Mobil Murah "Bak Kacang Goreng"

Diminati Golongan Menengah ke Atas

Senin, 23/09/2013

NERACA

Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) baru-baru ini mengeluarkan sertifikasi mengenai mobil murah dan ramah lingkungan (Low Cost Green Car/LCGC). Alhasil saat ini para produsen otomotif berlomba-lomba menawarkan varian mobil tersebut.

Adapun tujuan pemerintah mengeluarkan izin mobil murah dengan harapan meminimalisir penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi dan menciptakan industri otomotif yang ramah lingkungan. Dengan harga yang murah mobil ini disasarkan untuk masyarakat kalangan ekonomi menengah ke bawah.

Namun ternyata dari berbagai macam varian mobil murah yang dipajang pada pameran Indonesia International Motor Show 2013 (IIMS) yang berlangsung di JIExpo, Kemayoran, Jakarta, menunjukkan banyak peminat mobil murah justru datang dari kalangan ekonomi menengah ke atas.

Buktinya, para peminat itu sebelumnya sudah memiliki mobil dan akan menjadikan mobil murah ini sebagai mobil kedua.

Andreas (40), salah satu warga Tangerang ini mengungkapkan ketertarikannya terhadap Daihatsu Ayla X Elegant. Dia menyatakan akan menjadikan mobil murah itu untuk keperluan operasional sang istri.

"Bagus mobilnya, kalau untuk istri saya ideal, lagian harganya kebetulan juga murah," ujar dia di Kemayoran, Jakarta (21/9).

Namun pria yang bekerja sebagai seorang konsultan properti ini berjanji tidak akan menggunakan BBM bersubsidi jika jadi membeli kendaraan ini.

"Saya kalau ngisi di SPBU nggak pernah pakai Premium, pasti pakai Pertamax," jelas dia.

Tidak hanya Andreas, hal yang tidak jauh berbeda dikatakan peminat mobil murah lainnya, Indra (45). Pria yang tinggal di Kemayoran ini mendatangi salah satu mobil murah pabrikan Honda yaitu Honda Brio Satya, dengan tujuan mencari mobil untuk diberikan kepada Putrinya.

"Putri saya itu biar tidak naik angkutan umum terus, kasihan saya," katanya.

Indra menambahkan mobil murah yang juga ramah lingkungan ini akan menjadi mobil idaman para keluarga kecil terutama di Jakarta.

"Memang ini bagus karena harganya terjangkau jadi pasti banyak peminatnya, selain itu juga ramah lingkungan katanya, makanya itu saya pingin coba beli," papar dia.

Sedikit berbeda dengan Ihsanudin yang tertarik dengan mobil LCGC ini karena ingin memberika hadiah kepada Istrinya. Pria yang juga mengaku baru saja melangsungkan pernikahan ini sebelumnya juga belum memiliki mobil.

"Mobilnya lumayan murah dibandingkan yang lain, juga elegan. Saya sekarang ini masih sering pakai mobil orang tua, jadi sambil beli mobil murah ini sambil menghadiahi ulang tahun istri saya," kata dia.

Saat itu Ihsanudin sedang tertarik dengan mobil murah pabrikan Toyota yaitu Toyota Agya. Namun sayangnnya saat dipertanyakan apakah dirinya akan selalau menggunakan bahan bakar premium dirinya tidak dapat memastikan mengingat hal itu tergantung kebutuhan.

"Ya belum tau nanti, kalau ada uang lebih ya beli pertamax tapi kalau tidak ya pakai premium kan juga bisa jalan mobilnya," pungkas dia.

Hal senada,Menurut pengawas SPBU 34.13.206 Rawamangun, Darwanto, masuknya mobil murah sudah pasti akan menambah kemacetan di Jakarta. "Iya, karena orang kaya pun pasti buru mobil murah. Buat pembantunya atau buat keluarganya yang tidak mampu," tuturnya.

Darwanto setuju jika mobil murah harus memakai BBM jenis pertamax. Tetapi ia berpendapat pengguna mobil murah tak bisa dipaksa untuk menyetujui permintaan itu. Sebab, kapasitas mesin mobil murah biasanya rendah, sehingga tenaganya kecil dan bahan bakar yang dipakai lebih sedikit.

Dikatakannya, mobil murah bukan solusi mengatasi permasalahan transportasi di kota-kota besar. Malah akan menambah keruwetan karena akan semakin banyak orang yang memakai kendaraan roda empat.

Pengamat transportasi Universitas Negeri Semarang, Alfa Narendra, berpendapat, pemerintah harusnya lebih mementingkan perbaikan moda transportasi umum dibanding mobil murah.

Sebab, menurut Alfa, moda transportasi umum sangat efektif mengurangi kepadatan di jalan raya. "Masyarakat memilih naik motor itu karena lebih murah dibanding menumpang kendaraan umum. Harusnya kendaraan umum yang lebih dulu diperhatikan, dibenahi, ditingkatkan kenyamanannya, dan sebagainya," katanya.

Kalau pemerintah sudah mampu menghadirkan moda transportasi massal yang murah dan nyaman, kata Alfa, tentunya masyarakat akan berbondong-bondong memilih angkutan ketimbang naik sepeda motor yang sangat berisiko.

"Masyarakat sebenarnya sudah paham mengendarai motor itu sangat riskan. Bayangkan saja, pengendara full body contact langsung dengan jalanan. Namun, tetap saja banyak yang lebih pilih naik motor," tutur Alfi.

Belum lagi, kata dia, konsekuensi tidak langsung yang ditanggung pemerintah dengan membanjirnya mobil murah, seperti pembangunan, perbaikan, dan penambahan ruas jalan, serta penyediaan lahan parkir.

"Apa sekarang ini pemerintah sudah bisa memenuhinya? Kan belum. Bagaimana nanti jika mobil-mobil murah membanjiri jalan? Anggaran pemerintah untuk memenuhi konsekuensi atas kendaraan pribadi tak akan cukup," imbuh pengajar Fakultas Teknik Unnes.

Berkaitan dengan pembenahan moda transportasi massal, ia mengakui konsekuensinya memang biaya langsung yang besar yang harus ditanggung pemerintah, sebab pengalaman banyak negara angkutan umum pasti disubsidi.

"Namun, ya itu (pembenahan angkutan massal) harus diutamakan. Keuntungannya, pemerintah tak perlu menyediakan lahan parkir, biaya pemeliharaan jalan, dan volume kendaraan pribadi di jalan berkurang," kata Alfa mengakhiri. [iwan]