Pemda DIY Apresiasi Seni Budaya Tradisional

Dirikan Akademi Komunitas Seni dan Budaya

Sabtu, 28/09/2013

Indonensia dikenal sebagai negera sejuta budaya tradisionalyang tersebar diseluruh penjuru. Ya, tidak ada negara dimana pun yang mengalahkan keanekaragaman budaya yang dimiliki oleh Negara kepulauan ini.Namun sungguh amat disayangkan, mereka yang hidup & bergelut dalam dunia budaya justru kurang mendapatkan penghargaan yang pantas. Seperti honor yang diterima oleh para seniman Yogyakarta misalnya. Sehingga tak jarang para seniman itu yang rela bekerja serabutan hanya demi memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka.

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X menuturkan, penghargaan masyarakat terhadap seniman selama ini masih minim, dimana para seniman dan budayawan DIY yang berpengalaman seringkali menerima honor yang sama dengan mereka yang masih baru. Tentunya hal ini yang mengakibatkan masih terjadinyan kesenjangan.

\"Masak misalnya pengrawit (seniman karawitan) yang sudah berpengalaman 10 tahun diberikan gaji yang sama dengan pengrawit yang baru satu tahun,” kata dia.

Menurut Sri Sultan, hal tersebut dipicu lantaran seniman yang ahli tidak memiliki sertifikat sebagai bukti atas keterampilan yang mereka miliki. Oleh karena itu, sambung dia, Pemerintah Daerah (Pemda) DIY berencana mendirikan Akademi Komunitas Seni dan Budaya untuk meningkatkan kualifikasi serta kesejahteraan para seniman di daerah setempat.

“Upaya demikian wajib dilakukan khususnya di Yogyakarta sebagai daerah yang memiliki nuansa budaya yang amat kental,\" kata dia.

Dengan akademi yang rencananya dilaksanakan dalam bentuk program diploma 1 hingga diploma 2 tersebut, diharapkan seniman yang lulus akademi ini akan memperoleh ketrampilan sesuai seni yang digeluti dan sertifikat keahlian. Sehingga kedepan seniman dan budayawan di Yogyakarta memiliki jaminan yang lebih bagus dan penghargaan masyarakat terhadap mereka yang selama ini masih minim akan meningkat.

\"Kami punya keinginan membangun itu agar para seniman yang hanya lulusan SMA dapat mendapatkan sertifikasi atau pengakuan. Sertifikat inilah yang akan dijadikan bahan acuan dalam kenaikan upah para seniman di Yogyakarta,\" kata Sultan.

Selain itu, sambung dia, akademi tersebut juga bertujuan untuk menumbuhkan generasi seniman-seniman baru di DIY di mana dalam bidang seni tertentu hampir mengalami kepunahan. Seperti contohnya pembuatan gamelan.

\"Sebelumnya saya ingin di setiap sekolah atau tempat lainnya memiliki gamelan, namun belum dapat terpenuhi karena pengrajin gamelan jumlahnya sedikit dan hanya dapat memproduksi tujuh set per tahun,\" ujar dia.

Sri Sultan mengaku sudah berbicara tentang rencana itu dengan Rektor Institute Seni Indonesia (ISI). Menurut dia, tenaga pengajar untuk akademi ini akan diambilkan dari para praktisi seni dan budaya di Yogyakarta secara langsung. Bahkan tempat kuliah dan praktek juga digelar di padepokan-padepokan yang ada di Yogyakarta.

Pendirian akademi ini menurut Sultan akan menggunakan dana keistimewaan. Selain itu dana keistimewaan juga akan digulirkan untuk bagaimana membayar para lulusan SMKI Yogyakarta sebagai tenaga honorer guru tari di setiap desa di DIY. Dana tersebut juga akan digunakan untuk membayar lulusan ISI Yogyakarta untuk menjadi pengawas budaya di DIY.