AEC Berlaku, Kompetisi akan "Mematikan"

Rabu, 16/10/2013

NERACA

Jakarta – Dengan pemberlakuan ASEAN Economic Community (AEC) pada 2015 nanti, kompetisi akan semakin mematikan, baik di antara negara ASEAN sendiri, maupun antara ASEAN dengan mitra dagangnya. Pernyataan tersebut disampaikan peneliti Institute for Global Justice (IGJ) Salamuddin Daeng kepada Neraca, akhir pekan lalu.

“Kompetisi akan semakin mematikan karena masing-masing yang berkompetisi tidak memiliki kekuatan yang sama,” kata Daeng. Hingga saat ini ASEAN telah menyepakati Free Trade Area (FTA) dengan China, India, Korea, Australia & Newzealand, Jepang (EPA) dan Eropa (PCA) dan secara potensial dengan Amerika dan negara lainnya.

Negara-negara anggota ASEAN sebagian mengambil inisiatif sendiri menyelenggarakan FTA secara bilateral dengan negara lainnya diluar kerangka kerjasama ASEAN. Negara ASEAN terlibat dalam kompetisi kedalam sesama anggota ASEAN, dan kompetisi keluar merebut partner dagang.

Daeng menjelaskan, ASEAN dan Amerika telah memulai kerja sama kemitraannya sejak tahun 1977. Melalui Joint Vision Statement on ASEAN–US Enhanced Partnership dengan Plan of Action 5 tahunannya (2006-2011) pada bulan Desember 2006, untuk pertama kalinya kerja sama ASEAN-Amerika memiliki payung kerja sama dan rencana aksi yang bersifat komprehensif sebagai komitmen kerja sama ke depan.

Sejak 2009, telah dikelompokkan kembali prioritas kerja sama ASEAN-US Enhanced Partnership dalam 8 bidang sesuai ketiga pilar dalam masyarakat ASEAN. “Hubungan di antara negara anggota ASEAN semacam ini bukanlah hal yang sehat dalam ukuran budaya dan nilai-nilai yang berkembang dalam masyarakatnya. Hubungan ini menjebak dalam rasa saling curiga dan saling menghisap secara ekonomi,” jelasnya.

Singapura, kata Daeng, sebagai contoh yang merupakan negara dengan populasi sangat kecil tetapi menghasilkan Pendapatan Domestik Bruto (PDB) besar. Singapura hidup dari industri, manufaktur dan jasa-jasa dengan menghisap sumber daya alam dari negara-negara tetangganya.

Negara mini itu menguasai 70% investasi di kawasan ekonomi khusus Batam, salah satu wilayah kabupaten di Indonesia. Daerah ini memproduksi barang dengan memanfaatkan sumber daya alam, tenaga kerja murah, dan kemudahan fiskal yang besar untuk menghasilkan produk buatan Singapura.

Singapura juga berhasil menjadi eksportir migas yang besar dengan mengambil bahan mentah dari Indonesia. Kedudukan Singapura dalam ekonomi ASEAN tidak berbeda dengan posisi negara-negara industri maju terhadap kawasan ini.

”FTA antara ASEAN dengan negara-negara yang memiliki ekonomi yang kuat seperti Amerika, Uni Eropa, Jepang, China, akan melahirkan hubungan yang tidak seimbang. Negara-negara kuat baik secara finasial, tehnologi dan sumber daya manusia, akan memenangkan persaingan, menghisap surplus ekonomi dari negara-negara yang miskin,” jelas Daeng.

Jangan terkecoh data surplus

Sebagai bukti adalah ketika pemberlakuan FTA dengan China 2005, negara–negara miskin di ASEAN menerima tekanan impor yang sangat hebat. Indonesia sendiri semakin banyak mendapat gempuran produk-produk China dan neraca perdagangannya pun defisit.

Sektor-sektor industri, terutama yang berskala kecil, kata Daeng, bangkrut karena tidak sanggup bersaing dengan produk-produk China yang sangat murah. Ratusan perusahaan tekstil gulung tikar, demikian pula halnya dengan perusahaan baja.

”Puluhan perusahaan paku, kawat bangkrut sesaat setelah penurunan tarif impor diberlakukan. Akibatnya sekitar tiga ribu pekerja kehilangan pekerjaan segera setelah FTA ASEAN China diberlakukan. Sekitar 500 ribu pekerja dari berbagai sektor di PHK sejak kesepakatan tersebut pada 2005 lalu,” kata dia.

Daeng mengingatkan, meskipun ASEAN mengalami surplus perdagangan dengan Amerika, Uni Eropa, dan Jepang, namun data ini tidak boleh mengecohkan kita. Surplus perdagangan tersebut merupakan perdagangan di antara perusahaan multinasional sendiri yang berasal dari negara-negara maju tersebut. Total investasi Amerika di Singapura mencapai US$86,05 miliar dengan 1.300 perusahaan. Jumlah ini hampir setara dengan seluruh investasi asing di Indonesia.

Sebagian besar ekspor dari mayoritas negara ASEAN merupakan ekpor bahan mentah yang dikerjakan oleh perusahaan multinasional dari negara maju seperti Inggris, Jepang, dan AS memang dikerahkan untuk mengeruk sumber daya alam untuk dikirimkan ke pusat-pusat industri.

”Selanjutnya negara-negara maju mengekspor kembali ke ASEAN produk industri yang bernilai tambah tinggi. Ekspor yang besar dari ASEAN dan surplus perdagangannya hanya akan menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang tidak berkualitas karena tidak memiliki hubungan langsung dengan perekonomian mayoritas masyarakat ASEAN,” pungkas Daeng. [iqbal]