Pasar Belum Pulih, IPO Muamalat Ditunda Hingga 2015 - Rencanakan Rights Issue Rp1,5 Triliun

NERACA

Jakarta- Belum kondusifnya kondisi makro ekonomi dan pasar saham, PT Bank Muamalat Tbk mengaku belum dapat memutuskan untuk melakukan penawarkan sahamnya ke publik. Rencananya, untuk menambah permodalan, perseroan akan melakukan penawaran umum terbatas saham (rights issue) senilai Rp1,5 triliun pada tahun ini.“Sampai saat ini kita belum putuskan kapan, masih wait and see dulu. Namun, untuk penambahan modal, tetap dilakukan tahun ini lewat rights issue dengan HMETD. Nilai Rp1,5 triliun, di luar penawaran dari SPO (secondary public offering). Rights issue rencana right issue tahun ini,” kata Direktur Utama Bank Muamalat, Arviyan Arifin di Jakarta, Rabu (18/9).

Menurut dia, saat ini pihaknya tengah memproses rencana penawaran terbatas tersebut. Perseroan akan menggunakan hasil rights issue ini untuk mendukung ekspansi pembiayaan perseroan selama tiga tahun ke depan. Targetnya, pertumbuhan pembiayaan tahun ini optimistis berada pada kisaran 15-20% dengan modal usaha mencapai Rp4,5 triliun. “Paling tidak CAR (rasio kecukupan modal) bisa sama kaya industri sekitar 17%.” ujarnya.

Direktur Keuangan Bank Muamalat Hendiarto menambahkan, pihaknya masih akan fokus pada pengembangan usaha perseroan dengan meningkatkan pembiayaan. Melalui rights issue CAR perseroan ditaksir akan naik dari 12% menjadi 17%, dan seiring ekspansi bisnis akan kembali ke level 12% pada 2015. “Antisipasi 2015 jadi 12% lagi, kemudian baru kita akan go public.” imbuhnya.

Pelemahan yang terjadi pada nilai tukar rupiah terhadap mata uang dolar dan bergejolaknya pasar sebelumnya disebut sebut berpengaruh terhadap minat penambahan modal melalui penawaran saham umum perdana (Initial Public Offering/IPO). Bahkan, beberapa perusahaan penjaminan emisi mengaku harus mengkaji ulang kegiatan penjaminan emisinya pada tahun ini.

Sentimen Global

PT Danareksa Sekuritas misalnya, mencatatkan setidaknya ada dua kegiatan penjaminan yang terpaksa harus dikaji ulang lantaran kondisi ekonomi yang kian tidak menentu. Salah satunya, terkait sejumlah opsi alternatif, seperti penundaan waktu penawaran umum perdana saham (IPO) ataupun pengurangan porsi saham yang akan dilepas ke masyarakat. “Ada dua alternatif, reschedule atau bisa juga pengurangan jumlah saham. Ini biasanya seperti itu,” kata President Director Danareksa Sekuritas Marciano H Herman.

Dua penjaminan emisi yang ditunda tersebut, menurut dia, meliputi IPO dan penerbitan saham baru. Untuk hal itu, saat ini pihaknya sedang berkonsultasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengenai rencana tersebut.

Asal tahu saja, selain kabar ditundanya gelaran IPO Muamalat, PT Sinarmas Sekuritas selaku salah satu penjamin emisi IPO anak usaha PT Sinarmas Land Ltd, yakni PT Puradelta Lestari sebelumnya juga menyatakan menunda IPO anak usahanya tersebut karena kondisi pasar yang tidak kondusif. Sedianya Puradelta berencana mencatatkan sahamnya di Bursa pada 26 Agustus 2013, dengan melepas sebanyak 10,84 miliar saham atau 20% dari modal disetor dan ditempatkan penuh.

Analis saham dari PT Buana Capital, Alfred Nainggolan pernah bilang, banyak alasan perusahaan menunda IPO tahun ini. Di samping dana asing yang keluar juga ancaman inflasi tinggi serta sentimen global. Dimana pesimisme pelaku pasar terhadap kebijakan stimulus The Fed, lanjut dia, juga ikut menjadi pemicu utama yang mendorong jatuhnya IHSG pada akhir semester kemarin.

Terlebih dengan pasar Amerika Serikat yang saat ini mencatatkan pertumbuhan positif sehingga mengindikasikan bahwa investor asing masih akan menarik dana-dananya dari negara-negara emerging market seperti Indonesia. Sentimen negatif ini, kata dia, yang akan membawa pelemahan indeks dan mempengaruhi perusahaan-perusahaan yang akan melaksanakan IPO maupun yang sedang dalam proses untuk IPO seperti PT Bank Muamalat Tbk yang akan menawarkan sahamnya senilai US$ 177 juta. (lia)

Related posts