Gejolak Harga Pangan

Senin, 12/08/2013

Kita melihat kelompok bahan pangan belakangan ini berfluktuasi tajam (volatile foods) sehingga menjadi penyumbang angka inflasi cukup tinggi hingga semester I-2013. Melambungnya harga bawang merah, bawang putih, cabe merah, cabe rawit, serta beberapa komoditas hortikultura lain menyebabkan angka inflasi mencapai 2,43%.

Gejolak harga bahan pangan selama Ramadan dan lebaran Idul Fitri serta pasca pengumuman kenaikan harga BBM kembali memicu inflasi Juni 2013 hingga 1,03%. Inflasi tahun kalender mencapai 3,35% dan inflasi tahunan (year on year) 5,9%. Jelas kontribusi terbesar inflasi Juni dan Juli 2013 masih tetap dari bahan makanan.

Anehnya, meroketnya harga pangan dan kebutuhan pokok sekarang ini bukan semata-mata karena lonjakan permintaan riil. Bagaimanapun konsumsi pangan tidak serta merta naik luar biasa. Gejolak lebih disebabkan permintaan semu dan ulah spekulan. Kondisi seperti itu karena semua kementerian dan lembaga terkait lalai menyiapkan stok dan menyiagakan saluran distribusi kebutuhan pokok masyarakat.

Rasanya, pemerintah sekarang perlu banyak belajar pada pemerintah Orde Baru dalam hal mengantisipasi ketahanan pangan. Kita akui begitu besar komitmen pemerintahan Orde Baru dalam antisipasi kebutuhan pangan menghadapi Idul Fitri serta Natal dan tahun baru.

Beberapa bulan sebelum hari-H, utusan dari Bina Graha sudah berkoordinasi intensif dengan pemda sentra produksi sayuran, seperti Brebes dan Tegal. Hal itu dimaksudkan agar pada hari- H tiba, produksi bawang merah, cabe, bawang putih, dan cabe rawit cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang dipastikan meningkat. Ratusan juta, bahkan miliaran rupiah dana APBN dikucurkan ke daerah, kepada kelompok tani untuk modal budi daya sayuran bawang merah, bawang putih, cabe merah, dan cabe rawit di luar musim.

Pemerintah saat itu juga gencar mengampanyekan budi daya tanaman buah dan sayuran dalam pot di masyarakat. Pada area dan ruang terbatas, tiap rumah tangga dapat menanam sayuran seperti cabe rawit dan cabe merah dalam pot dengan stimulan benih unggul dari Dinas Pertanian.

Cara seperti itu sangat ampuh untuk meredam gejolak harga sayuran menjelang Ramadan dan Idul Fitri. Karena secara teori dan riset, harga barang kebutuhan pokok masyarakat akan naik otomatis menyusul kenaikan harga BBM bersubsidi.

Efek domino lainnya, adalah pengaruh cost push inflation yang menjadikan ongkos transportasi dan logistik naik, dan secara otomatis mendorong kenaikan harga barang kebutuhan pokok masyarakat. Namun kondisi ini baru disadari ketika penyakit sudah memasuki stadium empat. Sejatinya kita mampu mengendalikan harga pangan sejak jauh hari. Bahkan Menko Perekonomian sudah mengingatkan sejak 3 bulan lalu.

Walau negeri ini mempunyai Bulog yang seharusnya mampu berperan sebagai katalisator bahan pangan kebutuhan pokok, ternyata proses birokrasi perizinan masih membelit sehingga mengganggu sarana infrastruktur distribusi pangan yang sudah ada sebelumnya. Bagaimanapun, dari sisi finansial, Bulog selain kekuatan dana besar, jejaring lembaga ini juga kuat, dari petani, ko-perasi, hingga pedagang pasar. Bukan hanya jaringan di tingkat nasional, Bulog juga mampu membangun jaringan internasional.

Namun gejolak harga pangan terus bergejolak dari waktu ke waktu. Karena itu, kebiasaan seperti ini dalam jangka pendek tidak boleh ada lagi. Pemerintah, termasuk pengusaha dan BUMN harus cepat tanggap menggelar pasar murah menjual kebutuhan pokok masyarakat, sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan kepada masyarakat. Dan, para menteri ekonomi harus sadar volatile foods menjadi pemicu inflasi tinggi saat ini.