BI Prediksi Inflasi Capai 9,8% Akhir 2013

Ekonomi Masih Limbung

Selasa, 22/10/2013

NERACA

Jakarta - Bank Indonesia (BI) memperkirakan inflasi pada akhir 2013 akan jauh lebih tinggi, antara 9%-9,8%, dari perkiraan semula yang sebesar 4,75%. Alasannya karena tantangan ekonomi, baik dalam dan luar negeri, ternyata juga diluar prediksi. Meski begitu, hingga saat ini, situasi seperti itu dinilai masih terkendali.

“Dengan melihat perkembangan perekonomian saat ini, kami memperkirakan inflasi tahun 2013 akan berada dalam kisaran 9% hingga 9,8%. Memang angka itu jauh lebih tinggi dibandingkan inflasi pada asumsi ATBI (Anggaran Tahunan Bank Indonesia) yang sebelumnya sudah ditetapkan sebesar 4,75%,” kata Gubernur BI, Agus DW Martowardojo di Jakarta, Senin (21/10).

Dia mengatakan, fakta laju inflasi yang terlalu melampaui perencanaan awal disebabkan berbagai tantangan ekonomi global dan domestik ternyata tidak sesuai dengan perkiraan awal. Sehingga tidak dapat dielakkan hal tersebut memiliki dampak yang kurang baik bagi kinerja BI pada 2013. Namun, lanjut Agus Marto, BI sendiri mengaku tetap berkomitmen untuk menjaga stabilitas makro ekonomi agar kesinambungan ekonomi nasional tetap dapat terjaga ke depannya.

Agus Marto juga mengatakan, komitmen itu tercermin dari berbagai respon yang diambil oleh BI melalui muatan kebijakan untuk mengendalikan inflasi, pengelolaan neraca pembayaran yang lebih berkelanjutan (sustainable) dan penguatan stabilitas sistem keuangan. Namun tetap memperhatikan upaya pengadaan lapangan kerja, juga sejalan dengan tujuan pemerintah untuk mengurangi angka kemiskinan.

“Salah satu langkah BI untuk menjaga ketahanan makro ekonomi kita dapat dilihat sejak Juni 2013 hingga saat ini kita sudah menaikan suku bunga sampai 150 basis poin (bps). Sehingga pada Oktober 2013 ini suku bunga kita sudah sebesar 7,25%. Hal itu juga diikuti oleh kenaikan suku bunga depocit facility sebesar 150 bps hingga menjadi 5,5%. Serta suku bunga landing facility yang sudah naik sebesar 40 bps menjadi 7,25%,” tutur Agus Marto.

Terkait Indeks Harga Konsumen (IHK), dirinya menjelaskan bahwa hingga September 2013 IHK sudah mencapai 7,57%. Oleh karena itu, inflasi IHK juga diperkirakan hingga akhir tahun bisa mencapai kisaran 9% hingga 9,8%. Sedangkan perkiraan awalnya inflasi IHK ada di kisaran 4,5% hingga 5,5%.

Secara keseluruhan, Agus Marto mengungkapkan inflasi IHK sejak awal tahun hingga September 2013 mengalami peningkatan sampai 12,49% atau 13,94% dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya. Sementara kenaikan BBM bersubsidi mengalami inflasi sebanyak 15,04% sejak awal tahun atau sebanyak 15,47% dibanding periode yang sama di tahun lalu.

Sedangkan pada inflasi lainnya, Agus Marto mengaku masih terkendali pada posisi 3,95% sejak awal tahun atau 4,75% pada periode yang sama di tahun sebelumnya. “Perlu dimaklumi inflasi IHK 2013 ternyata jauh dari target perkiraan karena didorong oleh dua faktor utama. Pertama, ada gangguang dari sisi suplai yang kemudian berdampak pada kenaikan harga pangan. Kedua, kenaikan harga BBM bersubsidi yang berdampak pada mengejutkan biaya administrasi,” terangnya.

Untuk itu Agus Marto berjanji, ke depan, BI akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dalam mengendalikan inflasi. Bahkan juga dengan melibatkan tim pengendali inflasi di daerah-daerah. [lulus]