RAPBN Kurang Akomodatif

Bergejolaknya indeks harga saham gabungan (IHSG) dan depresiasi nilai rupiah terhadap US$ kian deras belakangan ini, merupakan respon negatif terhadap RAPBN 2014 yang disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di DPR, pekan lalu. Dampaknya sekarang baru terasa pekan ini, dan menjadi ujian berat buat pemerintah ke depan.

Respon negatif ini muncul berasal dari asumsi dasar ekonomi makro dalam RAPBN yang terlihat kurang realistis dan akomodatif bagi pelaku ekonomi di negeri ini. Terkesan asumsi dasar ini disusun jauh dari realita perkembangan terkini, dengan ekspektasi terlalu tinggi yang terus menjadi iming-iming di tengah kondisi ekonomi global yang tak menentu.

Dibandingkan dengan APBN 2013 yang mematok pertumbuhan ekonomi sebesar 6,8%, namun kemudian di revisi dalam APBN-P 2013 menjadi 6,3% pada Juni 2013. Namun kenyataannya sampai sekarang belum tercapai. Pertumbuhan ekonomi kuartal I dan II tahun ini hanya mencapai 6,1% dan 5,9%. Ini berarti realita masih jauh dari yang ditargetkan sebesar 6,3%.

Apalagi pertumbuhan ekonomi didasari oleh perubahan dalam variabel konsumsi masyarakat, investasi, pengeluaran pemerintah, dan aktivitas perdagangan internasional. Sementara kondisi konsumsi masyarakat dan investasi kini cenderung menurun, neraca perdagangan mengalami defisit, dan pengeluaran pemerintah belum optimal hingga semester I-2013.

Nah, apabila target pertumbuhan ekonomi 2013 sebesar 6,3% sulit tercapai, apakah kita langsung seperti Robin Hood dapat menembus menjadi 6,4% pada 2014? Menurut hemat kami, sangat sulit sekali bahkan pertumbuhan ekonomi tahun ini saja diprediksi sekitar 5,9%, kecuali ada kebijaksanaan baru yang radikal dan terobosan inovatif yang cemerlang, yang mampu mendorong ekspektasi pelaku ekonomi di lapangan.

Kemudian melihat asumsi inflasi tahun depan sebesar 4,5%, itu tampaknya sulit dicapai. Pasalnya, tekanan inflasi pada 2014 diperkirakan masih cukup besar. Ini karena kebijakan pangan saat ini tidak menyelesaikan inti masalah pangan. Permasalahan pangan nasional adalah produksi pangan yang tidak mencukupi kebutuhan nasional.

Lalu persoalan ini diselesaikan dengan membuka kran impor beberapa komoditas pangan. Dalam jangka waktu pendek, masalah keterbatasan komoditas pangan mungkin dapat terselesaikan dengan keseimbangan permintaan dan penawaran. Namun, dalam jangka panjang belum tentu masalah krisis pangan dapat teratasi selama tidak ada perubahan positif dalam produksi pangan nasional di sektor pertanian.

Lantas apa indikator inflasi dapat diatasi dengan baik? Inflasi pada Juli 2013 sebesar 8,61% (yoy) justru malah menunjukkan pemerintah gagal dalam mengendalikan inflasi. Justru sering sekali inflasi terjadi akibat kesalahan pemerintah, baik dalam administrated price inflation seperti dicabutnya subsidi BBM, maupun volatile food inflation karena tidak mampu mendorong produksi pangan untuk mencukupi kebutuhan pangan domestik.

Dari gambaran tersebut, publik belum merasa yakin benar terhadap upaya perbaikan kebijakan pangan, membaiknya koordinasi kebijakan fiskal dan moneter, dan aktifnya pemerintah daerah dalam menjaga laju inflasi melalui Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) yang dipertanyakan kemampuannya mengendalikan inflasi.

Hal lain yang patut jadi perhatian, adalah kondisi kurs rupiah berada di level Rp 10.600 menuju Rp 11.000 per US$ dalam sebulan terakhir ini. Namun, dalam asumsi makro RAPBN 2014 tercantum Rp 9.750 per US$, sedangkan Bank Indonesia (BI) menegaskan bahwa rupiah sekarang menuju ekuilibrium baru di level Rp 10.000 per US$. Nah, ini terlihat tak ada koordinasi yang sinkron antara Kementerian Keuangan dan BI dalam menetapkan asumsi makro tersebut.

Menurut sejarah moneter, kebijakan The Fed tidak hanya berdampak bagi perekonomian AS, melainkan mencakup ekonomi dunia, termasuk Indonesia. Belum stabilnya perekonomian AS memungkinkan terjadinya inkonsistensi kebijaksanaan moneter. Jadi jangan heran fluktuasi nilai tukar rupiah sangat tergantung kebijakan moneter AS, di samping masalah internal defisit neraca perdagangan Indonesia yang diprediksi membaik dalam 2-3 tahun mendatang.

Related posts