Perikanan Bisa Diandalkan Untuk Ketahanan Pangan

NERACA

Jakarta - Food and Agriculture Organization (FAO) dalam laporannya menyatakan produk perikanan merupakan sumber protein hewani yang universal, tidak menimbulkan penyakit, mencerdaskan dan menyehatkan. Bahkan data Organisasi Dunia FAO ini, melansir sejak tahun 2011 untuk pertama kalinya produksi perikanan budidaya dunia, telah melampaui produksi daging sapi. Tahun 2012, produksi perikanan budidaya dunia telah mencapai 66 juta ton, melebihi produksi daging sapi yang hanya 63 juta ton.

"Ini membuktikan bahwa sektor kelautan dan perikanan semakin dapat diandalkan untuk mendukung ketahanan pangan, termasuk Indonesia. Data ini juga menjadi dasar bahwa perikanan merupakan pilar untuk meningkatkan ketahanan pangan dunia,” kata disampaikan Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif C. Sutardjo, di Jakarta, dalam keterangan yang dikutip, Kamis (31/10).

Menurut Sharif, hingga saat ini kontribusi sektor kelautan dan perikanan terhadap ketahanan pangan nasional cukup besar. Bahkan potensi produk perikanan yang berada di kawasan Samudra Pasifik akan menjadi alternatif untuk ketahanan pangan dunia. Untuk itu Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus mendorong ahli ekonomi untuk berpaling kepada sumber daya kelautan dan perikanan demi pembangunan food security atau ketahanan pangan dunia di masa depan.

Apalagi sebanyak dua pertiga atau 70% produk perikanan terdapat dikawasan Asia Pasifik. Dikawasan ini, untuk perikanan skala kecil saja mampu menghidupi sedikitnya 357 juta orang. “Untuk itu sangat tepat, jika event seperti Indonesia Seafood Expo (ISE) yang hari ini diselenggarakan, sebagai upaya kampanye makan ikan,” katanya.

ISE merupakan pameran perikanan dan seafood terbesar di Indonesia. Tujuan penyelenggaraan ISE untuk mempromosikan produk-produk dan teknologi kelautan dan perikanan kepada para investor, buyers dan masyarakat umum. Khusus masyarakat umum, melalui penyelenggaraan ISE diharapkan akan mengedukasi masyarakat tentang ikan dan produk olahannya sehingga masyarakat akan gemar mengkonsumsi ikan.

Pameran juga sebagai media kampanye guna memberikan edukasi lebih intensif kepada masyarakat luas mengenai pentingnya mengkonsumsi seafood. Terutama untuk kesehatan dan pemenuhan kebutuhan gizi keluarga. “Kami sangat menyambut baik kampanye ini, karena hal itu sangat bersinergi dengan program Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan) yang sudah dijalankan KKP selama ini,” ujarnya.

ISE 2013 diikuti seluruh provinsi di Indonesia. Peserta akan menampilkan aneka produk olahan hasil perikanan unggulan berbasis utamanya dari komoditas Industrialisasi Perikanan. ISE 2013 selenggarakan sebagai rangkaian kegiatan Hari Nusantara tahun 2013 dan mendukung usulan Hari Ikan Nasional yang disuarakan oleh Para Pemangku Kepentingan di Sektor Perikanan dan Organisasi Masyarakat.

Event tersebut juga akan diselenggarakan bersinergi dengan penyelenggaraan pameran Indonesia Halal Expo (INDHEX), Pameran Produk Perikanan Nonkonsumsi, Lomba Masak Serba Ikan Tingkat Nasional ke-11, Kontes Ikan Mas Koki Nasional dan Demo Pengolahan Produk Perikanan. “Lomba Masak Serba Ikan Tingkat Nasional ke-11 adalah event kecakapan memasak tahunan yang diselenggarakan secara berjenjang dari Tingkat Kabupaten/Kota, Provinsi Hingga Nasional,” tambahnya.

Sementara itu, terkait dengan produksi perikanan, sebelumnya, KKP telah menetapkan target produksi ikan pada 2014 sebesar 20,05 juta ton. Terdiri dari perikanan tangkap sebesar 6,08 juta ton dan perikanan budidaya sebesar 13,97 juta ton. Komoditi udang dan tuna masih menjadi tumpuan untuk target produksi. KKP juga menargetkan pencapaian angka pertumbuhan PDB perikanan 2014 sebesar 7,25 % atau naik 0,77% dari tahun sebelumnya.

Sharif menjelaskan, target tersebut tidak terlepas dari pencapaian positif target 2013. Apalagi, program industrialisasi kelautan dan perikanan dengan pendekatan blue economy yang dicanangkan KKP menunjukkan perkembangan positif. Tercatat, nilai ekspor perikanan semester I 2013 mencapai US$ 1,97 juta dengan volume 621,7 ribu ton. Data ini berarti terjadi kenaikan produksi ikan 4,2 % dan untuk volume perdagangan naik 5,3 %.

Komoditi udang masih menjadi primadona ekspor dengan menyumbang 36,7 % atau US$ 723,6 juta. Sedangkan negara tujuan ekspor masih tertuju pada negara AS, Jepang, Uni Eropa dan China. “Dari data ini berarti nilai perdagangan produk perikanan surplus 1,78 miliar dolar atau naik 3,5 % dari tahun sebelumnya,” jelasnya.

Related posts