Aparat Tak Profesional, Pendapatan Pajak Makin Seret

NERACA

Jakarta – Pendapatan pajak tak pernah mencapai target karena aparat tak profesional. Kalaupun pendapatan pajak mampu memenuhi target, itu karena aparat pajak mengijonkan pajak tahun depan dibayarkan dalam tahun berjalan. “Aparat pajak hanya berburu di kebun binatang. Mengejar pajak dari pembayar pajak yang sudah patuh. Pembayar pajak yang sudah patuh justru terus menerus dikejar untuk memenuhi target pajak,” kata Prijohandojo Kristanto, Wakil Komisi Tetap Pajak Kadin dalam Focus Group Disscusion tentang Pajak Sebagai Modal Pembangunan, yang diselenggarakan Perhimpunan Jurnalis Indonesia (PJI) di Jakarta, Kamis (1/8). Menurut Prijo, akar masalahnya adalah Key Performance Indicator (KPI) aparat pajak dinilai dari besarnya penerimaan pajak dihasilkan aparat pajak. Akibatnya, demi memenuhi target, yang mereka lakukan adalah bagaimana caranya meningkatkan penerimaan dan profesionalisme menjadi nomor dua.

“Aparat pajak terus menerus menelpon dan menghubungi para pembayar pajak yang sudah patuh. Mereka bahkan meminta pajak bulan Januari atau Februari tahun berikut, dibayarkan pada Desember berjalan. Jadi mereka mengijonkan pajak. Ini dilakukan demi memenuhi target penerimaan pajak,” jelasnya. Selain mengijonkan pajak, imbuh Prijo, Ditjen Pajak juga menahan restitusi pajak agar pendapatan pajak besar. “Banyak korporasi terpaksa merelakan restitusinya. Karena yang mengajukan restitusi akan diperiksa kembali pembayaran pajaknya. Nah biasanya dalam revisi tersebut malah muncul masalah,” terang Prijo.

Buntutnya, pembayar pajak malah dinyatakan kurang dalam pembayaran pajaknya. “Kalau restitusinya cuma puluhan juta, biasanya direlakan saja. Daripada malah dalam revisi dinyatakan kurang bayar pajak,” tandasnya. Prijo membeberkan, dahulu kalau terjadi perselisihan soal pajak, banyak pembayar pajak yang dimenangkan pengadilan pajak karena hakimnya masih obyektif. “Tapi para hakim yang mantan pejabat pajak diancam oleh mantan Menkeu Agus Marto akan diperiksa SPTnya jika memenangkan wajib pajak kalau berperkara di pengadilan pajak. Akibatnya, sekarang wajib pajak pasti kalah di pengadilan pajak,” paparnya. Paparan Prijo ini mengingatkan pada kasus Asian Agri yang dituduh mengemplang pajak. Asian Agri kalah di pengadilan. Anehnya, ada beberapa kasus yang sudah divonis dan dibayar dendanya, tetapi disidang lagi dan divonis lagi serta harus membayar denda lagi. Dalam kesempatan itu, Prijo juga mengungkap, sistem Self Assessment di Ditjen Pajak yang digunakan mulai tahun 1984, tidak berjalan dengan baik. Menurut Dia, untuk bisa berjalan dengan baik seperti yang terjadi di negara-negara maju, maka sistem self assessment harus didukung oleh tersedianya data untuk cross check SPT yang dilaporkan wajib pajak.

Dengan demikian, Ditjen Pajak tidak harus selalu mencurigai SPT yang dilaporkan SPT. “Tanda adanya kecurigaan itu adalah tiap tahun Ditjen Pajak menetapkan target tambahan penerimaan pajak terhadap aktivitas pemeriksaan pajak. Seolah-olah SPT yang diperiksa pasti tidak benar, oleh karena itu perlu dikoreksi,” tandasnya.

Sementara itu, Ekonom Faisal Basri mengusulkan Ditjen Pajak dikeluarkan dari Kementerian Keuangan dan berdiri sendiri sebagai badan. “Jadi seperti IRS di Amerika,” katanya. Faisal beralasan, saat ini pengawasan terhadap aparat pajak masih lemah. “Ini akibat Sri Mulyani salah dalam melakukan reformasi perpajakan. Bukan hanya menaikan remunerasi, tapi juga harus melakukan restrukturisasi aparat pajak,” terangnya. [kam]

BERITA TERKAIT

Cara Mengetahui Kanker yang Tak Bisa Dideteksi Dini

Semakin cepat kanker terdeteksi, semakin besar peluang untuk sembuh. Namun, sayangnya tak semua jenis kanker bisa dideteksi dini. Tercatat, hanya…

DSSA Bukukan Pendapatan US$ 1,40 Miliar

NERACA Jakarta – Sampai dengan kuartal tiga 2018, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) mencatatkan pendapatan usaha sebesar US$ 1,40…

Laporan Belanja Pajak, Langkah Maju "Good Governance"

Oleh: Andi Zulfikar, Staf KPP Pratama Bantaeng Ditjen Pajak *)             Sebuah langkah maju dilakukan pemerintah dengan menerbitkan Laporan Belanja…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Jagung Datang Peternak Ayam Merasa Senang

  NERACA   Malang - Peternak ayam mandiri di Wilayah Malang, Jawa Timur merasa senang dan berterima kasih atas bantuan…

Program B20 Mampu Tekan Impor Solar 4.000 kl/hari

      NERACA   Jakarta - Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi, Kementerian Energi dan Sumber Daya…

Pasokan Pangan jadi Kunci Keberhasilan Jaga Inflasi

    NERACA   Jakarta - Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) terus melakukan upaya-upaya menjaga angka inflasi agar sesuai target.…