Laba Dharma Satya Nusantara Anjlok 36,5% - Ditengarai Kerugian Kurs Rp95,2 Miliar

NERACA

Jakarta- PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) mencatatkan laba bersih hingga September 2013 sebesar Rp 123,3 miliar, turun 36,5% dibandingkan perolehan laba bersih pada periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp194,1 miliar. Hal ini ditengarai melemahnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang dolar Amerika Serikat (AS) sehingga menyebabkan kerugian kurs yang belum terealisasi. “Penurunan ini merupakan akibat dari kerugian yang kurs belum terealisasi sebesar Rp 95,2 miliar.” kata Presiden Direktur Dharma Satya Nusantara Tbk, Djojo Boentoro di Jakarta, Kamis (31/10).

Meski demikian, sambung dia, perseroan mencatatkan kenaikan produksi CPO menjadi 232.702 ton sampai dengan September 2013 sebesar 30,6% dari periode yang sama tahun sebelumnya dengan total volume penjualan CPO sebesar 239.481 ton. Sementara produksi Tandan Buah Segar (TBS) dari perkebunan inti mupun plasma meningkat 26%, atau menjadi 885.481 ton dari produksi TBS sampai dengan September 2012 sebesar 702.751 ton.

Menurut dia, kenaikan produksi Tandan Buah Segar tersebut disebabkan area perkebunan yang memasuki usia produktif dan juga umur rata-rata tanaman. Hingga September 2013 perseroan telah melakukan penanaman baru sebesar 5.741 hektar dari target penanaman baru sampai dengan akhir 2013 sebesar 8.000 hektar. “Per September 2013, Perseroan mengelola 48.470 hektare area tanam produktif, naik dari 42.333 hektar area tanam produktif pada Desember 2012.” jelasnya.

Kenaikan produksi tersebut, kata dia, menjadi strategi perseroan untuk mengatasi dampak penurunan harga CPO pada tahun ini. Alhasil, penjualan bersih yang dicatatkan perseroan mencapai Rp 2,68 triliun dalam sembilan bulan berjalan sampai September 2013 naik 4.5% dibandingkan September 2012 sebesar Rp 2,56 triliun. Sementara harga jual rata-rata CPO sepanjang sembilan bulan tahun 2013 turun 9,3% menjadi Rp 6,67 juta per ton dari harga jual rata-rata tahun 2012 sebesar Rp 7,29 juta per ton. “Kontribusi penjualan dari sektor perkebunan tercatat sebesar Rp 1,6 triliun atau ekuivalen dengan 61,6% dari total penjualan bersih.” ujarnya.

Selain meningkatkan produksi CPO, pihaknya juga menyiasati kondisi melemahnya kinerja komoditas dengan menekan beban pokok penjualan per ton CPO dari Rp 4,7 juta per ton pada 2012 menjadi Rp 4,5 juta per ton pada 2013. “Secara keseluruhan kami mampu menjaga efisiensi operasional kami di tengah penurunan harga CPO sehingga performa keuangan kami di kuartal ketiga 2013 cukup baik. Marjin laba kotor kami juga stabil pada kisaran 28%”, imbuhnya.

Sementara dari segmen produk kayu, perseroan berhasil memperoleh harga jual rata-rata yang lebih tinggi untuk produk-produk Panel, Engineered Door dan Engineered Flooring. Total penjualan dari segmen produk kayu ini sampai dengan September 2013 menyumbangkan sebesar 38,4% terhadap total penjualan perseroan, atau setara dengan Rp 1 triliun.

Diketahui, dalam laporan keuangan perseroan 2013, perseroan mencatatkan laba usaha hingga September 2013 tercatat sebesar Rp 391,3 miliar, naik tipis sebesar 1% dibandingkan laba usaha pada periode yang sama tahun 2012 sebesar Rp 387,9 miliar. Marjin laba usaha turun menjadi 14,6% jika dibandingkan dengan marjin laba usaha sebesar 15,1% pada 2012.

Total aktiva perseroan pada 30 September 2013 sebesar Rp 5,902 triliun, naik 15% dibandingkan total aktiva pada 31 Desember 2012 sebesar Rp 5,141 triliun. Adapun total ekuitas per 30 September 2013 sebesar Rp 1,915 triliun, naik 36% dibandingkan total ekuitas pada periode yang sama tahun 2012 sebesar Rp 1,406 triliun. (lia)

Related posts