Kedelai dan Keledai

Rabu, 11/09/2013

Oleh: Dzulfian Syafrian

Peneliti INDEF

Terus melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar amerika mulai terasa dampaknya di sektor riil. Depresiasi yang nyaris menembus Rp12.000/US$ dituding sebagai penyebab utama meningkatnya harga kedelai di pasaran. Harga kedelai melambung di atas Rp9.000/kg-nya, bahkan di beberapa daerah bisa mencapai Rp10.000/kg. Kenaikan ini jelas sangat memukul para produsen tahu-tempe nasional. Alhasil, para pengusaha tahu-tempe mengancam akan melakukan aksi nasional untuk berhenti memproduksi tempe selama tiga hari.

Melonjaknya harga kedelai di pasaran sebenarnya bukan lah fenomena baru. Pada 2008, harga kedelai melonjak lebih dari 100% dari kisaran Rp3.000/kg menjadi Rp7.500/kg. Tahun lalu, tepatnya Juli-Agustus 2012, harga kedelai juga melambung cukup tinggi dari Rp6.700/kg ke level Rp8.000/kg.

Jika kita lihat pola pada 2008, 2012, dan 2013, ada dua permasalahan klasik penyebab ketidakstabilan harga kedelai di Indonesia. Pertama, rendahnya produksi dalam negeri. Dari total kebutuhan sekitar 2,4 juta ton/tahun, petani kita hanya mampu memenuhi tidak lebih dari 30% kebutuhan dalam negeri.

Selain terus terjadi peningkatan di sisi permintaan, di sisi penawaran justru terjadi penurunan drastis produksi kedelai sejak krisis 1998. Pada dekade 1990-an Indonesia mampu memproduksi kedelai sebanyak 1,4-1,6 juta ton, namun pada 2011 hanya tercatat sebesar 851 ribu ton.

Rendahnya produktivitas dan terbatasnya lahan pertanian kedelai adalah dua penyebab utama mengapa produksi kedelai Indonesia terus menurun. Dengan asumsi produktivitas 2 ton/hektar, setidaknya Indonesia membutuhkan sekitar 1,25 juta hektar atau masih perlu penambahan lebih dari 600 ribu hektar lagi. Sebenarnya, Kementerian Pertanian sudah memiliki target untuk melakukan ekstensifikasi lahan hinga 220 ribu hektar, namun yang terealisasi baru sekitar 25% saja.

Selain itu, luas kepemilikan lahan rata-rata petani kedelai Indonesia juga sangat minim. Petani kita rata-rata hanya memiliki 0,3 hektar, sedangkan petani kedelai di Amerika didukung oleh luas kepemilikan lahan rata-rata 60 hektar. Selain itu, tidak adanya insentif dari pemerintah serta rendahnya harga jual membuat petani kedelai enggan untuk meningkatkan produktivitasnya. Dengan kondisi seperti ini, sulit jika petani kita diminta bersaing dengan kedelai impor dari Amerika.

Kedua, ketergantungan impor. sebagian besar (sekitar 66%) kedelai impor Indonesia berasal dari negeri Paman Sam. Selain harganya yang lebih terjangkau, kedelai Amerika juga terkenal karena teksturnya lebih bagus dan ukurannya lebih besar. Tidak heran jika para pengusaha lebih memilih kedelai Amerika dibandingkan kedelai dari negara lain atau kedelai lokal.

Gejolak kurs dan gangguan iklim adalah dua konsekuensi utama ketergantungan Indonesia terhadap kedelai Amerika. Ketika rupiah terdepresiasi terhadap dollar seperti saat ini, jangan heran jika para pengusaha berteriak karena harga kedelai memang tak mampu terbeli.

Selain itu, jika terjadi penurunan produksi kedelai di Amerika (misalnya karena disebabkan oleh perubahan iklim seperti yang terjadi pada 2008) pasokan kedelai dunia juga akan ikut menurun, termasuk pasokan untuk Indonesia. Alhasil, kenaikan harga kedelai di dalam negeri tak terhindarkan.

Itulah beberapa permasalahan klasik kedelai di Indonesia. Pelemahan rupiah terhadap dolar, berkurangnya pasokan kedelai dari Amerika, tidak mencukupinya produksi dalam negeri, adalah tiga alasan utama yang selalu digembar-gemborkan. Permasalahan-permasalahan klasik ini tidak akan pernah selesai jika solusi yang ditawarkan pemerintah bersifar sementara, ad hoc, dan parsial. Oleh karena itu, jangan heran jika permasalahanan ini akan terus terjadi kembali. Tidak ubahnya bak seekor keledai dungu, selalu (dan akan) jatuh di lubang yang sama.