Industri Kosmetik Diprediksi Tumbuh 15%

Hingga Akhir 2013

Rabu, 04/09/2013

NERACA

Jakarta - Gonjang ganjing perekonomian nasional nampaknya belum mempengaruhi kinerja industri kosmetik nasional. Tingginya permintaan dari dalam dan luar negeri menjadi salah satu alasan industri kosmetik tetap tumbuh. Bahkan, pemerintah mengklaim kalau pertumbuhan industri kosmetik nasional sampai akhir tahun ini mencapai 15%.

Direktur Jenderal Basis Industri Manufaktur (BIM) Kementerian Perindustrian Benny Wachjudi menuturkan omzet industri kosmetik diprediksi naik mencapai Rp 11,2 triliun atau tumbuh 15% dari 2012 yang sebesar Rp 9,7 triliun. Dengan nilai ekspor melonjak tajam dari Rp 3 triliun menjadi Rp 9 triliun.

"Dari sisi tenaga kerja, Indonesia memiliki 760 industri kosmetik yang tersebar di berbagai wilayah. Jumlah penyerapan tenaga kerjanya mencapai 75 ribu orang secara langsung dan 600 ribu orang yang bekerja di bidang pemasaran," ujarnya di sela-sela acara pameran industri kosmetik dan obat tradisional di Jakarta, Selasa (3/9).

Lebih jauh lagi Benny mengatakan dari sisi kapasitas produksi, omzet, penjualan, variasi produk, perolehan devisa dan tenaga kerja sehingga dapat dijadikan sebagai industri andalan yang mampu menggerakkan roda perekonomian nasional.

Namun, yang menjadi masalah saat ini, Ketua Umum Persatuan Perusahaan Kosmetika Indonesia (Perkosmi), Putri K Wardhani mengungkap kalau setiap tahun pasar kosmetik dan toiletris di tanah air selalu saja dibanjiri produk impor. Baik yang ilegal maupun legal.Yang mengagetkan adalah jumlah omzet dari produk impor ilegal tersebut menembus angka Rp15-Rp16 trilun atau dengan kata lain 20 % dari total omzet kosmetik dan toiletries yang mencapai Rp80 triliun pada tahun ini. “Tahun ini total omzet kosmetik diprediksi menembus angka Rp80 triliun secara keseluruhan,” kata Putri.

Produk ilegal tersebut kata Putri masuk melalui pelabuhan tikus disekitar perbatasan negara kita. Dan itu terjadi terus menerus.“Kita terus minta pemerintah untuk membenahi ini,” ungkapnya.

Putri juga mengatakan kalau problem industri kosmetik berasal dari ketentuan peredaran produk impor yang tidak memerlukan izin Badan Pengawas Obat Makanan (BPOM).

Hal ini dinilai sangat membahayakan konsumen Indonesia. Ditambah lagi, banyak kosmetik dan jamu Malaysia dan China yang beredar di pasaran.“Kami juga khawatir terhadap pemberlakuan bea masuk 0 % ASEAN China Free Trade Agreement (ACFTA). Ini menyerang industri menegah ke bawah. Kita harus melakukan promosi untuk bersaing,” ujar Putri.

Melihat kondisi yang mempri­hatinkan itu, ia berharap peme­rintah memberikan per­hatian khusus guna mendorong pertumbuhan industri kosmetik di dalam negeri. ”Kami kan sudah berikan kontribusi pajak kepada negara. Kami berharap agar pemerintah mendukung pelaku industri nasional,” jelasnya.

Masalah lain industri kosmetik adalah aturan yang lemah dari Kementerian Kesehatan dan BPOM. Dikatakan, industri dalam negeri diharuskan melakukan promosi dan kemasan yang memberikan kejelasan kepada konsumen. Sementara produk asing dibebaskan untuk mengatakan apa saja saat promosi.“Banyak jamu China dan klinik jamu yang mengklaim bisa sembuhkan penyakit, sementara produk itu tidak dapat persetujuan BPOM. Lalu siapa yang bisa jamin keselamatan konsumen?” sambungnya.

Dikatakan, peluang industri ja­mu sangat tinggi tapi belum di­manfaatkan secara optimal. Di Indonesia, pasarnya jamu belum berkembang. Sementara pertum­buhan industri kosmetik masih kecil, hanya mencapai 10 %.Tahun lalu, omzet kosmetik lokal mencapai Rp 35 triliun dan pasar konsumsi sekitar Rp 50 triliun.

Bahan Baku

Ditempat yang sama, Ketua Umum Perkosmi Nuning S. Barwa mendesak pemerintah agar membantu mengatasi permasalahan kelangkaan bahan baku di pasar dalam negeri. Akibat minimnya pasokan bahan baku dan bahan penolong di pasar lokal, produsen komestik saat ini masih sangat menggantungkan dari suplai bahan baku impor. Persatuan Perusahaan Kosmetika Indonesia (Perkosmi) melaporkan angka impor bahan baku di industri kosmetik nasional saat ini mencapai 70% dari total kebutuhan.

Untuk mengatasi kelangkaan pasokan bahan baku tersebut, Nuning mengatakan, pihaknya saat ini tengah berkoordinasi dengan Kementerian Perindustrian dalam menggenjot produksi bahan baku kosmetik. Produksi bahan baku kosmetik nasional ditargetkan akan naik 10%-15% per tahun.

Saat ini, Indonesia masih mengimpor bahan baku dan penolong, terutama fragrances dari Eropa. Dijelaskan, Perkosmi bekerja sama dengan Kementerian Perindustrian untuk meningkatkan produksi karena bahan baku lokal harganya terjangkau, sehingga pelaku usaha pun bisa mandiri dan bersaing.

Nuning menuturkan, potensi bahan baku di dalam negeri sebenarnya sangat melimpah. Sayang, potensi sumber daya alam yang tersedia itu belum dimanfaatkan secara optimal. Jika bisa digali secara maksimal, Nuning yakin menjadi peluang bagi industri kosmetik nasional untuk meningkatkan daya saing produk, sehingga beberapa perusahaan kosmetika dan jamu bisa melakukan perluasan.

Nuning berharap pemerintah terus berupaya menciptakan iklim usaha yang kondusif agar dunia usaha tetap bergairah melakukan investasinya di Indonesia. “Indonesia itu kaya sumber daya alam untuk bahan baku kosmetik, sayang belum dimanfaatkan,” ungkap Nuning.