BI Klaim Perbankan Mampu Jaga Risiko Kredit Bermasalah - Kala Krisis Melanda

NERACA

Jakarta - Bank Indonesia (BI) percaya diri jika sektor perbankan merupakan salah satu sektor keuangan yang tahan terhadap krisis ekonomi. Pada krisis ekonomi beberapa waktu lalu terutama sejak 2008, perekonomian Indonesia cukup tahan terhadap 'pukulan' krisis, salah satu yang bisa tahan adalah sektor perbankan yang sangat kuat untuk menahan risiko pasar. Deputi Gubernur BI Halim Alamsyah mengatakan sektor perbankan mampu menjaga risiko kredit bermasalah di saat perekonomian tengah mengalami guncangan. Likuiditas pun tetap terjaga.

"Situasi perbankan lebih positif. Risiko kredit dan likuiditas cenderung lebih baik. Risiko kredit karena naiknya NPL dan likuiditas karena penarikan uang masih relatif di tingkat moderat. Ketika ekonomi global gonjang-ganjing, ekonomi Indonesia masih tumbuh," kata dia, dalam acara International Symposium on Audit Bank Efficiency di Gedung BPK Jakarta, Kamis (31/10).

Selain itu, lanjut dia, nilai tukar rupiah yang mulai stabil menunjukkan jika perekonomian Indonesia mulai pulih. Ditambah, di bulan September ada deflasi. Diprediksi, untuk bulan November inflasi masih akan terkendali di angka 0,1-0,2%.

"Kondisi kita sudah mulai masuk wilayak keseimbangan. Rupiah stabil di angka di bawah Rp11.000. Yield SBN menurun. September deflasi. Cadangan devisa BI cukup. Ini menunjukkan kondisi ekonomi Indonesia membaik," ujar Halim.

Namun, di sisi lain, Halim menjelaskan bahwa rasio kredit Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) relatif masih rendah dibanding negara-negara tetangga."Saya akan membandingkan Indonesia dengan negara-negara lain. Rasio kredit terhadap PDB, Indonesia salah satu negara tertinggal dibandingkan Malaysia, Thailand dan Singapura, rasio kredit terhadap PDB Indonesia masih rendah," ungkap dia.

Sebelumnya, terkait dengan pertumbuhan kredit perbankan, BI memperkirakan tahun depan pertumbuhan kredit perbankan akan terus melambat. Selain itu, rasio kredit macet atau nonperforming loan (NPL) juga diprediksi akan meningkat.

Menurut Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo, pertumbuhan kredit tahun depan diprediksi berkisar di level 15,3%-16,6%, sedangkan rasio kredit macet berada pada kisaran 2,8%-3,1%. Melambatnya pertumbuhan kredit tidak terlepas dari masih melambatnya pertumbuhan ekonomi akibat pengaruh faktor internal dan eksternal. Apalagi tahun depan masih ada upaya stabilisasi yang dilakukan BI, di antaranya untuk menjaga agar defisit transaksi berjalan berada pada tingkat perbaikan yang berkesinambungan. Selain itu, kondisi tingkat bunga jauh lebih tinggi.

“Ini membuat pertumbuhan kredit tahun depan diprediksi sekitar 15,3%-16,6% sedangkan NPL sekitar 2,8%-3,1%. Namun, ini masih aman,” katanya. Seperti diketahui, BI telah menerbitkan peraturan Giro Wajib Minimum Sekunder dan Loan to Deposit Ratio (LDR) atau rasio kredit terhadap Dana Pihak Ketiga (DPK). Hal ini dilakukan untuk menghadapi risiko ketidakseimbangan ekonomi saat ini.

Agus mengimbau, perbankan sebaiknya mencermati risiko makro ekonomi yang dapat meningkatkan risiko kredit perbankan. Oleh karena itu, BI sudah meminta bank-bank mengendalikan laju pertumbuhan kredit tahun ini. Pada awalnya, bank menargetkan pertumbuhan kredit di kisaran 23%, tetapi kemudian menjadi 20%.

“Bank-bank boleh bertumbuh di atas 20% asalkan disesuaikan dengan ekonomi riil dan ketahanan modal. Namun, pertumbuhan kredit harus direm untuk sektor-sektor ekonomi yang berkontribusi pada peningkatan impor,” tutur Agus. [mohar]

Related posts