BI Rate Naik: Peluang bagi Bursa?

Oleh : Dr. Agus S Irfani

Lektor Kepala FE Univ. Pancasila

Dalam sebulan terakhir ini Bank Indonesia (BI) telah tiga kali menaikkan suku bunga acuan dari 6,50% (15/8), ke 7,00% (29/8), dan menjadi 7,25% (12/09). Peningkatan BI Rate secara sporadis ini mengindikasikan semakin beratnya tekanan makroekonomi Indonesia seiring dengan masih terpuruknya nilai rupiah yang hingga kini masih tertahan di atas Rp11.000 per US$. Hal ini meresahkan kalangan pebisnis di sektor industri seiring dengan meningkatnya biaya modal perbankan untuk ekspansi yang berpotensi mengganjal pertumbuhan sektor riil tahun ini.

Kondisi ini juga menyulut sentimen negatif di kalangan pelaku pasar di bursa efek. Bahkan menjelang digelarnya rapat dewan gubernur BI (12/09), bursa kembali terkoreksi 0.20% ke angka 4.349,42 seiring dengan maraknya aksi profit taking setelah indeks harga saham gabungan (IHSG) sempat rebound 7,4% selama beberapa hari terakhir.

Kemudian, fakta bursa di akhir perdagangan pekan lalu (13/09) berkata lain, IHSG kembali melonjak 7,44% ke level 4.375,53, seiring dengan menguatnya rupiah sebesar 0,86% ke angka Rp11.395,- per dolar AS. Realitas ini mengindikasikan anggapan investor bahwa pelemahan rupiah sudah mencapai bottom level dan diduga akan segera bereaksi positif menguat seiring dengan meningkatnya suku bunga acuan BI 7,25%.

Lonjakan IHSG pekan lalu disumbang oleh naiknya secara signifikan harga saham-saham big cap di sektor perbankan yang menjadi incaran para investor asing. Saham-saham tersebut adalah BBCA naik 13,00%, BBRI naik 16,29%, dan BMRI naik 26,90%. Sementara di bursa regional, indeks Hang Seng Hong Kong dan Straits Times Singapura turun, masing-masing 0,17% dan 0,02%.

Selain untuk menekan impor guna memulihkan posisi neraca perdagangan Indonesia yang akhir-akhir ini secara fenomenal diduga sebagai sumber melemahnya rupiah, kenaikan BI Rate juga diperlukan untuk mengantisipasi rencana The Fed mengurangi stimulus moneter AS (tapering off) pekan ini (17-18/09). Jika rencana ini jadi diterapkan secara agresif maka akan menjadi ancaman serius bagi bursa lokal seiring dengan meresotnya minat investor asing masuk ke emerging market.

Meski terdepresiasinya rupiah lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal yang sulit dikendalikan oleh otoritas dalam negeri, setidaknya kebijakan bank sentral dalam menaikkan BI rate tersebut merefleksi keseriusan bank sentral untuk segera mengatasi pelemahan rupiah yang sekaligus memperbaiki kondisi makroekonomi Indonesia agar masih menjadi pilihan bagi investor asing.

Berdasarkan data perdagangan di bursa, jika pada pekan lalu investor asing mencatatkan jual bersih Rp803,32 miliar, sepanjang pekan ini aksi net buy investor (terutama asing) mencapai Rp2,07 triliun. Hal inilah yang diduga sebagi penyumbang meningkatnya kinerja IHSG akhir pekan lalu dengan peningkatan nilai transaksi sebesar 37,42% dari pekan sebelumnya menjadi Rp34,37 triliun.

Dilihat dari adanya korelasi positif antara perkembangan nilai rupiah dan pertumbuhan IHSG, meningkatnya BI Rate dapat menjadi peluang bagi kinerja bursa. Akan tetapi pasar harus tetap mewaspadai kemungkinan terjadinya volatilitas bursa efek Indonesia hingga akhir bulan ini sebagai antisipasi hasil pertemuan yang digelar oleh The Fed soal tapering off pada pekan ini.

BERITA TERKAIT

ICDX Berambisi Masuk 10 Besar Bursa di Dunia - Agresif Luncurkan Kontrak Baru

NERACA Jakarta – Seiring dengan pulihnya harga komoditas dunia, mendorong Indonesia Commodity and Derivative Exchange (ICDX) menargetkan transaksi lebih besar…

Naik 18 Persen, Industri Manufaktur Kerek Ekspor RI ke Australia - Niaga Internasional

NERACA Jakarta – Industri manufaktur berperan besar dalam mendongkrak peningkatan nilai ekspor Indonesia, salah satunya ke negara tujuan seperti Australia.…

Tingkat Bunga Penjaminan LPS Naik 25 Bps

      NERACA   Jakarta - Rapat Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menetapkan tingkat bunga penjaminan untuk periode…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Nasib Perang Dagang AS-China

  Oleh: Izzudin Al Farras Adha Peneliti INDEF   Perang dagang AS-China yang ramai sejak awal tahun ini terus berlangsung…

Membangun Industri Substitusi Impor

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Masalah Ekonomi dan Industri   Dengan gejolak nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang tembus pada…

SK(T)M

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo SK(T)M pada judul diatas sejatinya terdiri dari 2 kata…