Sentimen Negatif Merusak Rupiah

Benahi Inflasi dan Defisit Neraca Berjalan

Jumat, 23/08/2013

NERACA

Jakarta – Salah satu asumsi makro pada RAPBN 2014 adalah nilai tukar rupiah terhadap Dolar Amerika setara dengan Rp 9.750. Padahal saat ini nilai tukar rupiah melemah sampai lebih dari Rp11.000. Sentimen negatif terhadap asumsi makro pemerintah dinilai menjadi salah satu penyebabnya.

“Memang banyak pengamat yang bilang asumsi makro dalam RAPBN 2014 kemarin menuai kecewa investor. Sehingga banyak dari mereka yang menarik modalnya dari dalam negeri. Ini bisa menjadi salah satu faktor yang membuat nilai tukar rupiah terhadap dollar kian melemah,” kata Pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia Telisa Aulia Falianty pada Neraca, Kamis (22/8).

Lebih dari itu Telisa menilai pelemahan nilai tukar rupiah paling besar berasal dari inflasi harga-harga komoditas di dalam negeri. Juga defisit neraca berjalan dan jatuhnya nilai bursa secara global dan regional yang cenderung kian memburuk. Untuk itu pemerintah memang harus segera memberbaiki kondisi ekonomi dalam negeri terlebih dahulu.

“Dalam kondisi seperti ini pemerintah semestinya segera mengendalikan inflasi. Karena defisit neraca berjalan kita juga cukup besar. Mencapai 4% dari GDP. Itu kan fantastik,” ungkap Telisa.

Sementara itu hingga akhir 2013 nilai tukar rupiah akan tetap berat jika inflasi dan defisit neraca berjalan tidak segera dibenahi. Meski begitu tetap akan terlihat perubahan pada triwulan III. Karena akan ada penyerapan APBN pada periode tersebut. “Nah, semoga saja pada triwulan tiga penyerapannya dapat berjalan maksimal. Agar di triwulan empat persoalan ini sudah terselesaikan. Atau minimal sudah lebih membaik,” terang Telisa.

Lanjut dalam kondisi seperti ini Telisa mengimbau agar masyarakat tidak panik. Sebab jika panik justru dapat membuat kondisi perekonomian semakin keruh. Untuk itu ia juga mengimbau agar masyarakat tetap melakukan perilaku ekonomi seperti biasanya. Setidaknya pada triwulan III situasi ini akan berubah secara perlahan. “Jangan panik. Itu merugikan diri kita sendiri nantinya. Lagipula kondisi makro ekonomi dunia juga sedang melemah hingga 2014. Jadi semua juga sedang merasakan hal yang sama,” tambahnya.

Kemudian ketika ditanya persoalan kemampuan pemilihan umum (Pemilu) 2014 dapat mendorong perbaikan nilai tukar rupiah, Telisa mengatakan secara teori keberadaan Pemilu memang pada sisi pengeluaran dapat mendorong gairah ekonomi riil dalam negeri. Karena akan banyak biaya kampanye dan aksi-aksi sosial yang mampu mendorong produktifitas masyarakat. Namun yang terpenting adalah keamanan dan kejujuran politik dapat terjamin. Dengan begitu kemungkinan sentiment negatif juga dapat dihindari.

“Pemilu 2014 nanti bisa saja mendorong pemulihan nilai tukar kita. Tapi perlu diingat, pemilu harus berjalan aman dan jujur. Jika tidak begitu justru sentimen negatif kian bermunculan. Pada akhirnya rupiah juga terus melemah. “Sangat dinantikan kedewasaan para politikus kita di tahun 2014 kalau mereka mau memperbaiki ekonomi,” tutupnya. (lulus)