Menjaga Stabilitas Ekonomi dengan Memaksimalkan UMKM - Ditengah Anjloknya Rupiah

Ditengah anjloknya nilai Rupiah, UMKM mampu bertahan dan menciptakan lapangan kerja serta menjaga stabilitas ekonomi negara.

NERACA

Di Indonesia, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM)adalah tulang punggung negara. Buktinya, ketika terjadi krisis penurunan nilai Rupiah terhadap Dolar AS yang terjadi belakangan ini, banyak perusahaan besar yang tidak mampu menahan perekonomian perusahaannya. Akibatnya banyak perusahaan besar stagnasi atau behenti beraktivitas bahkan ada yang harus mem-PHK para pekerja untuk meringankan biaya produksi.

Hal ini menunjukkan perusahaan besar tidak dapat menolong perekonomian negara malah mereka memberi beban kepada pemerintah, yakni dengan adanya banyak pengangguran yang terjadi.

Lain halnya dengan UMKM. Meskipun tidak menutup mata bahwa UMKM juga akan kena imbas yang besar. Namun, UMKM terbukti Tangguh menghadapi macam-macam krisis. Ditengah anjloknya nilai Rupiah, UMKM mampu menciptakan lapangan kerja dan mensejahterakan semua karyawan yang bernaung di dalam UMKM itu sendiri.

Dalam suatu kesempatan, Menteri Koperasi dan UKM (Menkop), Syariefuddin Hasan menuturkan bahwa sektor UMKM mampu menyediakan 99,04 % lapangan kerja serta memberikan sumbangan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nonmigas hingga mencapai 63,11 %.

\"Tahun lalu, kontribusi sektor UMKM terhadap PDB mencapai hampir 56 %,\" ujar dia belum lama ini.

Dengan melihat pentingnya peran UMKM, Menkop berpendapat bahwa pengembangan UMKM harus menjadi salah satu pilar pembangunan ekonomi nasional yang mengedepankan pemberdayaan secara konsisten dan tepat sasaran, semangat kewirausahaan yang tinggi, kebebasan berusaha dan berkreasi, serta kesempatan yang sama dalam memperoleh pendidikan, teknologi, dan informasi.

\"Dengan demikian UMKM akan mampu lebih berperan dalam menyediakan lapangan kerja, memenuhi kebutuhan masyarakat, dan menggerakkan roda perekonomian nasional berbasis ekonomi kerakyatan,\" kata dia.

Oleh karena itu, upaya-upaya pengembangan dan pemberdayaan dengan melibatkan berbagai pihak untuk menjadikan UMKM sebagai usaha yang tangguh dan mandiri dalam perekonomian nasional mutlak dilakukan. Pemberdayaan UMKM tidak hanya menjadi tugas dan tanggungjawab pemerintah pusat dan daerah, namun juga menjadi tugas dan tanggungjawab dunia usaha.

Sebagaimana dijelaskan Undang-undang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah No. 20 Tahun 2008 pasal 7 (tujuh), bahwa Dunia Usaha(Corporation)berperan serta menumbuhkan iklim usaha kondusif, yaitu dalam aspek pendanaan, sarana dan prasarana, informasi usaha, kemitraan, perizinan usaha, kesempatan berusaha, promosi dagang serta dukungan kelembagaan.

Karena itu, beberapa waktu lalu PT Bank Central Asia Tbk (BCA) melalui anak usahnya BCA Syariah terus menggenjot pembiayaan untuk UMKM. Salah satunya adalah fasilitas pembiayaan berupa line facility PMK Musyarakah atau executing (revolving) sebesar Rp 30 miliar kepada Baitul Maal wat Tamwil (BMT) Sidogiri.

Pembiayaan tersebut selanjutnya digunakan untuk penyaluran pembiayaan kepada anggota maupun calon anggota koperasi serta tambahan modal pengembangan unit-unit usaha yang dijalankan Koperasi BMT Sidogiri dengan jangka waktu pembiayaan maksimal 36 bulan. Alhasil, Koperasi BMT Sidogiri tercatat memiliki anggota hingga 5.533 orang dengan total aset mencapai Rp3 triliun.

Bimbingan Financial

Selain BCA, Citi Indonesia juga melakukan upaya pemberdayaan UMKM melalui Citi Microentrepreneurship Award (CMA), salah satu bentuk nyata kepedulian Citi Indonesia yang berupa dukungan dan penghargaan kepada para pelaku usaha mikro dengan omzet tahunan di bawah Rp100 juta, sekaligus perluasan jejaring untuk Lembaga Keuangan Mikro (LKM) yang memberi pinjaman bagi pelaku UMKM tersebut.

Ya, Citi Indonesia terus berkomitmen untuk menjalin sinergi dengan mitra-mitra strategis untuk membantu masyarakat di bidang finansial melalui dua cara yaitu bimbingan bagi para UMKM serta pendidikan keuangan bagi seluruh lapisan masyarakat. Program CMA ini diharapkan dapat semakin meningkatkan semangat para pelaku UMKM untuk mengembangkan usaha mereka

Sejak diluncurkan pada tahun 2005, sebanyak 4.403 pelaku usaha mikro dari seluruh pelosok Indonesia telah turut berpartisipasi dalam CMA, program ini juga sudah menghasilkan 82 orang pemenang. CMA saat ini telah memasuki tahun ke sembilan, dan ada empat kategori yang akan diperlombakan, yaitu Wirausaha Mikro Perempuan, Wirausaha Mikro Sosial, Wirausaha Mikro Berwawasan Lingkungan, dan Wirausaha Mikro Pelestarian Kebudayaan.

Untuk masing-masing kategori, dewan juri akan menetapkan dua pemenang yang berhak menerima hadiah pertama senilai Rp20 juta dan hadiah kedua Rp15 juta. Secara umum juga akan dipilih wirausaha mikro terbaik yang akan memperoleh Rp25 juta. Mulai tahun ini, CMA juga akan memilih Lembaga Keuangan Mikro dengan program pembinaan UKM yang paling inovatif.

Dalam kesempatan ini, Citi Indonesia bersama UKM Center FEUI juga meluncurkan bukuMerah Putih Usaha Mikro Indonesia. Buku yang mengulas cerita daya juang para finalis CMA sejak pertama kali diadakan dan diharapkan dapat menginspirasi banyak kalangan. Buku ini akan diperuntukkan bagi LKM dan pemberdaya pelaku usaha mikro di seluruh tanah air.

Untuk terus meningkatkan dukungan kepada pelaku usaha di Indonesia, mulai tahun ini Citi Indonesia bekerjasama dengan UKM Center FEUI mengadakanworkshopdi 5 kota yaitu Depok, Serang, Semarang, Yogyakarta dan Surabaya.

Workshop ini bertujuan untuk membina dan mendampingi pengusaha mikro peserta program dalam memajukan usaha yang mereka jalankan, selain sebagai sesi diskusiproblem solvingatas masalah yang mereka miliki dalam menjalankan usahanya.

Related posts