Baiknya Buat Pabrik Sendiri

Andhika Anindyaguna:

Baiknya Buat Pabrik Sendiri

Jiwa nasionalisme yang berwawasan kebangsaan, secara organisatoris sudah merasuk di Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi). Agar menjadi pengusaha yang berwawasan kebangsaan, para anggota dan pengurus setidaknya mendapat tiga materi pelatihan, yaitu bidang ekonomi, masalah kebangsaan, dan tentang ke-Hipmi-an.

Dengan demikian, kata Presiden Direktur PT Sugih Energy (Tbk) Andhika Anindyaguna, para pengusaha muda Hipmi akan lebih mengutamakan cinta produk dalam negeri dari pada impor. Berikut penuturan Andhika yang juga ketua umum Hipmi Jaya kepada Neraca.

Trendnya para pengusaha muda sekarang, membuat inovasi baru atau menjadi bagian dari pemasaran produk asing?

Yang idealnya, kita bisa membuat produk sendiri. Kita jangan hanya menjadi market dari produk asing. Produk kita harus bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Indonesia harus bisa memproduksi sendiri, tak masalah jika harus dibiayai dari investasi asing. Kita harus menjadi bangsa yang produktif, bukan bangsa yang konsumtif. Meskipun idenya dari asing. Lebih baik kita bikin pabrik dengan modal dari asing dari pada kita membeli produk dari luar negeri.

Trend usaha para anggota Hipmi di Jakarta apa saja?

Trendnya beragam ke arah industri kreatif, itu trendnya, mulai dari fashion, desain, IT, kuliner dan sebagainya.

Sektor lain? Infrastuktur misalnya?

Untuk yang pemula, memang arahnya ke industri kreatif, karena membutuhkan modal yang tak begitu besar. Tapi kami akui juga ada sebagian teman-teman yang sudah mulai menggeluti sektor infrastuktur maupun pertambangan. Tapi hanya beberapa karena memang membutuhkan modal yang besar.

Sektor industri kretif itu itu selain membutuhkan modal yang tak terlalu besar, tapi prospeknya cukup menjanjikan. Kuliner atau restoran misalnya, mengapa yang besar itu harus Kentucky, mengapa bukan ayam bakar produk lokal yang bisa menjadi besar? Itu tantangannya.

Apa kendala yang dihadapi para pengusaha muda?

Pertama masalah pembiayaan, kedua pemasaran. Kadang barang sama dengan yang dari luar negeri, tapi kemasannya kita sering kalah. Ketiga, teknologi. Sekarang era teknologi, teknologi dapat menekan biaya. Kalau penerapannya tepat, bisa efektif. Kita ingin mendorong pelaku usaha baru agar mengenal teknologi.

Selain itu, satu lagi, yaitu keempat, masalah kewirausahaan (entrepreneurship). Perlu insentif untuk menumbuhkan jiwa entrepreneurship. Ini masalah spirit atau jiwa. Sehingga muncul banyak entrepreneur di seluruh Indonesia. Itu sejalan dengan cita-cita Hipmi untuk mencetak wirausaha baru sebanyak-banyaknya di seluruh penjuru Nusantara.

Bagaimana dengan program mencetak seribu wirausaha baru?

Itu jalan terus. Jumlahnya memang masih kurang, tapi kita usahakan terus untuk menambah jumlah wirausaha baru. Data terakhir belum sampai 1%, masih rendah. Tapi kita optimistis sebab gerakan wira usaha sudah mulai diminati para generasi muda baik di perguruan tinggi maupun di bangku sekolah. Sehingga ke depan akan meningkat cepat. Angka pengangguran relatif mulai turun karena munculnya wirausaha baru. Kontribusinya sangat besar, yaitu mampu mengurangi jumlah pengangguran. (saksono)

Related posts