Kemenag Ditekan BPIH Jangan Naik

Kemenag Ditekan BPIH Jangan Naik

Jakarta---Pembahasan Biaya Parjalanan Ibadah Haji (BPIH) tahun 1432H/2011 belum mencapai kesepakatan. Komisi VIII DPR tetap bertahan agar BPIH tahun 2011 ini tidak naik. Jika perlu, BPIH harus turun. “Maunya pemerintah naik, dari Rp 29,5 juta menjadi Rp 34 juta. Tahun 2010 lalu, kita turunan dari Rp 35 juta (BPIH 2009) menjadi 30 juta pada 2010. Sekarang pemerintah naik lagi. Kita minta turun,” kata anggota Komisi VIII DPR, H.M Busro di Jakarta Kamis (14/7).

Lebih jauh kata Busro, DPR mayoritas sepakat tak ada kenaikkan. Namun jika Kementrian Agama tetap ngotot, maka takkan ada persetujuan terhadap BPIH yang baru. “Nggak boleh naik. Kita tidak akan sepakati kalau naik. Kalau bisa harus turun. Atau paling tidak, biayanya sama dengan BPIH tahun lalu,” tambahnya.

Sebagai informasi, pemerintah telah mengusulkan BPIH 2011 kepada DPR sebesar US$ 3.847 atau sekitar Rp 34.623.000 dengan acuan US$1 setara Rp 9.000. BPIH usulan pemerintah ini naik sebesar US$ 505 ketimbang BPIH tahun 2010 lalu. Saat itu, pemerintah menetapkan BPIH sebesar US$3342 atau sekitar Rp31.080.600.

Menurut Busro, tidak ada alasan untuk menaikan BPIH. Karena masih banyak pos yang bisa dikurangi sehingga BPIH tidak terlalu besar. “Jadi, masih ada ruang rasionalisasi dari berbagai komponen BPIH,” jelasnya.

Rasionalisasi, kata Busro, bisa dimulai dari biaya penerbangan, pemondokan, catering.Sektor ini bisa banyak dilakukan efisiensi. “Kalau pemerintah serius, banyak pos yang dikurangi. Banyak data yang ngawur. Kita sedang mengurangi biaya indirect cost dari dana optimalisasi sekitar Rp 1,6 triliun karena sudah direct cost yang sudah dibayar langsung oleh jamaah haji,” ujarnya.

Beberapa waktu lalu, anggota F Hanura DPR, Abdillah Fauzi Achmad pernah membuat perhitungan secara akutansi soal dana awal setoran haji yang jumlahnya meningkat dari Rp 20 juta menjadi Rp 25 juta. “Jika dihitung setoran awal Rp 20 juta saja maka diperkirakan sudah terkumpul Rp 24 triliun. Bisa dibayangkan kalau sekarang setoran awal haji Rp 25 juta maka uang setoran haji meningkat jadi Rp 30 triliun,” jelasnya.

Namun kata Fauzi, argumentasi kenaikan setoran awal haji tidak masuk akal dan mengada-ngada. Hal ini mengesankan, pemerintah hanya ingin memperbesar bunga tabungan setoran awal jamaah haji. “Kebijakan menaikan setoran awal ini adalah ngawur dan salah kaprah. Sebab dengan pemberlakuan ketentuan ini maka rekening tabungan haji yang diatasnamakan Mentri Agama tersebut semakin mengegelembung,” urainya.

Berdasarkan data, setoran awal ongkos haji sudah terkumpul sekitar Rp 35 triliun dan bunganya sekitar Rp 1,6 triliun. Dari jumlah itu. Rp 2 triliun berbentuk rekening giro, sebagian dalam bentuk deposito, dan Rp 20 triliun lagi ditaruh "dalam sukuk (obligasi syariah yang diterbitkan pemerintah). Tabungan dana setoran awal tersebut akan mendapat bunga sekitar Rp 1,7 triliun (7,5%) per tahun. **cahyo

BERITA TERKAIT

Pungutan Pajak E-Commerce Jangan Berlebihan - EKONOM DAN PENGUSAHA MINTA PEMERINTAH LEBIH BIJAK

Jakarta- Direktur Eksekutif dari Economic Action Indonesia (EconAct) Ronny P Sasmita menegaskan,  pemerintah harus berhati-hati dalam menentukan objek pajak di…

Aset Bank Sulutgo Naik 11%

    NERACA   Manado - Aset Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Utara Gorontalo (SulutGo) mengalami peningkatan sebesar 11,01 persen pada…

Konsumsi Listrik Terus Naik

    NERACA   Jakarta - PT PLN (Persero) mencatat konsumsi listrik terus mengalami kenaikan yang ditandai peningkatan saat beban…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Darmin Prediksi Inflasi Dibawah 4%

      NERACA   Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan laju inflasi Indonesia bergerak ke arah…

Menkeu : Proyeksi IMF Berikan Kewaspadaan

      NERACA   Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan proyeksi pertumbuhan ekonomi global Dana Moneter Internasional…

Sumbangan Devisa Pariwisata Masih Terbatas

      NERACA   Padang - Bank Indonesia (BI) menilai sumbangan sektor pariwisata terhadap cadangan devisa Indonesia, masih relatif…