Indonesia Diklaim Menang untuk Sektor Konstruksi

ASEAN Economic Community (AEC)

Jumat, 16/08/2013

NERACA

Jakarta - Kepala Badan Pembinaan Konstruksi Hediyanto W Husaini dengan yakin mengatakan bahwa Indonesia akan memenangkan persaingan di sektor konstruksi ketika ASEAN Economic Community (AEC/ Masyarakat Eonomi ASEAN) dijalankan pada 2015 nanti.

“Saya rasa tidak sulit memenangkan pertarungan di AEC. Jumlah insinyur kita banyak. Masak dari 600 ribu insinyur tidak ada 20 ribu saja yang hebat,” kata Hediyanto kepada Neraca, Kamis (15/8).

Sebagai bukti kehebatan Indonesia, kata Hediyanto, adalah banyak proyek-proyek konstruksi di negara ASEAN lain yang dikerjakan oleh tenaga-tenaga Indonesia. Sebut saja proyek Metro Manila Skyway di Filipina dan pembuatan jalan tol di Malaysia.

“Banyak sekali tenaga konstruksi Indonesia yang terlibat di sana. Di Malaysia saja, pasti ada ribuan tenaga konstruksi Indonesia. Malah bisa jadi puluhan ribu,” ujar dia.

Namun begitu, Hadiyanto mengakui bahwa memang yang paling dominan adalah tenaga-tenaga dari lower management. Tapi banyak juga mandor atau foremen yang bertugas menyuruh-nyuruh. Insinyur juga pasti ada di sana. Tidak mungkin berkomunikasi dengan tenaga kerja Indonesia kalau bukan orang Indonesia sendiri.

“Meskipun kebanyakan dari lower management, tapi mereka adalah yang sudah punya banyak pengalaman dan memang kerjanya bagus. Pasti lihat-lihat dulu. Wah, ini bagus. Saya bawa kamu ke Malaysia, nanti saya gaji besar. Di Indonesia kan gaji kecil. Di sana gaji besar. Mereka tentu saja tertarik,” jelas Hadiyanto.

Sebetulnya, lanjut dia, dengan gaji yang dianggap besar sekarang oleh pekerja-pekerja Indonesia di luar negeri, itu bukanlah gaji yang sebenarnya. Harusnya gaji bisa lebih besar lagi, tapi karena belum ada formalitas sertifikasi, maka mereka semacam dipermainkan dengan diberi gaji tidak semestinya.

“Padahal, kalau orang ini jelek, tidak terlindungi, Malaysia juga yang rugi, karena angka kriminalitas meningkat. Maka perlu sekali adanya sertifikasi,” kata dia.

Indonesia diberkahi dengan begitu banyak proyek, sehingga tenaga-tenaga infrastruktur Indonesia belajar dengan sendirinya, tidak perlu ke negara lain untuk belajar. Justru tenaga-tenaga asing, katakanlah Singapura, yang belajar ke Indonesia karena di negaranya tidak mempunyai banyak proyek konstruksi.

“Kalau proyek infrastuktur yang umum, seperti bikin jalan raya, fly over, jembatan, dam, pelabuhan, kita banyak pengalamannya. Bikin jembatan panjang sudah banyak pengalaman. Jadi kita beruntung sebagai warga Indonesia karena mempunyai banyak proyek yang dibangun, jadi kita belajar sendiri,” jelas Hadiyanto.

Tenaga Indonesia hanya akan kalah ketika proyek yang dibangun merupakan proyek baru yang belum pernah dibuat sebelumnya di, seperti Mass Rapid Transit (MRT). Namun ketika Indonesia sudah memiliki sebuah MRT, maka pembangunan MRT berikutnya bukan lagi menjadi masalah.

Wakil Menteri Pekerjaan Umum (PU) Hermanto Dardak mengungkapkan hal senada dengan Hadiyanto. “Posisi di ASEAN, kita juara. Kita ada pekerjaan-pekerjaan di Filipina, seperti dulu bangun skyway. Di Malaysia yang jalan tol utama itu kita juga bangun. Termasuk di Timur Tengah di Aljazair dan lain-lain,” kata Dardak.

Di dalam negeri sendiri, lanjut dia, kita terbuka untuk tekologi, terutama material. Besi dan baja kekuatannya bisa lebih tinggi. Beton juga dengan kualitas dan kekuatan yang lebih tinggi. Hal-hal tersebut terpadu untuk mendorong daya saing di ASEAN.

Kelamahan sektor konstruksi di Indonesia hanyalah di sektor perbankan-nya. “Dorongan finansial itu yang kita kalah. Bank-bank lain di ASEAN itu memberikan bunga kredit 3-4%. Sementara kita Indonesia 9%,” kata Hadiyanto. Kita mau tarung sama orang, tapi harga uang kita kalah," tukasnya. [iqbal]