moneter Internasional (IMF) menilai perekonomian Indonesia 2018 menunjukkan kinerja yang baik, meski menghadapi hambatan eksternal yang kuat. Prospeknya…

Danai Proyek Energi Terbarukan - Terregra Asia Siapkan Capex Rp 500 Miliar

NERACA Jakarta – Danai pengembangan bisnis energi baru terbarukan, baik di dalam negeri dan di luar negeri, PT Terregra Asia…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Jelang Lebaran, Harga Kebutuhan Pokok Relatif Stabil

    NERACA   Jakarta - Mendekati Lebaran, satu hal yang selalu menjadi perhatian masyarakat luas adalah soal harga kebutuhan…

Jaga Pangan, Mentan Dianggap Sosok Berani

    NERACA   Jakarta - Sektor pertanian merupakan sektor penting dalam menopang pendapatan rumah tangga secara nasional. Sektor ini…

Perbaiki Defisit Transaksi Berjalan, Perhitungan Investasi Migas Dirombak

    NERACA   Jakarta - Pemerintah menetapkan dua kebijakan, yakni di antaranya merombak mekanisme perhitungan investasi eksplorasi migas PT.…