Depresiasi Rupiah, Ekspor Belum Tentu Membaik

NERACA

Jakarta – Depresiasi Rupiah yang sampai melewati Rp11 ribu per dolar AS rupanya tidak serta merta membuat pengusaha yang produknya berorientasi ekspor gembira. Setidaknya terdapat dua hal yang menjadi beban pikiran para eksportir tersebut. Pertama adalah utang mereka yang juga dalam bentuk dolar. Kedua adalah daya beli pasar global yang menurun akibat perlambatan pertumbuhan ekonomi yang masif terjadi di seluruh dunia. Pernyataan tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono kepada Neraca di Jakarta. “Beberapa pelaku usaha mempunyai utang dalam bentuk dolar. Pelemahan rupiah tidak baik bagi mereka. Meski penjualan produk mereka dalam bentuk dolar, tetapi jadinya impas-impas saja dengan utang mereka yang juga dalam bentuk dolar,” katanya.

Crude Palm Oil (CPO) adalah salah satu produk turunan dari kelapa sawit yang menjadi andalan Indonesia dalam ekspor. Dalam laporan Badan Pusat Statistik (BPS), Kepala BPS Suryamin mengatakan bahwa nilai ekspor Indonesia menurun salah satunya karena harga-harga komoditas di pasar internasional menurun, termasuk harga CPO. “Nilai berkurang bukan karena volume ekspornya yang menurun, tetapi lebih karena harga komoditasnya yang menurun. Jadi nilainya secara total menurun,” kata Suryamin saat menyampaikan laporan BPS awal Agustus lalu.

Namun begitu, Joko mengingatkan, meski secara volume tidak terjadi pengurangan di pasar internasional, tetapi Pemerintah perlu juga berhati-hati dengan perlambatan ekonomi yang terjadi mengglobal, terutama China dan India.

Kedua negara tersebut adalah importir setia CPO Indonesia. Sayangnya, kedua negara tersebut juga mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi. Target-target pertumbuhan ekonomi dari berbagai negara termasuk China, direvisi dan diturunkan.

“Kita perlu waspada dengan perlambatan ekonomi di China dan India. Ekspor CPO Indonesia bisa jadi dalam waktu ke depan akan menurun terutama ke dua negara tersebut,” kata Joko.

Joko merekomendasikan Pemerintah untuk memanfaatkan depresiasi Rupiah ini dengan mendorong ekspor agar neraca perdagangan Indonesia tidak terus mengalami defisit. Dengan didorongnya ekspor, dan ditambah dengan menurunnya impor, maka Indonesia bisa tidak defisit lagi neraca perdagangannya. Lambat laun, nilai Rupiah akan menguat kembali. Menurut Joko, salah satu langkah untuk mendorong ekspor adalah dengan mengenolkan bea keluar CPO.

Namun begitu, setidaknya terdapat dua efek lanjutan jika bea keluar CPO dinolkan atau dikurangi. Pertama jelas akan terjadi pengurangan pendapatan negara. Kedua, dengan mengenolkan bea keluar, berarti Pemerintah tidak benar-benar serius melakukan hilirisasi.

Ekonom Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih mengemukakan hal tersebut. “Sebaiknya Pemerintah memikirkan matang-matang kebijakannya. Coba nanti kalau terjadi krisis CPO di dalam negeri. Akhirnya balik lagi diberlakukan bea keluar. Jadi kebijakan harusnya dipikirkan efeknya,” kata Lana.

Data BPS menunjukkan bahwa nilai ekspor CPO sepanjang 2013 berfluktuasi. Pada Januari 2013, nilai ekspor CPO sebesar US$776 juta. Nilai ekspor berkurang di bulan Februari 2013, yaitu US$481 juta. Penurunan nilai ekspor terjadi lagi di bulan Maret, April, dan Mei, yaitu US$342 juta, US$344 juta, dan US$398 juta. Sedangkan angka sementara nilai ekspor sawit pada Juni 2013 adalah US$403 juta.

Kontribusi ekspor CPO Indonesia cukup besar, meskipun bukan yang terbesar. Ekspor bahan bakar mineral masih menjadi juara satu ekspor non-migas Indonesia, yang nilai kumulatifnya dari Januari sampai Juli 2013 adalah US$12,97 miliar. Bahan bakar mineral yang dimaksud utamanya adalah batu bara.

Sedangkan kontributor ekspor non-migas kedua terbesar adalah dari golongan minyak hewan/nabati yang didominasi oleh CPO. Nilai ekspor dari golongan ini dari Januari sampai Juli 2013 adalah US$12,97 miliar.

Pangsa pasar ekspor non migas terbesar Indonesia adalah ke China dengan nilai US$10,09 miliar dalam periode Januari sampai Juli 2013, lalu Jepang sebesar US$8,15 miliar dalam periode yang sama. Selanjutnya adalah Amerika Serikat yang nilai ekspor dari Indonesianya sebesar US$7,54 miliar. Ketiga negara tersebut mempunyai total pangsa ekspor sebesar 34,49% dari seluruh ekspor non-migas Indonesia. [iqbal]

Related posts