Pasar Modal Terancam Crash

Imbas Asumsi RAPBN 2014 Tidak Realistis

Rabu, 21/08/2013

NERACA

Jakarta – Pasar saham Indonesia kembali bergejolak hingga Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang Selasa (20/8) terjun bebas 138,535 poin (3,21%). Dari posisi 4.400 ke level 4.174,983. Gejolak di pasar modal merupakan respon pelaku pasar yang negatif terhadap proyeksi pertumbuhan ekonomi pemerintah dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2014). Sinyalemen ini menandai munculnya ancaman crash kini mulai melanda bursa saham di republik ini.

Dalam RAPBN 2014, pertumbuhan ekonomi nasional pada tahun 2014 yang ditargetkan pemerintah antara 6,4% hingga 6,9%, dinilai tidak rasional.

Menurut Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada, imbas dari pidato kenegaraan Presiden SBY yang menyampaikan asumsi-asumsi makro dinilai pelaku pasar tidak realistis. “Sehingga kondisi ini memicu pelaku pasar cenderung melakukan aksi jual,” ujarnya kepada NERACA, Selasa (20/8).

Reza menambahkan, belum adanya pemicu positif dari lantai bursa membuat pelaku pasar cenderung melanjutkan aksi jualnya. Ditambah komentar-komentar dari para pejabat negara maupun OJK yang terkesan “tenang-tenang saja” juga tidak mampu meredam aksi jual tersebut.

Selain itu, imbuh dia, aksi jual kian melanda mayoritas bursa saham Asia dengan penilaian ekonomi Asia Pasifik akan mengalami pelemahan di tengah pengurangan stimulus The Fed sehingga diasumsikan akan mengurangi permintaan riskier asset dari emerging market. Selain itu, pelemahan juga dipicu anjloknya IHSG di tengah ekspektasi pengetatan ekonomi Indonesia dan SET Index dengan penilaian masuknya ekonomi Thailand ke dalam resesi.

Sementara pengamat pasar modal dari Universitas Indonesia (UI) Budi Frensidy, anjloknya IHSG disebabkan sentimen negatif dari dalam negeri. Seperti nilai tukar rupiah yang terus melemah, pelemahan ini disebabkan ekspor lebih rendah dari impor yang mengakibatkan defisit neraca perdagangan berjalan dan cadangan devisa terus turun. “Akibat berkurangnya cadangan devisa, kekuatan BI untuk mengintervensi nilai tukar rupiah semakin menurun,” kata dia kepada Neraca di Jakarta, Selasa (20/8).

Sehingga yang perlu diperhatikan oleh pemerintah dari efek berantai masalah ekonomi Indonesia adalah meningkatkan ekspor, terutama ekspor komoditi yang masih menjadi tulang punggung ekspor Indonesia. Selain itu, penyebab merosotnya IHSG adalah kepanikan pelaku pasar karena melihat asing melakukan net sell, hal ini membuat stabilitas di bursa tidak stabil lagi, “Hal ini harus diantisipasi oleh pihak otoritas untuk menenangkan kondisi kekhawatiran pelaku pasar,” tegasnya.

Melihat kejatuhan indeks yang cukup parah, dirinya menyakini pasar penawaran saham perdana (IPO) membuat tidak menarik lagi dimata calon emiten, “IPO tidak akan menarik lagi karena saham-saham yang sudah ada saat ini banyak yang dijual. Ditambah asing yang terus secara serempak melakukan aksi jual hingga triliunan dalam dua hari terakhir ini,” tandasnya.

Mengancam Pasar IPO

Budi mengungkap, sebaiknya jika memiliki kesempatan calon emiten mengundurkan dulu niatnya untuk listing di bursa dengan pertimbangan IHSG yang hanya dalam waktu dua hari terkoreksi cukup bnayak. Dia menyatakan bahwa sebaiknya menunggu hingga ke level 4.400 yang dinilai dia sebagai level aman untuk IHSG, “Jika melihat kondisi saat ini, sebaiknya menunggu hingga level aman pada 4.400 karena harus dipertimbangkan kondisi IHSG saat ini”, jelas dia.

Hal senada juga disampaikan pengamat bursa Alfred Nainggolan, anjloknya harga saham lebih dari 5% merupakan dampak dari berbagai macam problem dalam negeri. Sehingga iklim bursa mengalami sentimen negatif yang keras dari para investor. Untuk itu diharapkan investor lokal dapat berani melalukan pembelian saham. Sedangkan BUMN segera melakukan buy back. “Faktor utamanya merupakan dampak dari jatuhnya nilai tukar rupiah menjadi Rp 10.500. Belum lagi neraca perdagangan dan neraca pembayaran kita defisit. Itu semua membuat sentiment negatif begitu kuat,” kata Alfred.

