Perjanjian CEPA Didorong Agar Ekonomi Terdongkrak - Uni Eropa-Indonesia

NERACA

Jakarta - Para pemimpin bisnis Uni Eropa mendesak Pemerintah Indonesia dan Uni Eropa segera memulai negosiasi Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif (Comprehensive Economic Partnership Agreement/CEPA). Dengan begitu nilai investasi dari Eropa dapat segera masuk ke Indonesia dalam jumlah besar. Hasilnya perekonomian kedua belah pihak diyakini akan cepat terdongkrak.

“UE merupakan pasar ekspor kedua terbesar bagi Indonesia sekaligus menjadi investor terbesar kedua di Indonesia. Saya yakin kedua belah pihak akan mendapat manfaat dari kesepakatan kemitraan ekonomi komprehensif. Hal ini juga dapat mempererat hubungan perdagangan Indonesua dengan UE dengan situasi yang saling menguntungkan. Mengingat Indonesia dan UE memiliki pola ekonomi yang saling melengkapi,” kata Duta Besar Terpilih Uni Eropa untuk Indonesia, Brunei Darussalam dan ASEAN, Olof Skoog, di Jakarta, Selasa (22/10).

Dia mengatakan, pada tahun lalu, Indonesia menikmati surplus perdagangan hingga EUR5,7 miliar dengan Uni Eropa. Oleh karena itu, dirinya mendorong Pemerintah Indonesia agar segera membuat sebuah kesepakatan untuk meningkatkan perdagangan dengan peningkatan akses terhadap pasar.

“Yang tidak kalah penting, hal ini akan menarik lebih banyak lagi investasi Eropa ke Indonesia. Karena tersedianya kerangka regulasi yang transparan dan terprediksi melalui CEPA,” tambahnya. Olof menjelaskan meskipun Indonesia adalah ekonomi terbesar di ASEAN namun keseluruhan perdagangan bilateral Uni Eropa dengan Indonesia, sejak 2004-2010, hanya mampu mencapai EUR25 miliar. Menurut dia, angka itu masih jauh di bawah beberapa negara tetangga lain di kawasan Asia Tenggara, seperti Singapura yang mampu mencapai EUR52 miliar, Malaysia EUR35 miliar dan Thailand EUR32 miliar.

“Meskipun Uni Eropa merupakan salah satu sumber FDI (foreign direct investment/aliran investasi langsung) terbesar bagi Indonesia selama periode 2004-2010, faktanya Indonesia hanya menerima 1,6 % dari semua FDI Uni Eropa ke Asia. Bahkan hanya 6% dari semua investasi UE yang mengalir ke kawasan ASEAN,” tutur Olof.

Investor kedua terbesar

Pada kesempatan yang sama, Deputi Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Bidang Kerjasama Investasi, Achmad Kurniadi, mengatakan pihaknya menyambut baik rencana Uni Eropa yang akan menjalin kerja sama bisnis, khususnya dalam hal investasi di Indonesia. Menurut dia, Uni Eropa merupakan mitra yang baik dalam hal berinvestasi. Bahkan telah menjadi investor kedua terbesar dalam perekonomian Indonesia.

“Dalam beberapa tahun terakhir, diperkirakan ada 1.000 perusahaan Eropa yang telah berinvestasi dengan nilai sekitar EUR130 miliar. Secara tidak langsung juga sudah menyerap 1,1 juta tenaga kerja Indonesia,” kata Achmad. Lebih lanjut dirinya menjelaskan, meskipun Uni Eropa tengah dilanda krisis ekonomi yang hebat namun tidak menyurutkan iklim investasi di Benua Biru tersebut.

Dia menuturkan, pada 2011, investasi dari Uni Eropa yang masuk secara langsung ke Indonesia mencapai US$3,8 miliar. Bahkan pada kuartal I 2012, aliran investasi yang masuk langsung dari Uni Eropa nilainya mencapai US$690 juta. “Saya melihat Uni Eropa memiliki konsistensi yang kuat dalam hal berinvestasi khususnya di Indonsia. Umumnya mereka menanamkan modalnya di industri tranpsortasi, pergudangan, komunikasi, kimia, farmasi dan makanan,” tutur Achmad.

Indonesia jadi tujuan investasi

Sementara Ketua Kamar Dagang dan Industri Eropa (EuroCham) di Indonesia, Jakob Friis Sorensen, mengatakan Indonesia merupakan mitra yang tepat untuk kerja sama government to government mengenai meningkatkan iklim bisnis dan investasi. “Meskipun tahun depan Indonesia akan mengadakan pemilu. Saya pikir sekarang waktu yang tepat untuk segera menjalin kerja sama itu. Setidaknya kita bisa memulainya lebih dahulu,” terangnya.

Kerja sama ini, lanjut Jakob, dianggap penting lantaran kondisi ekonomi di Eropa sendiri tengah mengalami kebangkitan. Sehingga banyak perusahaan termasuk yang bermodal menengah ke bawah di Eropa membutuhkan pasar baru untuk menanam investasi. Sedangkan Indonesia sudah diamati oleh para pebisnis di Uni Eropa sebagai kawasan yang tepat untuk menanam modal.

“Kami melihat masih banyak sektor industri di Indonesia yang belum tersentuh investasi dengan maksimal. Kami di Eropa melihat itu sebagai peluang kerja sama bisnis. Dengan begitu nantinya Eropa dan Indonesia dapat sama-sama tumbuh perekonomiannya secara bertahap,” klaim Jakob.

Kepentingan Uni Eropa untuk melakukan ekspansi investasi ke Indonesia juga dinilai Jakob cukup strategis. Pasalnya, di Eropa sendiri mulai mengalami kesulitan lapangan kerja. “Populasi usia muda di Eropa juga butuh kerja. Tapi di negara kami sudah sulit membuka lapangan kerja. Maka kami perlu melakukan ekspansi investasi,” tandasnya.

Ke depan, Jakob mengatakan para investor Uni Eropa akan memberi perhatian pada industri CPO (crude palm oil/kelapa sawit mentah). Dia mengatakan kebutuhan Eropa dan dunia terhadap CPO juga akan segera meningkat. Dengan demikian pihaknya membutuhkan jaminan pasokan CPO.[lulus]

Related posts