Jaga Kepercayaan Pasar

Keputusan bank sentral AS (The Fed) yang menunda pengurangan (tapering off) stimulus moneter memang bersifat sementara. Meski gejolak di pasar finansial dan bursa mulai reda sesaat, para pelaku pasar yang semula panik, kini berangsur tenang. Hal itu tercermin pada tren positif di pasar modal dan pasar valuta asing (valas) domestik dalam beberapa hari ini.

Namun apakah itu pertanda bahwa kepercayaan para pelaku pasar sudah pulih dan pasar finansial di dalam negeri sudah kembali ke tahap normal? Jawabannya pasti belum. Pasalnya, The Fed masih mengagendakan rapat lanjutan Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Committee-FMOC) pada 30 Oktober 2013. Ini tentu akan menimbulkan rumor di pasar saham dan pasar valas di Indonesia. Sebab, pemerintah AS juga menghadapi tantangan serius para pelaku pasar di negeri adidaya itu.

Apabila keputusan The Fed nanti (Oktober) jadi melakukan tapering off, maka dipastikan memunculkan kepanikan luar biasa di pasar valas dan pasar modal seluruh dunia, termasuk Indonesia. Pasar setidaknya khawatir terjadi pembalikan modal (sudden reversal) untuk merespons mulai pulihnya ekonomi AS. Hampir sebagian besar dana portofolio dari emerging market dalam waktu yang cepat “terbang” ke AS.

Bagaimanapun, tekanan terhadap pasar finansial di negeri Paman Sam itu makin kuat, sementara tingginya kebutuhan terhadap dolar AS di Indonesia akibat siklus musiman pembayaran utang luar negeri dan pembayaran dividen korporasi multinasional cukup besar. Apalagi dengan kian melebarnya defisit transaksi berjalan (current account) akibat defisit neraca perdagangan yang membesar setelah impor minyak mentah dan BBM melonjak.

Di sisi lain, kondisi di dalam negeri menghadapi badai yang datang dari inflasi yang membubung akibat kenakan harga BBM bersubsidi yang tertunda, tingginya konsumsi masyarakat menjelang Lebaran, serta kenaikan harga yang disebabkan produk impor (imported inflation).

Walau paket kebijakan penangkal krisis yang mencakup stimulus fiskal, pengembangan bahan bakar nabati (BBN), stabilisasi pasar obligasi, pelonggaran aturan pembelian kembali (buyback) saham, dan penggunaan sejumlah instrumen untuk meredam depresiasi rupiah, para pelaku pasar merasa belum ada terobosan ampuh mengantisipasi rapat The Fed pada Oktober, yang kemungkinan besar siap merealisasikan kebijakan tapering off stimulus moneternya.

Karena itu, sudah menjadi tugas Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk menjaga harapan dan ekspektasi masyarakat dalam upaya menjaga stabilitas pasar saham dan obligasi, menahan laju depresiasi rupiah, menjaga pertumbuhan ekonomi dan daya beli, serta menekan defisit perdagangan. Artinya, solusi mengatasi masalah dengan instrumen BI Rate sudah tidak tepat lagi, bahkan makin melemahkan daya beli masyarakat domestik.

Kita tentu berharap berbagai keraguan, kekhawatiran, dan kecemasan yang selama ini menyelimuti pasar finansial sepenuhnya hilang, berganti kepercayaan, harapan, dan sentimen positif. Adalah tren penguatan IHSG dan kurs rupiah terhadap US$ harus benar-benar riil, bukan penguatan semu. Patut disadari, bahwa ada sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang memiliki fundamental kuat, sehingga dalam kondisi ekonomi goyang sekalipun mereka masih bisa mencetak pertumbuhan laba yang signifikan. Inflasi di dalam negeri juga menunjukkan kecenderungan turun, bahkan BI mempredikasi akan terjadi deflasi pada September.

Kini saatnya pemerintah, BI, dan OJK harus memiliki bukti-bukti konkret bahwa paket kebijakan penangkal krisis sudah berjalan sesuai on the track. Artinya, kebijakan yang tertuang dalam program kerja dapat langsung memengaruhi neraca perdagangan, cadangan devisa, dan ketahanan energi nasional seperti pengembangan energi terbarukan untuk bioediesel, harus berhasil sukses. Dengan demikian, pemerintah harus betul-betul menjaga kepercayaan pasar di tengah ekspektasi masyarakat yang tinggi saat ini.

Related posts