BPS Rilis 10 Penyebab Inflasi Agustus

Bahan Makanan Mendominasi

Selasa, 03/09/2013

NERACA

Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) melansir data inflasi bulan Agustus 2013 sebesar 1,12%. Angka inflasi ini adalah yang tertinggi sejak 14 tahun terakhir. “Sebelumnya yang lebih tinggi dari ini adalah pada tahun 1999,” kata Kepala BPS Suryamin di Jakarta, Senin (2/9). Menurut dia, pendorong terbesar tingginya inflasi Agustus adalah karena adanya Hari Raya Idul Fitri yang jatuh pada minggu kedua Agustus.

“Tidak bisa dibandingkan begitu saja bahwa ini adalah yang tertinggi dalam 14 tahun terakhir. Ini terjadi karena adanya lebaran,” kata Suryamin. Dia pun menjelaskan komoditas-komoditas yang menyebabkan inflasi Agustus begitu tinggi. Pertama adalah emas perhiasan yang andilnya terhadap inflasi Agustus adalah 0,12%.

Perubahan harga yang terjadi secara rata-rata di 66 kota Indeks Harga Konsumen (IHK) yang dijadikan basis pengambilan data BPS adalah sebesar 6,11%. “Ini karena harga emas internasional naik. Kenaikan terjadi di 57 kota IHK dengan kenaikan tertinggi di Padang sebesar 15% dan Jember 13%,” jelas Suryamin.

Penyebab kedua inflasi adalah ikan segar dengan andil sebesar 0,11%. Perubahan harga yang terjadi adalah sebesar 3,68%. Kenaikan ini dikarenakan pengaruh cuaca sehingga berkurangnya aktivitas nelayan. Beberapa harga ikan yang naik adalah ikan bandeng yang naik sebesar 3,75% dan ikan kembung sebesar 3,84%.

Tarif listrik adalah penyebab inflasi ketiga terbesar pada Agustus 2013. Tarif ini masuk kategori administered price, artinya harga tersebut dikendalikan Pemerintah dan kenaikan tersebut memang keputusan Pemerintah. Andil terhadap inflasinya sebesar 0,1% dan perubahan harga yang terjadi sebesar 3,97%. Kenaikan tarif listrik sudah terjadi di seluruh kota IHK dengan rentang kenaikan 0,96-5,36%.

Tarif angkutan kota memiliki andil terhadap inflasi sebesar 0,09%, dengan begitu tarif angkutan kota menjadi penyebab inflasi nomor empat. Perubahan harga yang terjadi adalah sebesar 12,95% dengan kenaikan tertinggi terjadi di Semarang sebesar 39% dan Jember sebesar 36%. Sebanyak 42 kota IHK mengalami kenaikan tarif angkutan kota.

“Kenaikan tarif ini akibat adanya kenaikan harga tiket sebelum dan sesudah lebaran, karena sebagian Agustus masih ada puasanya dan setelah puasa ada arus balik,” jelas Suryamin.

Andil terbesar kelima terhadap inflasi Agustus 2013 adalah bawang merah yang berkontribusi sebesar 0,07% dengan perubahan harga yang terjadi sebesar 5,26%. Sementara penyebab inflasi di urutan keenam adalah kentang dengan andil sebesar 0,04% dan kenaikan harga sebesar 13,38%.

Menurut Suryamin, kenaikan harga kentang terjadi karena permintaan yang tinggi pada puasa dan hari raya Idul Fitri. Kenaikan harga kentang terjadi di 64 kota IHK dengan kota yang mengalami kenaikan tertinggi adalah Balikpapan sebesar 32% dan Cirebon sebesar 28%.

Andil inflasi terbesar ketujuh disebabkan oleh tarif angkutan udara dengan andil sebesar 0,04% dan perubahan harga yang terjadi sebesar 4,19%. “Kenaikan harga terjadi karena permintaan jasa angkutan udara yang meningkat. Kenaikan terjadi di 30 kota IHK dengan kenaikan tertinggi di Pangkal Pinang sebesar 69% dan Bandung sebesar 26%,” jelas Suryamin.

Beras masuk dalam penyebab inflasi urutan kedelapan. Dengan kenaikan harga sebesar 0,59%, beras ikut andil terhadap inflasi sebesar 0,03%. Kenaikan harga beras terjadi di 52 kota IHK dengan kenaikan tertinggi terjadi di Ternate, Pontianak, Kediri, Balikpapan, Bima, Surabaya, dan Bekasi yang kesemuanya naik sebesar 2%.

“Naiknya harga beras adalah karena memang saat ini masih dalam musim tanam,” ujar Suryamin.

Penyebab inflasi kesembilan adalah tomat sayur dengan andil sebesar 0,03% dan kenaikan harga sebesar 16,36%. Kenaikan harga tomat sayur yang terjadi di 38 kota IHK ini disebabkan kurangnya pasokan di pasaran. Bima mengalami kenaikan tertinggi, yaitu sebesar 88%, disusul Palangkaraya dan Tegal yang masing-masing mengalami kenaikan sebesar 46%.

Keniakan harga kelapa sebesar 12,03% ikut andil menyebabkan inflasi sebesar 0,03% dan menjadi penyebab inflasi kesepuluh. Sebanyak 47 kota IHK mengalami kenaikan dengan kenaikan tertinggi di Jember sebesar 35%. Menurut Suryamin, kenaikan harga kelapa disebabkan oleh permintaan yang tinggi untuk hari raya Idul Fitri.

Bahan makanan dongkrak inflasi

Kenaikan harga bahan-bahan makanan masih menjadi faktor pendorong terbesar inflasi. Selain kesepuluh komoditas yang tersebut di atas, penggerek inflasi juga didominasi oleh bahan-bahan makanan. Beberap di antaranya adalah daging sapi, mie, serta nasi dengan lauk.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati mengatakan bahwa inflasi yang disebabkan bahan makanan seperti yang terjadi di Indonesia adalah penyakit dan bukti dari buruknya fundamental ekonomi. Kondisi ini diperparah dengan tata niaga yang buruk. Belum lagi ekspektasi inflasi yang terjadi di masyarakat.

“Di masyarakat terjadi ekspektasi inflasi. Misalnya yang terjadi di harga kedelai yang meningkat akibat nilai tukar Rupiah yang melemah dan kedelai merupakan barang impor. Ketika itu menyebabkan tahu dan tempe mahal di pasaran, yang lain ikut mahal. Ini juga terjadi di buah impor yang ikut menyebabkan buah lokal mahal. Ini yang disebut ekspektasi inflasi dari masyarakat,” jelas Enny kepada Neraca. [iqbal]