Jogya yang Istimewa

Jumat, 25/10/2013

Oleh : Kencana Sari, SKM., MPH

Peneliti di Balitbangkes, Kemenkes RI

Dua hari terakhir merupakan salah satu hari yang membahagiakan bagi masyarakat Jogya. Menikahnya putri bungsu sang raja, dijadikan salah satu momen berpesta oleh rakyatnya. Tanpa rasa ragu dan berat, rakyat Jogya yang dengan sukarelanya menyediakan berbagai kudapan untuk memeriahkan pesta tersebut. Bahkan dari mereka pun ada yang beriuran Rp 10.000 untuk membuat makanannya sebagai bentuk bakti rakyat kepada rajanya. Siapa pun yang datang memenuhi jalan Malioboropun boleh menikmati sediaan dengan gratis. Dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.

Rasa cinta rakyat kepada rajanya serta perhatian dan kesederhanaan pimpinan Jogya kepada rakyatnya membuat daerah ini lain daripada yang lain. Melalui semboyannya “Jogya Sehat”, provinsi ini mempunyai visi sebagai provinsi dengan status kesehatan masyarakat yang tinggi sejajar dengan negara-negara “maju” di Asia Tenggara. Visi ini pun terwujud dengan status kesehatan masyarakatnya yang paling baik se-Indonesia.

Hal itu dibuktikan pada hasil survei Riset Kesehatan Dasar 2010, Jogya mempunyai prestasi paling baik dalam capaian indikator-indikator bidang kesehatan. Diantaranya adalah status gizi balita paling baik dengan gizi buruk terendah, yaitu 1.4% dan status balita pendek dan sangat pendek terendah yaitu 22,5%. Jogja berhasil mencapai cakupan imunisasi dasar lengkap tertinggi yaitu 91.9% dibanding cakupan nasional yang hanya 53.8%.

Kuat dugaan kesadaran masyarakatnya yang sudah tinggi untuk berobat ke fasilitas kesehatan dan mudahnya akses ke fasilitas kesehatan, membuat Jogya juga mempunyai prestasi yang baik terkait dengan pelayanan di fasilitas kesehatan. Di tahun 2010, 94.5% ibu melahirkan di fasilitas kesehatan, dan hanya 5.2% yang melahirkan dirumah. Padahal di Indonesia masih 43% yang melahirkan anaknya di rumah.

Studi Riset Fasilitas Kesehatan tahun 2011 juga menunjukkan bahwa pelaksanaan kegiatan program kesehatan di Jogja termasuk propinsi yang paling baik se Indonesia baik untuk kegiatan promosi kesehatan, kesehatan lingkungan, kesehatan anak, kesehatan ibu, dll. Selain itu pengawasan, evaluasi dan bimbingan program juga paling merupakan deretan provinsi atas dalam hal pelaksanaan supervisi, memberikan umpan balik, dan pelaksanaan pertemuan.

Laporan Survei Kesehatan Demografi tahun 2012 juga menunjukkan bahwa Jogya mempunyai nilai gini koefisien kedua terendah di Indonesia, yaitu 0,09. Gini koefisien merupakan salah satu alat ukur untuk melihat kesenjangan ekonomi di suatu daerah. Angka koefisien Gini berkisar antara 0-1. Daerah yang mengalami ketidakmerataan tinggi berkisar antara 0,50 – 0,70; ketidakmerataan sedang antara 0,36 – 0,49; dan yang mengalami ketidakmerataan rendah berkisar antara 0,20 – 0,35. Bebagai studi menunjukkan bahwa semakin tinggi kesenjangan ekonomi di suatu daerah maka akan memperburuk status kesehatan dan masalah sosial di daerah tersebut, mulai dari umur harapan hidup, angka kematian bayi, obesitas, kesehatan mental, dan lain-lain. Jogya juga mempunyai umur harapan hidup paling tinggi di Indonesia hingga mencapai angka 74,7 tahun.

Salah satu misi “Jogya Sehat” adalah menyediakan pelayanan kesehatan secara merata. Hal ini mencerminkan bahwa pemerintah daerah mengedepankan pemerataan guna mengurangi kesenjangan terutama dalam pemberian pelayanan kesehatan terhadap masyarakatnya. Hal itu pula yang mungkin juga berpengaruh terhadap kondisi kesehatan masyarakat Jogya.

Perlu lebih banyak digali lagi apa yang menjadi faktor-faktor keberhasilan Jogya dalam menjaga status masyarakatnya yang sehat. Daerah lain mungkin bisa belajar dari daerah istimewa ini untuk meningkatkan kesejahteraan dan kesehatan masyarakatnya.