Kesuksesan Program PJAS

Menurunkan Penyalahgunaan Bahan Berbahaya

Sabtu, 19/10/2013

NERACA

Aksi Nasional Pangan Jajanan Anak Sekolah (AN-PJAS) yang dicanangkan Wakil Presiden RI tanggal 31 Januari 2011 merupakan salah satu upaya menggerakkan semua sektor untuk menanggulangi masalah dan meningkatkan keamanan, mutu dan gizi anak sekolah di Indonesia.

Hasil pengawasan PJAS oleh Badan POM menunjukkan ada beberapa PJAS yang tidak memenuhi syarat (TMS) karena mengandung bahan berbahaya, bahan tambahan pangan (BTP) melebihi batas yang diizinkan, serta kualitas mikrobiologi yang buruk.

Jika melihat dari tahun ke tahun program ini menuai kesuksesan. Pada tahun 2013, PJAS yang TMS karena penyalahgunaan bahan berbahaya menunjukkan penurunan jika dibandingkan tahun 2012 dari 9% menjadi 6%. Demikian pula halnya dengan penggunaan BTP berlebih menurun dari 24% pada tahun 2012 menjadi 17% pada tahun 2013.

Penurunan ini memberi gambaran bahwa kegiatan yang ditujukan kepada komunitas sekolah dan penjual PJAS memberi perubahan yang cukup berarti terhadap penyalahgunaan bahan berbahaya dan penggunaan BTP berlebih.

Oleh karena itu perlu terus dilakukan dengan metoda pendekatan yang sebaik-baiknya kepada penjual dan komunitas sekolah. Pasokan bahan berbahaya di pasar terus menerus diupayakan untuk dikendalikan, (1) melalui program Pasar Aman dari Bahan Berbahaya, serta (2) implementasi Peraturan Bersama antara Menteri Dalam Negeri dan Kepala Badan POM tentang Pengawasan Bahan Berbahaya yang Disalahgunakan Dalam Pangan, dalam bentuk Tim Pengawasan Terpadu.

Dalam kurun waktu 2009-2013, permasalahan kualitas mikrobiologi yang tidak memenuhi syarat pada PJAS masih menjadi kendala (59-70%). Tingginya permasalahan kualitas mikrobiologi disebabkan oleh kesadaran hygiene dan sanitasi penjual PJAS masih rendah, terbatasnya akses air bersih, serta terbatasnya sarana dan prasarana yang memenuhi persyaratan kebersihan.

Roy Sparringa, deputi III Badan POM pada Media Workshop “Sehatnya Duniaku” belum lama ini, mengutarakan bahwa pentingnya intervensi yang tepat untuk memperbaiki kondisi keamanan dan mutu jajanan anak sekolah.

Sebelumnya dari hasil analisis data menggunakan uji pareto, untuk menyelesaikan sedikitnya 80% permasalahan keamanan dan mutu jajanan ini, pengawasan dan pembinaan perlu diprioritaskan pada produk dan penjual es, minuman berwarna dan sirup, jelly/agar, serta bakso. Jenis pangan ini yang paling banyak ditemukan tidak memenuhi syarat (TMS).

Hal senada diungkapkan Pauline Endang Praptini, dokter spesialis gizi klinis dari RS Fatmawati. Dia mengatakan, kualitas jajanan di sekolah sebenarnya merupakan asupan yang perlu diperhatikan kandungan nilai gizi dan nutrisi yang terdapat di dalamnya. Karena, kata dia, jajanan dapat berfungsi sebagai penunjang aktivitas anak supaya tetap konsentrasi ketika belajar. Oleh karena itu sebaiknya jajanan harus mengandung nutrisi untuk menunjang tumbuh kembang anak.