Tirani Kemiskinan dan Implementasi Beragama

Oleh: M.Luthfi Munzir, Alumni FISIP Universitas Andalas Padang

Kamis, 01/08/2013

Betapa sulitnya mengatasi kemiskinan di Indonesia. Kemiskinan adalah sebuah mata rantai dan lingkaran syetan yang sangat sulit untuk diputuskan bahkan hampir mustahil meruntuhkan tirani bernama kemiskinan ini. Fenomena semakin tergambarnya kemiskinan secara kasat mata akan terlihat secara musiman.

Di Bulan Ramadan hingga Idul Fitri datang, lihatlah di berbagai tempat, terutama di masjid, pusat perbelanjaan, dan tempat-tempat keramaian lainnya, pengemis bak jamur di musim hujan. Mulai dari pengemis orang tua, setengah baya, hingga anak-anak yang menenteng ember kecil mengharap belas kasihan orang lain. Atau dengan menengadahkan tangan seraya berharap ada orang yang terketuk hatinya untuk memberi. Jika dikaji secara mendalam, menjamurnya pengemis menandakan ada dua mainstream yang mungkin tengah terjadi.

Pertama; pengemis yang memang terpaksa dilakukan untuk memenuhi tuntutan hidup yang kian hari kian berat. Kedua; pengemis struktural yang diakomodir kelompok tertentu dengan memanfaatkan anak-anak untuk meraih keuntungan dari sejumlah materi yang didapatkannya. Jika yang pertama lebih kepada keterpaksaan, maka yang kedua lebih kepada pemanfaatan situasi dan kondisi dengan mengekspoitasi hak-hak anak.

Berdasarkan data dari Departemen Sosial Tahun 2002 menunjukkan jumlah penduduk miskin mencapai 35,7 juta jiwa dan 15,6 juta jiwa (43 persen) diantaranya termasuk kategori miskin. Secara keseluruhan, prosentase penduduk miskin dan fakir miskin terhadap total penduduk Indonesia adalah sekitar 17,6 persen dan 7,7 persen. Ini berarti bahwa secara rata-rata jika ada 100 orang Indonesia berkumpul, sebanyak 18 orang diantaranya adalah orang miskin, yang terdiri dari 10 orang bukan fakir miskin dan 8 orang fakir miskin. Apalagi baru-baru ini diberitakan bahwa angka kemiskinan di Indonesia hingga mencapai 39-40 juta jiwa.

Hingga Maret 2012, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat penduduk miskin berjumlah 29,13 juta orang. Pada September 2012 turun menjadi 28,59 juta orang, dan kembali turun pada Maret 2013 menjadi 28,07 juta orang. Versi BPS penurunan jumlah penduduk miskin ini terjadi karena masyarakat Indonesia sudah mengalami peningkatan pendapatan.

Menjadi Tren

Berbicara mengenai kemiskinan adalah suatu persoalan yang begitu kompleks, akan tetapi bukan tidak mungkin untuk ditekan hingga mencapai angka seminimalnya. Pertanyaannya bagaimana upaya untuk itu dilakukan secara maksimal? Sebelum hal itu dilakukan bagaimana kita mendefenisikan seseorang itu bisa dikatakan sebagai orang miskin? Ketika kita berpedoman kepada defenisi yang dikemukakan oleh PBB bahwa orang miskin adalah orang yang berpenghasilan kurang dari US$ 1 per hari, barangkali akan semakin tinggi angka kemiskinan di Indonesia.

Terkadang kita mengaitkan kemiskinan dengan indikator yang bisa disebabkan oleh faktor intern manusia itu sendiri yang pada akhirnya mengakibatkan seseorang atau sekelompok orang menjadi miskin. Kecenderungan seperti itu terkadang pula dilakukan secara “sengaja” atau “tidak sengaja”. Apalagi ketika semua barang-barang pokok menjadi semakin mahal, sementara penghasilan yang diperoleh tidak naik. Sehingga yang terjadi adalah inbalance antara input dengan output terhadap penghasilan seseorang.

Pada situasi yang demikian seseorang dihadapkan kepada dua hal. Pertama; menantang situasi yang demikian dengan membangun kembali fondasi dan kepercayaan diri untuk bangkit dari keterpurukan dengan suatu perjuangan tanpa kenal lelah atau kedua; memilih untuk pasrah dengan keadaan seraya memanfaatkan “peluang” tanpa perjuangan yang berat.

