Indeks Sideways, Cermati Tiga Sektor

NERACA

Jakarta- Meski Indeks Harga Saham Gabungan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan mendatar (sideways), pelaku pasar dinilai dapat melakukan transaksi dengan cermat memilih sektor yang tercatat masih memiliki peluang tumbuh positif. Apalagi dengan adanya kenaikan suku bunga acuan (BI rate) oleh Bank Indonesia (BI) sebesar 25 basis points menjadi 7,25%. “Hingga akhir tahun ini kalau secara sektor, bisa dilihat sektor yang masih profitable seperti properti, banking, dan konstruksi.” katanya di Jakata kemarin.

Di akhir tahun ini, menurut dia, pergerakan IHSG diprediksi masih memiliki peluang penguatan, namun tidak secara signifikan. Apalagi untuk kembali menembus level 5000. Hal ini ditengarai dengan kondisi makro ekonomi yang belum mendukung. “Untuk mencapai target 5000 masih berat dalam posisi akhir tahun dengan currant account kita masih defisit.” ujarnya.

Terlebih, tahun depan Indonesia sudah memasuki tahun pemilihan umum (pemilu) yang akan mendorong investor lebih banyak wait and see untuk bertransaksi. Meski demikian, kata dia, untuk ketiga sektor yang dia sebutkan dapat diperhatikan investor karena meski dihadapkan pada kenaikan inflasi, upah minimum, dan tingkat suku bunga, ketiga sektor tidak berpengaruh sigifikan dibanding sektor lainnya seperti manufaktur. “Ketentuan kredit perumahan (KPR) memang memangkas pertumbuhan properti. Yang tinggi 10%. Tapi kita lihat laba bersihnya saat ini saja masih bisa tumbuh sekitar 30-40%.” jelasnya.

Diketahui, sektor properti pernah booming pada 1995 lalu, namun dalam dua tahun berikutnya sektor ini langsung jatuh karena krisis moneter. Dengan begitu bisa dikatakan, outlook sektor properti tidak bisa diprediksi kinerjanya dalam jangka panjang karena tentunya ada banyak faktor yang berpengaruh terhadap pendapatan dan laba perusahaan.

Meski demikian, pembangunan infrastruktur tentunya akan mampu meningkatkan nilai properti. Tengok saja Singapura, kualitas properti yang luar biasa ditopang dengan infrastruktur menjadikan sektor ini cukup menarik investor. Begitupun dengan Indonesia, khususnya Jakarta. Meski membutuhkan waktu yang tidak singkat, peluang pertumbuhan masih terbuka. Para pengembang properti pun mulai banyak membangun superblok-superblok sebagai penopang kinerjanya. “Dibanding laba sektor lainnya, tentu masih lebih baik.” ucapnya.

Sekadar informasi, di kuartal ketiga 2013 beberapa emiten pengembang properti masih meraup untung. PT Ciputra Properti Tbk (CTRP) misalnya, mencatatkan laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk naik menjadi Rp 343,82 miliar hingga kuartal ketiga 2013. Angka ini naik 141,36% dari periode sama tahun 2012 senilai Rp 142,45 miliar. Pendapatan perseroan naik 149,95% menjadi Rp 1,1 triliun hingga kuartal ketiga 2013. Perseroan memperoleh kenaikan laba dari kurs menjadi Rp 23,8 miliar hingga kuartal ketiga 2013 dari periode sama tahun 2012 senilai Rp 874,65 juta. (lia)

Related posts