Japfa Beli Peternakan Sapi di Australia

Perkuat Pasokan Sapi

Jumat, 04/10/2013

NERACA

Jakarta – Besarnya tingkat konsumsi daging sapi di masyarakat menjadi pasar yang menjanjikan, melihat peluang pasar tersebut PT Japfa Comfeed Indonesia (JPFA) melalui anak perusahaanya, PT Santosa Agrindo (Santori) telah menyelesaikan pembelian atas dua peternakan sapi terkenal di Australia, Riveren Station dan Inverway Station.

Head of Breeding PT Santosa Agrindo Dayan Antoni mengatakan, pembelian dua peternakan sapi di Autralia untuk melengkapi intergritas vertikal perseroan. Selain itu, peternakan di Australia mampu memproduksi dalam jumlah besar dibanding di Indonesia. “Kami sudah ada produsen daging, pengembanganbiakan serta lainnya di Indonesia. Tetapi, untuk pengembangan di Indonesia kalau dilakukan secara intensif, biaya tinggi dan ada keterbatasan. Jadi, kalau di Australia itu sudah ada,” kata Dayan di Jakarta, Kamis (3/10).

Disebutkan, kedua peternakan itu berlokasi di daerah Victoria Rover Downs di Northern Territory dengan luas lahan gabungan mencapai 555 ribu hektar (ha) dan kapasitas memelihara 45 ribu ekor sapi, yang sebagian besar keturunan jenis bangsa Brahman.

Dia menambahkan, pembelian dua peternakan ini juga dalam rangka memperkuat struktur pasokan sapi bakalan di Indonesia. Pasokan sapi bakalan yang datang dari Australia, Dayan mengharapkan dapat menyumbang sekitar 10 persen untuk pasokan sapi di perusahaan.

Sebelumnya, perseroan juga merealisasikan pembangunan lahan penggemukan sapi potong atau feedlot di China. Nantinya, perusahaan baru akan mendapatkan hasil perdana dari feedlot di China pada awal 2014 mendatang. China menjadi salah satu negara yang dilirik Santori untuk mengembangkan bisnis daging sapinya. Maklum saja, sejak pengurangan kuota impor sapi bakalan, perusahaan ini tidak bisa memenuhi kapasitas kandang penggemukan milik mereka di Lampung dan Jawa Timur.

Target output produksi dari penggemukan sapi di China mencapai 90.000 ekor per tahun atau 30.000 ekor per siklus. Satu siklus sekitar 3 sampai 4 bulan. Dengan kapasitas produksi sebesar itu, menurut Dayan, bisnis penggemukan sapi milik Santori akan menjadi yang terbesar di negara berpenduduk 1,4 miliar itu. Seperti di Indonesia, sebagian besar penggemukan sapi di China dilakukan usaha skala kecil dan menengah (UKM) dengan produksi maksimal 50.000 ekor setahun.

Perseroan juga telah menyiapkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp1 triliun sepanjang tahun 2013. Wakil Direktur Keuangan JPFA Putut Djagiri menuturkan, pendanaan belanja modal itu diperoleh dari pinjaman perbankan dan kas internal perusahaan dengan posri masing-masing 50%.

Lebih lanjut Putut mengungkap, belanja modal akan dialokasikan sebesar 60% untuk pembibitan lahan, sementara sisanya digunakan untuk penambahan kapasitas produksi seperti ekspansi pabrik pakan ternak, peternakan komersional dan budidaya perairan. (bani)