Rupiah Terkapar, IHSG Menukik

Selasa, 27/08/2013

Nilai tukar (kurs) rupiah dalam beberapa pekan terakhir terus terdepresiasi hingga lebih 10,9% menuju Rp 11.000 per US$ di tengah membengkaknya defisit neraca transaksi berjalan (current account) yang sudah berlangsung selama tujuh triwulan berturut-turut, dan mencapai puncak pada triwulan II-2013 hingga U$9,8 miliar, atau setara 4,4% dari produk domestik bruto (PDB).

Jika dibandingkan dengan situasi menjelang krisis 1998, besarnya current account tidak sampai separah itu. Walau defisit transaksi berjalan merupakan masalah struktural sebelum krisis, karena hampir selalu kita mengalaminya, tidak pernah menembus 4% dari PDB.

Jadi penyebab utama terpuruknya nilai rupiah, adalah semakin membengkaknya defisit tersebut. Karena current account merupakan fundamental paling ampuh dan menjadi sumber kekuatan utama dalam menghadapi gejolak eksternal, selain salah satu indikator yang mencerminkan tingkat kesehatan perekonomian. Struktur perekonomian yang melemah dan pertumbuhan ekonomi yang kurang berkualitas, akan terus menggerogoti neraca transaksi berjalan dan mengganggu keseimbangan eksternal.

Di sisi lan, kualitas pertumbuhan ekonomi Indonesia dari waktu ke waktu kian menurun. Sebelum krisis 1998, komposisi sektor tradeable hampir selalu lebih tinggi ketimbang sektor non-tradeable dalam menyumbang kontribusi pertumbuhan. Namun setelah krisis (2000-2004) keadaan menjadi berbalik yaitu rata-rata pertumbuhan sektor tradeable 3,6%, sedangkan sektor non-tradeable 5,8%.

Kemudian selama periode berikutnya (2005-2013), pertumbuhan sektor tradeable dan sektor non-tradeable masing-masing memberikan kontribusi pertumbuhan sebesar 3,6% dan 8,2%, sehingga terjadi kesenjangan pertumbuhan ekonomi nasional.

Adapun sektor jasa yang termasuk sektornon-tradable karena pada umumnya tidak langsung menghadapi persaingan dengan asing, terus memperlihatkan penguatannya dalam kontribusi terhadap PDB. Berbeda dengan sektor tradeable yang harus berjuang keras menghadapi persaingan langsung di pasar dalam negeri dengan barang-barang impor maupun di pasar luar negeri dengan barang-barang dari seluruh dunia.

Namun, untuk negara berkembang dengan pasar yang relatif besar seperti Indonesia, sektortradeable masih memiliki ruang gerak untuk terus tumbuh melebihi sektornon-tradeable. Karena, struktur perekonomian yang sehat akan terbentuk jika sektor tradeable mampu tumbuh hingga ke titik optimumnya, baru setelah itu sektornon-tradeable berangsur naik porsinya hingga melebihi sektortradeable. Jangan terbalik seperti situasi saat ini.

Ketika di zaman Orde Baru defisit current account ditutup dengan mengandalkan utang luar negeri dan penanaman modal asing langsung(foreign direct investment-FDI) yang kebanyakan berupa industri manufaktur berorientasi ekspor. Tetapi setelah reformasi, investasi portofolio ternyata masuk lebih deras ketimbang FDI, dan rentan mengganggu struktur finansial di negeri ini.

Bagaimanapun, investasi portofolio sangat sensitif terhadap perubahan makroekonomi dunia seperti yang terjadi sekarang ini. Dan, dampak investasi portofolio juga mengganggu stabilisasi pasar modal domestik, sehingga kondisi IHSG (indeks harga saham gabungan) pada waktu yang sama terus menukik hingga di bawah 4.000, lebih rendah dari target tahun ini 5.000.

Jadi, pilihan kebijakan untuk mengatasi problem rupiah dan IHSG, adalah segera menarik penanaman modal asing (FDI) dan membiarkan depresiasi rupiah agar dapat menahan laju impor demi memperbaiki defisit current account hingga akhir tahun ini.

Kemerosotan nilai rupiah dan kinerja pasar saham memang banyak dipengaruhi oleh faktor luar. Namun, jika daya tahan perekonomian cukup tangguh sebagai akibat dari strategi dan kebijakan dalam negeri yang solid, niscaya kemerosotan bisa ditahan dan bisa cepat kembali ke kondisi semula.