Gerakkan Perusahaan Multinasional Bertanggung Jawab Sosial

Ratusan Miliar Rupiah Untuk Pengembangan UKM

Sabtu, 12/10/2013

APEC 2013 jadi momentum pemerintah meminta 214 perusahaan multinasional anggota APEC untuk berpartisipasi melalui dana CSR mereka demi pengembangan wirausaha kreatif serta mendorong daya saing UKM dalam negeri di pasar international.

NERACA

Hingga kini jumlah wirausaha di Indonesia hanya 570.339 orang atau 0,24% dari jumlah penduduk yang sebanyak 237,64 juta orang. Padahal untuk jadi bangsa maju, idealnya dibutuhkan wirausaha minimal 2% dari jumlah penduduk.

Melihat angka tersebut, Indonesia masih sangat tertinggal dibandingkan dengan beberapa negara ASEAN lainnya yang memiliki rasio jumlah wirausaha lebih tinggi dan jumlah penduduk yang jauh lebih rendah. Contohnya Singapura yang memiliki 7% wirausaha dari jumlah penduduk dan diikuti Malaysia sebesar 3%.

Melihat ketertinggalan itu, pemerintah menargetkan 500 ribu wirausaha muda dalam jangka pendek (2014-2015) dan 5 juta wirausaha muda pada 2025. Namun hal tersebut terkesan sulit diwujudkan lantaran wirausaha Indonesia kerap terkendala dengan berbagai permasalahan yang menghadang, seperti akses pembiayaan, akses pasar, regulasi birokrasi, dan permasalahan kapasitas.

Terkait hal tersebut, pemerintah mengeluarkan kebijakan baru bagi perusahaan multinasional di kawasan Asia Pasifik yang beraviliasi di Indonesia untuk turut berkontribusi ke pengembangan wirausaha kreatif dan UMKM. Rencananya, tiap perusahaan akan mengalokasikan dana Corporate Social Responsibility (CSR) untuk mengembangkan kewirausahaan.

Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Kewirausahaan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Edy Putra Irawady mengungkapkan, saat ini perusahaan-perusahaan besar berskala internasional yang beroperasi di Indonesia (214 perusahaan) sudah diberikan sosialisasi dan juga telah mendapatkan respons yang positif. Permintaan pemerintah untuk CSR ini berprinsip akuntabel, transparan, dan good governance.

"Mereka sadar sudah bisa mengambil untung dari berusaha di sini. Jadi mereka bersedia untuk ikut berkontribusi lebih lewat CSR-nya, apalagi jika jelas untuk mengembangkan wirausaha. Intinya adalah penyediaan modal, pembiayaan, memberikan technical assistant, peningkatan kapasitas, dan pengembangan usahanya ke depan," tutur Edy.

Menurut Edy ada satu dari perusahaan multinasional tersebut yang menolak dengan alasan tertentu. Sedangkan terkait jumlah dana yang bisa terkumpul dari program ini, Edy mengestimasikan dengan ukuran perusahaan multinasional yang besar, nilai yang terkumpul dapat mencapai puluhan hingga ratusan miliar rupiah.

"Tapi dari semua perusahaan itu, memang tak semuanya akan memberikan cash, ada juga dalam bentuk lain. Misalnya saja ada perusahaan dari Korea yang bersedia memberangkatkan wirausahawan atau pelaku UKM ke Korea untuk belajar. Namun memang kita lebih mengharapkan diberikan uang cash," jelas dia.

Sosialisasi Kebijakan

Untuk mencari bibit unggul wirausaha muda, pemerintah membuat program pembinaan dan promosi melalui acara bertajuk APEC Unthinkable Week 2013. Kegiatan sosialisasi dan promosi pengembangan wirausaha muda ini terdiri dari APEC CSR Forum, APEC Entrepreneur Jamboree, APEC Creative Expo, dan APEC Sound Motion Festival. APEC Entrepreneur Jamboree terdiri dari kegiatan Entrepreneur Scouting Forum, Patent Promotor, dan Government Procurement.

“Kami perlu sosialisasikan kebijakan wirausaha itu sendiri, kami promosikan, kreasi wirausaha baik produk maupun jasa-jasa. Tahun ini kami ramaikan dalam rangka APEC, kami buat sosialisasi dan promosi wirausaha itu,” kata Edy belum lama ini.

APEC Unthinkable Week digelar pada tanggal 2-5 Oktober 2013 lalu dengan peserta 300 dari 21 negara anggota APEC ini. Di acara itu dideklarasikan berdirinya Asosiasi Pembina Kewirausahaan Indonesia sebagai wadah pengembangan wirausaha kreatif, serta pendirian dua Akademi Masyarakat di bidang logistik yaitu di Kabupaten Batubara, Sumatera Utara, dan Kotamadya Bitung, Sulawesi Utara.

“Kami harus punya tenaga lokal yang certified, maka kami bangun sekolah akademi masyarakat di bidang logistic / community college program D1 dan D2. Ilmu yang benar-benar bisa dipakai di situ dan di negara lain. Kami kerjasama dengan BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan) dan Kemendikbud,” kata Edy.

Dalam kegiatan tersebut juga dikompetisikan model-model bisnis kewirausahaan dari peserta Indonesia dimitrakan dengan perusahaan nasional, dan negara-negara APEC yang berbisnis di Indonesia. APEC Creative Expo akan menampilkan karya-karya wirausaha muda dari negara-negara anggota APEC, dan APEC Sound and Motion menyajikan berbagai kreasi bunyi dan gerak.

Ketua Tim Koordinasi NasionalPengembangan Wirausaha Kreatif Kementerian Perekonomian Handito Joewono menambahkan, diharapkan melalui kegiatan APEC Unthinkable Week wirausaha baru bisa lahir, berkembang inovatif, kreatif, dan berdaya saing global.

“Kami ingin mencetak wirausaha yang kreatif, inovatif, berdaya saing supaya berkelanjutan. Kami ingin lahirkan wirausaha yang berjiwa tangguh dan tahan banting, tidak terus menerus mengeluh,” kata Handito.