CSIS: Indonesia Perlu Pertumbuhan Rendah

Dukung IMF

Selasa, 10/09/2013

NERACA

Jakarta – Berbeda dengan banyak ekonom, Senior ekonom Center for Strategic and International Studies (CSIS), Haryo Aswicahyono justru menyatakan Indonesia butuh pertumbuhan ekonomi yang rendah. Haryo sepakat dengan prediksi Dana Moneter Internasional (IMF) yang menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2013 ini diprediksi sebesar 5,25%.

“Saya cenderung percaya IMF ketimbang yang lain,” kata Haryo kepada Neraca, Senin (9/9).

Pada Anggaran Pendapatan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2013 tercatat bahwa Indonesia menarget pertumbuhan ekonomi sebesar 6,3%. Namun pada kenyataannya, di semester I 2013 pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah sebesar 5,92%.

Pemerintah memang mempunyai outlook yang sudah disampaikan ke DPR bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia akan kurang dari 6%, tetapi angka 5,25% dirasa Pemerintah terlalu jauh. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF), Bambang PS Brodjonegoro, menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak akan serendah proyeksi IMF Ia beralasan, hal tersebut disebabkan basis pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini lebih kuat jika dibandingkan tahun 2008.

“Kalau keseluruhan tahun (proyeksi IMF) 5,25%, berarti semester kedua pertumbuhan 4,5%, itu mirip kondisi 2008. Tapi pada 2008, basis pertumbuhan konsumsi kita belum sekuat sekarang dan investasinya belum setinggi sekarang,” kata Bambang.

Sebagai Kepala BKF, Bambang optimis pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini akan mencapai kisaran 5,9% – 6,0%, karena basis pertumbuhan konsumsi dan investasi lebih baik dibandingkan lima tahun lalu, ketika krisis 2008 terjadi. “Kita ada tantangan untuk mengupayakan 5,9%. Angka 4,5% di semester kedua seperti 2008, dengan asumsi pertumbuhan konsumsi turun, padahal sekarang konsumsi basisnya lebih kuat,” kata Bambang.

Institute for Development of Economics and Science (Indef) pada awalnya memprediksi pertumbuhan ekonomi di Indonesia tahun 2013 ini akan tumbuh sebesar 5,9%. Namun kemudian prediksi itu diubah seiring dengan kebijakan Pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi. Sejak kenaikan tersebut sampai sekarang Indef masih memprediksi Indonesia tumbuh sebesar 5,6%-5,7%.

“Prediksi IMF terlalu rendah. Prediksi Indef itu dengan asumsi konsumsi turun tinggal sekitar 4%. Jadi kalau di triwulan 3 dan triwulan 4 konsumsi drop sampai 4%, maka pertumbuhan 5,6%-5,7% masih bisa mestinya,” kata Direktur Eksekutif Indef Enny Sri Hartati kepada Neraca.

Dibanding pandangan banyak pihak, Haryo justru melihat penting bagi Indonesia saat ini untuk mengurangi pertumbuhan ekonominya. Jika investasi menurun yang kemudian akan menyebabkan pertumbuhan ekonomi menurun, maka impor tidak perlu sebanyak sekarang. Jika impor tidak sebanyak sekarang, maka neraca pembayaran bisa menurun.

“Neraca pembayaran bisa turun kalau pertumbuhan tidak tinggi. Kalau pertumbuhan tinggi, impor besar, sementara ekspor sedang lemah, maka Bank Indonesia menurunkan suku bunga. Kredit berkurang. Jadi keliru,” jelas Haryo. Menurut dia, pertumbuhan tinggi tidaklah diperlukan karena saat ini Indonesia tidak bisa mengandalkan ekspor akibat pelemahan yang terjadi di pasar internasional. [iqbal]