BEI Siap Mengejar Ketertinggalan

Kalah Dari Malaysia

Kamis, 24/10/2013

NERACA

Jakarta – Tidak mau kalah dari Malaysia, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) berusaha mengejar ketinggalannya dari negeri jiran dalam kapitalisasi pasar (market capitalization). Padahal sebelumnya, pasar modal Indonesia justru unggul dari pasar modal Malaysia. Dua hal yang memicu penurunan kinerja pasar modal Indonesia, penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan indeks yang berdampak terhadap indeks harga saham gabungan (IHSG).

Direktur Teknologi Informasi dan Manajemen Resiko BEI Adikin Basirun mengungkapkan bahwa kurangnya pemahaman masyarakat di luar pulau Jawa terhadap informasi-informasi mengenai pasar modal menjadi pokok masalah masih banyaknya masyarakat yang belum mengerti prinsip investasi melalui produk saham. Sehingga, BEI akan lebih giat lagi memberikan sosialisasi dan edukasi. “Hal ini menjadi alasan penetrasi pasar modal menjadi lamban. Pada market cap kita berada diposisi ketiga dari belakang dengan total US$410 juta. Sementara berdasarkan GDP ratio di Asia kita diposisi kedua dari belakang”, jelas dia di Jakarta, Rabu (23/10).

Selain itu pemahaman investor ritel mengenai investasi di pasar modal juga berbeda dengan investor institusu yang melihat saham berdasarkan kinerja perseroan. Dia menilai banyak investor ritel dalam melakukan transaksi melihat dari hari ke hari, sehingga hal ini perlu diperbaiki agar struktur investor domestik semakin kuat.

Padahal, kapitalisasi pasar Bursa Indonesia hingga September 2013 tercatat mencapai US$394 miliar, dimana dari tahun ke tahunnya tercatat tumbuh sebesar 30%. Dia menyebutkan hal ini seharusnya menjadi indikator yang bisa menarik investor untuk menanamkan investasinya di BEI.

Lambannya penetrasi pasal modal juga dapat dilihat dalam profil investasi, dimana sekitar 80% investasi berasal dari institusi, sedangkan sisanya retail. Sedikitnya porsi retail karena masih dibutuhkan sosialisasi lebih dalam kepada masyarakat mengenai industri pasar modal.

Dia mengakui bahwa pemahaman melalui edukasi pasar modal ke masyarakat masih sangat minim, oleh karena itu perlu tatap muka antara calon nasabah dengan perusahaan efek yang dituju. Dia menyebutkan aksesibilitas menjadi tantangan terbesar investor lokal dengan 90% berasal dari pulau Jawa. Padahal sejak 1992, meskipun pergerakan IHSG masih datar, terdapat titik balik pada 2002 yang memperlihatkan indeks terus melaju. “Kecuali 2008 yang sempat turun hingga minus 50% lebih. Selebihnya positif. 2009 saja kembali tumbuh hingga 86%”, ujarnya.

Sehingga yang perlu diperkuat adalah akses informasi secara terpadu dan akurat ke masyarakat, karena informasi merupakan nyawa aktivitas bursa saham. Informasi yang akurat menjadi pemicu masuknya dana masyarakat ke bursa saham.“Ada banyak info beredar, kadang sulit diakses. Makanya kehadiran IDN Finacials dan beberapa portal sejenis dengan akses data yang muda dan user friendly bisa membantu investor dan masyarakat untuk semakin melek pasar modal”, jelas dia. (nurul)