Rupiah Masih Lesu, Wamenkeu Salahkan Ekonomi Global - Pengusaha Tak Masalah

NERACA

Jakarta - Wakil Menteri Keuangan Mahendra Siregar mengatakan kondisi perekonomian global yang belum menunjukkan perbaikan masih mempengaruhi pelemahan nilai rukar rupiah terhadap dolar AS. \"Perkembangan mata uang terjadi akibat kondisi global, dan kita tidak akan bisa sepenuhnya lepas atau imun dari persoalan itu,\" ujarnya di Jakarta, pekan lalu.

Mahendra mengatakan pemerintah bergantung sepenuhnya pada kebijakan Bank Indonesia terkait pengelolaan rupiah dan antisipasi terhadap perkembangan yang terjadi di pasar uang. \"Instrumen yang dilakukan itu merupakan gagasan yang baik dan perlu didukung sehingga kami sepenuhnya mendukung langkah-langkah itu,\" jelas dia.

Namun, Mahendra tidak terlalu optimistis rata-rata nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hingga akhir tahun masih sesuai dengan asumsi dalam APBN-Perubahan 2013 sebesar Rp9.600 per dolar AS. \"Memang tidak mudah untuk dijaga dengan tren seperti ini. Saya melihatnya perkembangan global ini akan masih berlangsung dan tidak mudah kalau sampai rata-rata Rp9.600,\" katanya.

Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Jumat pekan lalu, belum bergerak nilainya atau stagnan pada posisi Rp10.045 per dolar AS. Sementara Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Sofjan Wanandi, mengatakan kalangan pengusaha bisa menerima nilai tukar hingga mencapai Rp12 ribu per dolar AS untuk memperbaiki perekonomian nasional.

\"Kita bisa terima jika kurs naik Rp11 ribu hingga Rp12 ribu, karena pada tahun 2008 juga begitu. Jangan takut, kalau takut nanti seperti tahun 1997-1998, investor \'lari\' semua,\" ucapnya. Sofjan menilai kenaikan kurs rupiah terhadap dolar AS juga untuk membiayai defisit neraca pembayaran.

Dia juga meyakini kondisi perlambatan perekonomian nasional hanya sementara dan rupiah akan menguat kembali pada September atau setelah Idul Fitri 1434 Hijriah. \"Ini lebih banyak dipicu Lebaran, setelah Lebaran kita percaya akan menguat lagi,\" ujarnya.

Dia juga berharap pada September 2013 investasi bisa masuk kembali karena diperkirakan masyarakat cenderung menyimpan uang di bank. \"Suku bunga sudah naik, kurs rupiah dolar juga naik, selama ini kan \'very limited\' (sangat sementara) terjadi dalam jangka waktu sebulan, dua bulan saja nanti turun lagi di bawah Rp10 ribu per dolar AS,\" tukasnya.

Dia mengaku dampak tersebut belum terlalu terasa kepada dunia usaha kecuali pihaknya menjual barang-barang lebih mahal setelah Idul Fitri. “Pengusaha dan pemerintah sepakat menjaga pertumbuhan ekonomi di kisaran 6,2% dengan menumbuhkan gairah investasi dalam negeri. Mengenai neraca transaksi berjalan dan rupiah, kita sepakat bahwa ini sementara terjadi. Karena itu, jangan panik dan khawatir gonjang-ganjing neraca pembayaran ini,\" jelas Sofjan. [ardi]

Related posts