Dia menambahkan, jika pun terjadi penguatan indeks, sambung dia hanya secara teknikal. Karena krisis ketidakpercayaan investor terhadap kondisi Indonesia saat ini. “Yang terjadi bukan permasalahan fundamental, karena awalnya kita dijejali dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi 6,8%, namun kuartal kedua ini nyatanya hanya sebesar 5,8% dan itu spread-nya cukup jauh,” tuturnya.

Dengan volatilitasi pasar yang saat ini tinggi, dia menargetkan IHSG berada di level 3.800 dengan PE pasar 13 kali. Sehingga dia menyarankan bagi investor jangka panjang untuk masuk secara bertahap 10-20% sambil melihat perkembangan pasar selanjutnya. Sementara untuk investor jangka pendek (trader), kata dia, apabila koreksi terjadi 7-8% per hari bisa masuk dengan pola trading harian dengan memperhitungkan keuntungan 2-3%. “Dengan PE pasar 13 kali menjadi PE yang cukup atraktif dengan kondisi pasar dan stimulus QE yang akan berhenti,” ujarnya.

Terbebani Rupiah

Kepala Riset Universal Broker Satrio Utomo menuturkan, IHSG masih belum bisa bangkit akibat tekanan jual asing karena rupiah melemah dan juga kawasan regional yang belum pulih, “Kondisi bursa regional memang masih memburuk dengan rata-rata ditutup di bawah level psikologisnya. Namun pada perdagangan kemarin, pelaku pasar sudah lakukan posisi beli dan berharap buttom sudah tercapai,” jelasnya.

Menurutnya, saat ini yang perlu dilakukan regulator adalah mengembalikan kepercayaan investor yang memang akan sulit. Pelaku pasar hanya menunggu bagaimana pertumbuhan ekonomi selanjutnya, suku bunga dan inflasi. Dia juga memprediksi, jika IHSG tidak bisa menyentuh buttom pada level 4.250 hingga akhir tahun ada kekhawatiran tidak bisa naik pada akhir tahun karena semua tergantung pada buttom-nya.

Sebaliknya, Ketua Umum Ikatan Pialang Efek Indonesia (IPEI) Ali Hanafiah Pasaribu mengatakan, kondisi IHSG terjun bebas diangka 4.100 jangan direspon dalam keadaan panik. Pasalnya, Ali menyakini bahwa kondisi seperti ini tidak akan berlangsung lama. "Jangan dikondisikan panik karena market masih dalam keadaan terkontrol," ungkap Ali

Menurut dia, ada beberapa penyebab indeks melemah diantaranya peringkat suku bunga, menjelang pemilu 2014 dan asing yang mulai "pulang kampung". Menurut dia, kondisi ini adalah hal yang biasa. Justru, Ali mengkhawatirkan kondisi di Pre Closing pasar bursa yaitu 15 menit sebelum penutupan. "Kondisi ini, sulit untuk ditebak karena kita tidak mengetahui volume jualnya," ungkapnya.

Sebelumnya, Plt Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Bambang Brodjonegoro menuturkan, pemerintah juga tidak bisa ikut campur secara langsung untuk intervensi pasar, “Iya. Tapi pemerintah kan tidak bisa turun ikut campur langsung,” ujar dia.

Kemudian untuk menenangkan pasar, Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota BEI, Samsul Hidayat menegaskan, penurunan IHSG saat ini dinilai wajar seiring masih kuatnya penawaran dan permintaan transaksi di pasar modal, “Monitoring terus dilakukan untuk perkembangan pasar saham. Regulator pasar hanya memastikan pasar terselenggara sesuai dengan aturan. Penurunan IHSG saat ini masih wajar, masih ada kekuatan 'supply and demand' di pasar saham,"jelasnya.

Dia menambahkan pihak Bursa saat ini terus melakukan monitoring di perdagangan saham, dan menjalankan sesuai dengan "Standar Operating Procedure" (SOP) yang dimiliki otoritas pasar modal. Diakrhi perdagangan Selasa kemarin, IHSG ditutup melemah 138,535 poin (3,21%) ke level 4.174,983. Sementara Indeks LQ45 menukik 20,914 poin (2,95%) ke level 687,171. Aksi jual investor masih menjadi pemicu dan tercatat dana asing yang keluar mencapai Rp 1,9 triliun.