Asa Wujudkan Mimpi Swasembada Susu - Melalui Program Farmer2Farmer

NERACA

Jakarta – Pencanangan pemerintah Indonesia tahun 2020 menjadi swasembada susu nasional dinilai skeptis dan bahkan dituding hanya sebagai mimpi. Alasannya sederhana, bagaimana mau swasembada susu nasional jika kebutuhan susu dalam negeri saja belum terpenuhi. Satu sapi perah di Indonesia hanya memproduksi sekitar 12 liter susu segar per hari, dengan kata lain masih jauh dari yang bisa diproduksi sapi perah asal Belanda yang tiap harinya menghasilkan 30 liter susu segar. Menurunnya produksi susu dalam negeri, menurut pemerintah disebabkan banyaknya sapi perah yang dipotong sehingga dalam dua tahun terakhir produksi susu sapi nasional terus menurun 400 ton per hari.

Kondisi ini diperburuk dengan nilai jual harga susu peternak sapi perah yang teraniaya karena terus menurun sehingga tidak memungkinkan para peternak untuk mengembangkan usaha. Sebagaimana diketahui, konsumsi susu masyarakat Indonesia masih rendah di Asia, bahkan di bawah Malaysia dan Filipina yang mencapai 22,1 liter per kapita per tahun, Thailand sebanyak 33,7 liter per kapita per tahun dan Vietnam mencapai 12,1 liter per kapita per tahun. Sementara itu India sudah mencapai 42,08 liter per kapita per tahun. Kendatipun demikian, kata Head and Sales Marketing Greenfields, Jan Gert Visten, konsumsi susu di Indonesia sejak tahun 2007 terus meningkat. Pasalnya, pada 2011 konsumsi susu di Indonesia mencapai 12,85 liter per kapita per tahun. Jumlah itu meningkat dibandingkan 2010 yaitu 11,95 liter susu per kapita per tahun.

Meskipun konsumsi susu di Indonesia masih rendah, tetapi sekitar 74% kebutuhan susu Tanah Air masih bergantung pada pasokan susu impor, baik itu sebagai bahan baku ataupun produk susu. Hal ini yang menjadi daya saing peternak susu sapi perah dalam negeri makin terpuruk sehingga banyak peternak beralih profesi yang lebih menjanjikan.

Tingkatkan Daya Saing

Oleh karena itu, untuk meningkatkan daya saing dan produksi susu di Tanah Air, pemerintah kata Nazarudin Direktur Pengolahan, Pemasaran Hasil Pertanian (PSHP) Kementerian Pertanian, pihaknya akan memfasilitasi alat-alat pengolahan susu pada sentra-sentra produsen susu.

Menurutnya, guna menggenjot produksi susu diperlukan pembinaan pada sentra-sentra produksi susu. Pasalnya, pemeliharaan ternak sapi khususnya sapi perah membutuhkan keahlian khusus dan berbeda dengan perlakuan ternak yang lain, “Sapi perah itu lebih sensitif, perlakuan harus lebih baik, termasuk penyediaan pakan. Penyediaan pakan sangat penting pada usaha sapi perah, 70% biaya produksi usaha sapi perah adalah untuk pemenuhan pakan," kata Nazarudin.

Sejumlah masalah lain dalam proses produksi susu yaitu kandungan bakteri yang masih sangat tinggi, sehingga menyulitkan pemasaran dalam produk susu segar ataupun pasokan ke industri besar. Kondisi ini terjadi karena minimnya fasilitas infrastruktur untuk produksi susu yang ideal di kalangan peternak. "Masih banyak kandungan bakteri yang membuat produksi susu peternak tak layak diproses industri. Kita harus cari cara untuk turunkan jumlah bakteri produksi susu agar bisa diolah," kata Nazarudin.

Melihat hambatan dan kendala dalam meningkatkan produksi susu nasional menuju swasembada di tahun 2020, tentunya tidak bisa berjalan sendiri tanpa peran dan kerjasama dengan pihak swasta. Selain itu, para peternak sapi perah juga tidak bisa mengatasi sendiri permasalahan kualitas dan kuantitas susu dalam negeri dan harus ada dukungan dari berbagai pihak, termasuk pelaku industri susu. Maka berangkat dari visi dan misi yang sama, Frisian Flag sebagai produsen susu tergerak untuk berperan serta dalam mendukung swasembada susu nasional dengan program Farmer2Farmer. Dijelaskan, program ini merupakan rangkaian kegiatan berbagi pengetahuan dan pengalaman antara peternak sapi perah Belanda kepada para peternak sapi perah Indonesia.

Berguru Dari Belanda

Mengapa harus mendatangkan peternak sapi Belanda, kata Direktur Operasional Frisian Flag Indonesia, Jan Wegenaar, Belanda merupakan negara yang berpengalaman dan memiliki pengetahuan yang memadai dalam beternak sapi perah yang baik dan benar, “Seperti diketahui bahwa Belanda memiliki sejarah panjang dalam industri peternakan sapi perah berskala besar, diharapkan program ini membantu para peternak sapi perah lokal untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi susu segarnya, serta meningkatkan kesejahteraan hidupnya,”ujarnya.

Alasan lain, masa produksi sapi Belanda lebih panjang bisa 25 sampai 30 tahun dibandingkan sapi Indonesia hanya bertahan 10 tahun saja, “Produksi dan produktifitas sapi Indonesia kalah jauh dengan Belanda, makanya kami undang peternak Belanda untuk berbagi ilmunya dengan para peternak Indonesia,”ungkapnya.

Kata Berend Jan Stoel (60) salah satu peternak asal Belanda yang ikut program farmer to farmer, kondisi Indonesia masih memungkinkan untuk meningkatkan produktivitas sapi perah meskipun membutuhkan waktu yang cukup panjang. Tidak hanya itu, kualitasnya pun bisa meningkat sehingga dapat memenuhi standar nasional Indonesia.

Menurut dia, rendahnya produktivitas sapi perah dapat dipengaruhi oleh keterbatasan peralatan dan kurangnya pengetahuan, sehingga program "Farmer2Farmer" ini diharapkan dapat memberikan semangat bagi peternak sapi perah di Indonesia."Masih ada kemungkinan kenaikan produksi dengan pengetahuan yang ada. Mungkin bisa naik sekitar 50%,”ungkapnya.

Dia mengakui, kondisi iklim tropis di Indonesia turut memengaruhi produktivitas sapi perah. Kendati demikian, dirinya optimistis produksi susu sapi perah di Indonesia bisa ditingkatkan menjadi 20-25 liter per sapi per hari jika perawatannya dilakukan dengan baik. Masalah lain adalah kondisi kandang yang basah. Padahal kondisi kandang harus kering karena jika basah, bakteri akan tumbuh dan bisa masuk ke puting susu saat sapi perah itu duduk di lantai, sehingga dapat menimbulkan penyakit masitis yang berdampak pada penurunan produksi susu.

Related posts