Bunga Kredit Naik, Sektor Riil Kian Tertekan

Senin, 12/08/2013

NERACA

Jakarta – Inflasi tinggi yang dialami Indonesia diperkirakan mendorong BI untuk menaikkan kembali BI Rate. “Meskipun BI Rate sebenarnya merupakan instrumen untuk mengarahkan ekspektasi inflasi ke depan agar sesuai perkiraan BI, namun dengan realisasi angka inflasi Juli sebesar 3,29% yang lebih tinggi dari prediksi BI sebesar 2,87%, maka perkiraan saya BI akan menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin (bps),” kata ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto kepada Neraca, pekan lalu.

Sebelumnya, Gubernur BI yang baru Agus Martowardojo dalam dua bulan saja sudah menaikkan BI Rate sebesar 75 bps dari 5,75% menjadi 6,5%. Menurut Eko, kenaikan BI Rate memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya, dengan BI Rate yang naik diharapkan dapat menjadi pencegah bagi terjadinya capital outflow, sehingga nilai tukar tidak semakin tertekan.

“Minusnya, BI Rate yang meningkat akan memicu peningkatan suku bunga simpanan, dan kemudian suku bunga kredit juga akan naik. Dengan naiknya suku bunga kredit maka sektor riil akan semakin tertekan, karena harus meminjam dana dari bank dengan suku bunga yang lebih mahal,” jelas Eko. [iqbal]