Indonesia Harus Kuasai Pasar Doemstik

Jika Ingin Bersaing dengan Global

Senin, 23/09/2013

NERACA

Jakarta - Penguasaan pasar domestik dinilai menjadi prasyarat penting sebelum produk Indonesia bersaing di pasar internasional. Hal tersebut diungkapkan oleh CEO PT Formcase Industries Fify Manan saat seminar bertajuk "Strategi Dunia Usaha Indonesia Dalam Menjawab Tantangan Pasar Bebas Asean, kemarin.

"Penduduk Indonesia berjumlah 200 juta orang, itu sudah separuh dari sembilan negara Asean," katanya.

Fify manan sukses menjadi eksportir furniture di lima benua. Pada 2001, dia berhasil menjadi pemasok furniture kantor pemerintahan di Amerika Serikat.
Menurutnya, Amerika dan Eropa sebaiknya menjadi pasar terakhir yang dirambah oleh eksportir Indonesia.

Mengingat , kemapanan ekonomi yang dimilikinya membuat konsumen Eropa paling cerewet soal kualitas produk. "Jadi, bertahap dulu, pasar domestik, Asean, Asia, Afrika, Australia, Eropa dan Amerika," katanya.

Dia menyebut sedikitnya ada tiga kunci sukses menjadi eksportir kelas wahid. Pertama, fokus kepada konsumen yang memberikan keuntungan lebih. "Tidak semua konsumen itu menguntungkan. Konsumen terbaik itu yang membawa profit tinggi dan cepat mengambil keputusan."

Dengan begitu, eksportir bisa membuat perlakukan yang berbeda antara satu konsumen dengan konsumen lainnya. "Kalau konsumen Timur-Tengah pasti nawar, makanya kita kasih harga tinggi dulu. Sementara, konsumen Eropa dan Amerika tidak memersalahkan harga, yang penting kualitasnya," kata Fify.

Kedua, mengintip kompetitor. Ini untuk mencegah agar konsumen tidak berpindah haluan. "Malah, dengan mengintip kompetitor, kita bisa bantu konsumen untuk segera bikin keputusan."Kata dia.

Ketiga, selalu menciptakan nilai tambah pada produk. "Desain harus berganti terus, kualitas ditingkatkan."

Sekedar informasi Krisis ekonomi global yang kini menghantam sejumlah negara di kawasan Eropa dan Amerika Serikat, mulai memperlihatkan tanda-tanda meluas.

Indonesia pun mulai merasakan dampak buruk dari krisis ekonomi global tersebut. Hal ini tercermin dari mulai menurunnya surplus neraca transaksi barang dan jasa Indonesia pada kuartal kedua tahun ini dan diperkirakan pada kuartal III dan IV akan mengalami defisit.

Prediksi akan defisitnya neraca dilontarkan Bank Indonesia akhir pekan lalu. BI memperkirakan, neraca transaksi barang dan jasa pada kuartal ketiga dan keempat tahun ini akan mengalami defisit. Kondisi itu kemungkinan masih berlanjut di kuartal pertama 2012. Kondisi ini disebabkan tingginya kenaikan impor.

Untuk menghadapi hal ini, tentunya pemerintah Indonesia perlu segera mengambil langkah-langkah untuk mencegah dampak buruk krisis global itu bagi industri di dalam negeri.

Salah satu terobosan yang diperlukan untuk melindungi industri atau sektor riil di dalam negeri, adalah dengan menfokuskan pada pengamanan pasar dalam negeri dengan lebih mendorong penguasaan pasar produk dalam negeri serta meredam impor produk asing.

Pengamanan pasar dalam negeri amat diperlukan mengingat saat ini mulai banyak keluhan dari sejumlah pengusaha mengenai besarnya pangsa pasar produk impor Misalnya di komoditas tekstil dan produk tekstil (TPT) dimana produk TPT impor saat ini sudah menguasai 60% pangsa pasar di dalam negeri. Hal ini juga terjadi pada produk pertanian lainnya, khususnya buah-buahan yang kini menguasai mayoritas pasar buah di dalam negeri.

Hal penting dalam pengamanan pasar dalam neegri adaah dengan mengawasi secara ketat masuknya produk impor secara illegal dan tidak memenuhi standar.

Jujur saja, banyak pihak yang menilai pemerintah belum efektif dalam menjaga masuknya produk impor secara ilegal dan tak memenuhi standar. Barang impor masih bisa masuk dengan mudah dan mengisi rak-rak pusat perbelanjaan di dalam negeri.dengan kondisi ini, artinya masyarakat Indonesia harus membayar biaya pembuatan barang yang dilakukan orang yang tidak hidup di negeri ini.

Terobosan atau kebijakan pemerintah untuk memberikan perhatian khusus terhadap industri besar dan kecil juga amat diperlukan untuk mempertahankan kinerja industri dan pelaku usaha di dalam negeri. memberikan sejumlah insentif kepada industri dan dunia usaha di dalam negeri mungkin bisa menjadi obat penahan serangan krisis global.
Untuk mendorong penguasaan produk lokal di pasar dalam negeri, pemerintah juga perlu meningkatkan kegiatan kampanye penggunaan produk dalam negeri dengan penekanan bahwa membeli produk dalam negeri sama dengan mengamankan pasar, mendorong perkembangan industri manufaktur dan menyediakan banyak lapangan kerja.

Kebijakan seperti ini bukan proteksionisme. Negara lain juga melakukan hal yang sama. Mereka tidak akan membiarkan barang impor masuk dengan mudah. [iwan]