Realisasi Investasi BKPM Rp99,8 Triliun di Triwulan Dua - Ditopang Sektor Tambang

NERACA

Jakarta - Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) melaporkan bahwa realisasi investasi April-Juni atau triwulan II 2013 sebesar Rp99,8 triliun. Angka ini meningkat sebanyak 7,3% dari triwulan I 2013 dengan realisasi investasi senilai Rp93 triliun. “Kalau kita melihat realisasi triwulan II 2012 saja terjadi peningkatan sebanyak 29,8% atau nilainya mencapai Rp76,9 triliun,” ujar Menteri Keuangan, Muhammad Chatib Basri di Jakarta, Selasa (23/7).

Dia lalu merincikan, perkembangan penanaman modal dalam negeri (PMDN) periode triwulan dua tahun ini Rp33,1 triliun dengan persentase capaian sebanyak 51,5% dari target 2013 yang jumlah investasinya sebesar Rp117,7 triliun. Sementara perkembangan penanaman modal asing (PMA) sebesar Rp66,7 triliun, atau 48,5% dari target 2013 dengan jumlah investasi senilai Rp276,6 triliun.

“Kita optimistis akan memenuhi target tahun 2013. Karena di triwulan dua ini kita masih in line. Sudah terlihat kita hampir memenuhi setengahnya, yaitu 49,4% atau Rp192,8 triliun dari target capaian investasi sebesar Rp390,3 triliun,” ungkap Chatib Basri. Realisasi investasi di luar sektor migas, lembaga keuangan non bank, sewa guna usaha, dan industri rumah tangga ini, yang paling besar memberikan kontribusi adalah sektor tambang.

Pada kolom PMDN, sepanjang triwulan I 2013 sektor tambang menymbang 15,8% atau Rp5,2 triliun. Diikuti industri makanan sebanyak 15% atau Rp5 triliun. Industri kertas, barang dari kertas, dan percetakan sebanyak 11,8% atau Rp3,9 triliun. Transportasi, gudang dan telekomunikasi 10,7% atau Rp3,6 triliun. Listrik, gas, dan air sebanyak 9,1% atau Rp3 triliun.

Begitu juga dengan PMA, di mana pertambangan menyumbang 17,3% atau US$1,2 miliar. Industri alat angkutan dan transportasi lainnya menyumbang 14% atau US$1 miliar. Transportasi, gudang, dan telekomunikasi menyumbang 10,7% atau US$0,8 miliar. Industri logam dasar, barang logam, mesin dan elektronik menyumbang 9,5% atau US$0,7 miliar. Industri kimia dasar, barang kimia, dan farmasi menyumbang 7,6% atau US$0,6 miliar.

“Kalau dilihat berdasarkan negara asal, realisasi triwulan II 2013 didominasi oleh investasi dari Singapura (19,0% atau US$1,4 miliar) baru diikuti Jepang (16,1% atau US$1,1 miliar). Tapi kalau melihat perhitungan semester I 2013, Jepang masih unggul (16,2% atau US$2,3 miliar) dari Singapura (13,9% atau US$1,9 miliar),” katanya lagi.

Impor barang melemah

Ke depan, lanjut Chatib Basri, dirinya mengingatkan proyeksi realisasi investasi BKPM akan mengalami hambatan pada impor barang modal. Pertumbuhan impor barang modal dinilai kian melemah. Hal ini kemungkinan realisasi-realisasi investasi yang memerlukan mesin dan peralatan impor yang besar akan menurun sepanjang tiga hingga sembilan bulan ke depan.

“Gejala terjadinya penurunan impor barang modal sudah terasa sejak triwulan II 2012. Meskipun sangat sulit di triwulan III namun saya sangat optimistis target tahun 2013 dapat terpenuhi,” terangnya. Dia juga mengaku pihaknya tidak akan menyerah dengan menurunkan target pertumbuhan menjadi di bawah 6,3%.

Alasannya pasar domestik masih cukup kuat, sehingga diyakini mampu memberi banyak sumbangan meski sedang terpengaruh kenaikan suku bunga, inflasi dan harga bahan bakar minyak (BBM). “Mungkin bisa saja memenuhi target dengan berharap pada konsumsi dalam negeri. Tapi itu sangat tidak menyenangkan,” tandasnya. [lulus]

Related posts