Pemerintah Belum Serius Kurangi Pengangguran

Kamis, 26/09/2013

NERACA

Jakarta – Jumlah pengangguran di Indonesia masih relatif tinggi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2013 masih ada di level 5,92% dari total penduduk. Sehingga pemerintah diminta untuk mau memberi perhatian terhadap pertanian dan industri padat karya. “Jumlah pengangguran kita sebetulnya sudah agak turun sedikit dan mendekati target pemerintah tahun ini yaitu sekitar 5,5% sampai 5,8%. Namun memang angka tersebut masih tinggi,” kata Kepala Deputy Analisis Statistik BPS, Suhariyanto, di Jakarta, Rabu (25/9).

Suhariyanto mengingatkan bahwa dari jumlah tenaga kerja di Indonesia sepertiganyapun masih dalam domain yang tidak berkualitas. Pasalnya mereka merupakan pekerja dengan sistem paruh waktu atau kurang dari 35 jam dalam seminggu. “Kalau bicara masalah pengangguran sebetulnya bukan hanya membahas tingkat pengangguran terbuka. Karena dari jumlah pekerja kita masih banyak sekali pekerja yang kurang produktif. Karena mereka sendiri merupakan pekerja paruh waktu,” tambahnya.

Untuk menuruni tingkat pengangguran dengan cepat tentu pemerintah harus memberi perhatian terhadap sektor-sektor industri yang mampu menyerap banyak tenaga kerja. Misalnya pertanian atau industri padat karya. Pasalnya pada sektor-sektor itu pun masih banyak peluang dan ruang yang belum dimanfaatkan secara optimal oleh pemerintah.

“Selama ini kan pertumbuhan ekonomi kita justru masih tinggi di disumbang oleh sektor jasa. Jadi untuk ke depan semestinya kita harus lebih perhatian pada sektor pertanian atau industri padat karya. Potensinya sangat besar loh karena masih banyak ruang yang belum diekspansi. Secara jangka panjang ini juga bisa menjadi peluang besar untuk meningkatkan produksifitas dan daya saing,” terang Suhariyanto.

Melihat masalah minimnya ekspansi industri padat karya dan pertanian Suhariyanto jadi mempertanyakan keseriusan pemerintah dalam menekan jumlah penganguran. Sebab dalam waktu dekat ini pemerintah berencana akan menjual mobil murah yang komponen produksinya masih didominasi asing dan melalui impor. “Kalau sebagian besarnya impor tidak ada dampaknya sama sekali lah. Gimana ceritanya jumlah penangguran bisa tertekan kalau komponennya impor. Paling tenaga kerja yang terserap cuma jadi perakit atau sales.”

Kemiskinan

Lebih jauh Suhariyanto mengatakan jumlah penduduk miskin masih relatif tinggi yaitu ada di kisaran 11% hingga akhir tahun. Hal ini merupakan dampak dari inflasi yang tidak terkendali. Karena inflasi sangat berpengaruh terhadap kenaikan harga pangan. Maka ia menekankan gejolak harga pangan dan bahan pokok harus dapat diredam. “Jadi kuncinya ada di distribusi dan ketersedian pangan pada waktu yang tepat. Kalau gejolak harga pangan bisa diredam hingga inflasi juga jadi rendah bisa jadi penduduk miskinnya turun,” ungkap Suhariyanto.

Dia juga mengaku untuk sementara inflasi mungkin sulit dikendalikan. Pasalanya hingga saat ini saja posisi inflasi sudah ada di level 8,79%. Angka itu sudah melampaui target pemerintah dalam APBNP 2012 yaitu sebesar 7,2%. “Desember juga perlu waspada karena ada natal, tahun baru, dan liburan sekolah. Secara histori waktu-waktu tersebut biasanya berpotensi meningkatkan inlfasi,” tukasnya. [lulus]