Situasi-situasi seperti itulah yang setidaknya juga menjadi jawaban dari pertanyaan kenapa semakin banyaknya orang miskin di Indonesia? Artinya, situasi yang demikian dibentuk oleh budaya yang ada dalam lingkungannya yang kemudian berkembang dan dianut sebagai bagian dari kehidupannya.

Ketika “sengaja” atau “tidak sengaja” menjadi miskin terkadang juga menjadi tren yang ada di dalam masyarakat kita dewasa ini. Secara “sengaja” artinya kemiskinan itu dirancang sendiri oleh seseorang atau sekelompok orang sehingga menjadikan ia sebagai orang “miskin” atau terjadi pemiskinan di dalam dirinya dengan memanfaatkan situasi dan kondisi yang ada untuk mengambil keuntungan dari pengakuannya sebagai “orang miskin”.

Ketika beberapa waktu lalu pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis premium dan solar bersubsidi. Masyarakat merasa bahwa hal itu semakin membebani masyarakat di tengah belum pastinya perekonomian rakyat ini. Yang mesti dikaji ulang adalah masyarakat yang mana?

Pada situasi yang seperti ini, ramai-ramai orang menyebut bahwa mereka keberatan dengan kebijakan tersebut, padahal mereka memiliki kendaraan pribadi yang lux. Resiko ketika pemerintah salah menduga dan mengidentifikasi kelompok sasaran yang tepat dan memang “tepat” untuk mendapat subsidi, ketika itulah sebenarnya pemerintah telah ditipu oleh masyarakatnya sendiri. Seperti yang terjadi ketika Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) diberikan kepada masyarakat miskin yang ternyata banyak yang salah sasaran.

Tren seperti ini tidak saja merugikan masyarakat yang benar-benar layak untuk diberikan subsidi atas identifikasi miskin yang disandangnya dari pemerintah, tetapi-dalam pandangan saya-masyarakat bisa berbondong-bondong mengaku menjadi orang “miskin”.

Pendekatan Keagamaan

Kenapa kita begitu sulit untuk mendobrak tirani kemiskinan yang menghambat masyarakat ini? Saya melihat ada beberapa hal yang menyebabkannya. Pertama; pemerintah salah mengidentifikasi kelompok sasaran yang memang benar-benar layak untuk dikategorikan sebagai orang miskin, sehingga yang terjadi adalah orang kaya yang “miskin”.

Kedua; masyarakat belum menyadari akan identitas diri yang sesungguhnya. Budaya “menerima” masih terlalu kental dalam pikiran masyarakat, sehingga yang terjadi adalah ketika bencana atau ujian datang, masyarakat hanya mengemis-ngemis kepada pemerintah untuk diberikan subsidi. Ketiga; kurangnya kreatifitas yang ada di dalam diri masyarakat untuk keluar dari tirani kemiskinan itu secara spontanitas.

Saya kira yang teramat penting dan sungguh ironis-menurut saya- adalah religiousitas yang selama ini dibangun ternyata belum memberikan efek positif yang signifikan dalam mengatasi kemiskinan di Indonesia. Artinya, sikap beragama yang kita tonjolkan selama ini masih berada pada tahap seremonial semata. Padahal agama bukan untuk diseremonialkan.

Sungguh ironis sebagai bangsa yang beragama dan mengakui ajaran agama belum bisa membangun suatu jembatan yang akan menghancurkan tirani kemiskinan melalui pendekatan keagamaan. Bukan dalam tatanan konseptualnya yang salah tetapi yang keliru adalah individu-individu yang mendefinisikan berbagai bentuk pemikiran dalam beragama sehingga melupakan bagaimana seharusnya wujud implementasi beragama di tengah semakin meningkatnya angka kemiskinan di Indonesia.

Bukan hanya Islam, saya yakin setiap umat beragama tentu mengajarkan untuk memperhatikan sesama. Dengan kenyataan semakin tumbuh suburnya kemiskinan di negeri ini mengindikasikan bahwa masyarakat belum memahami agama sebagai kekuatan untuk bisa keluar dari tirani kemiskinan. Kita masih menempatkan agama secara terpisah dari kehidupan sosial sehingga yang terjadi adalah kesenjangan sosial yang memprihatinkan, sehingga konsep kesalehan sosial cenderung diremehkan.

Agama bukan ajaran yang hanya disimpan rapi dalam kitab suci, karena inti dari beragama itu adalah bagaimana implementasi nilai-nilai dan ajaran yang diajarkan oleh agama untuk kemudian membumikan ajaran itu dalam kehidupan riil dengan peduli terhadap sesama. Bukankah Tuhan mengajarkan kita untuk beragama dengan benar? (analisadaily.com)