Risiko Impor Pangan

Kamis, 24/10/2013

Di tengah perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini, persoalan impor pangan tampaknya masih sulit diatasi pemerintah. Selain terus membebani defisit neraca perdagangan Indonesia, impor pangan yang semakin deras belakangan ini menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat di negeri ini.

Ironis memang, dari kajian IPB terungkap dari sekitar 225 produk pertanian yang dijual di pasar swalayan, diantaranya 70%-80% merupakan produk impor. Terdapat kecenderungan bahwa impor produk-produk pertanian terus meningkat. Untuk jangka panjang, kondisi ini tidaklah bagus. Selain dapat mengancam kedaulatan pangan dan kehidupan lebih dari 50 juta rakyat Indonesia, hal ini juga berpotensi membawa risiko terhadap kesehatan manusia bila kapabilitas institusi di negeri ini lemah dalam pengawasannya.

Meski terdapat aturan WTO terkait importasi pangan bahwa kita bisa menolak masuknya pangan dari luar bila produk tidak memenuhi ketentuan WTO khususnya terkait technical barrier to trade (TBT agreement) dan sanitary and phytosanitary (SPS agreement), susah kita membendung masuknya produk tersebut. Ini karena keterbatasan dan masih lemahnya instrumen pengawasan di banyak pintu masuk.

Begitu juga dengan dukungan tiga peraturan Menteri Pertanian, yaitu No 88/2011, No 89/2011, dan No 90/2011, serta pembatasan pintu masuk bagi impor 47 komoditas buah dan sayuran menjadi hanya empat, yaitu Bandara Soekarno-Hatta, Belawan, Tanjung Perak, dan Makassar. tidaklah akan mampu membendung masuknya produk impor. Bahkan, ketiga permentan tersebut ternyata diprotes juga oleh importir Indonesia sendiri.

Salah satu cara membatasi membanjirnya produk impor adalah dengan mencerdaskan konsumen Indonesia da lam memilih produk yang akan dibeli nya. Informasi mengenai risiko bahaya dari produk impor serta mengenai keunggulan produk asli Indonesia perlu disampaikan kepada mereka.

Terkait produk buah-buahan dan sayuran impor, di balik penampilan serta mutu fisik lainnya yang memikat, sesungguhnya terdapat risiko yang mungkin dalam beberapa kasus baru akan dirasakan dalam jangka lama. Sudah menjadi rahasia umum, dalam sistem pertanian modern, petani di negara manapun sudah sangat bergantung pada pupuk kimia dan pestisida sintetis.

Dari berbagai studi menunjukkan bahwa meski penggunaan pestisida dilakukan dengan ketat sehingga residu yang tertinggal di bawah ambang batas, tetap berisiko. Paparan terus-menerus sejak masa kehamilan dapat menyebabkan risiko berbagai kanker dan mengganggu perkembangan kognitif anak yang dilahirkan.

Telah dilaporkan pula, pestisida dari golongan organophosphat yang bersifat antiandrogenik menyebabkan demasculinization, yaitu hilangnya sifat-sifat maskulin pada kaum pria. Dalam praktik di rantai pemasok buah-buahan di negara modern sudah sangat umum buah-buahan, seperti apel, alpukat, dilapisi lilin (wax) untuk mencegah penguapan yang berlebih. Sudah sangat umum pada lilin tersebut ditambahkan suatu fungisida yang ternyata juga bersifat antiandrogenik.

Pada produk daging yang diimpor juga terdapat risiko kemungkinan mengandung penyakit zoonosis, yaitu penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia, misalnya, sapi gila, antraks, dan flu burung. Risiko daging dari produk impor mengandung penyakit tersebut sangat dimungkinkan mengingat pola pemeliharaan yang menyalahi kodrat dari binatang itu sendiri.

Sebenarnya produk lokal, seperti buah-buahan dan ternak asli Indonesia, mempunyai banyak keunggulan dan bebas dari risiko bahaya tersebut, Karena banyak buah asli Indonesia belum dibudidayakan dengan serius. Tanaman-tanaman, seperti manggis, salak, nangka, dibiarkan saja di kebun-kebun, di belakang rumah, di hutan-hutan, tanpa dipupuk atau disemprot pestisida. Dengan demikian, risiko terpapar oleh pestisida dan bahan kimia lain sangat kecil atau dapat dikatakan organic by neglected. Karena itu masyarakat Indonesia perlu mewaspadainya risiko pangan impor tersebut.