APPI Klaim BI Rate Tidak Pengaruhi Industri Pembiayaan

NERACA

Jakarta - Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI), Suwandi Wiratno, mengaku kalau kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) atau BI Rate serta harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, tidak akan berdampak signifikan terhadap volume penjualan pada perusahaan pembiayaan atau multifinance.

Meskipun begitu, kata Suwandi, bunga kredit akan tetap naik, lantaran perusahaan pembiayaan harus menyesuaikan dengan kebijakan bank. Namun jangan khawatir, kenaikan bunga kredit tersebut hanya akan berlaku terhadap nasabah baru. “Saya rasa kalau bicara naik, semuanya pasti akan naik. Mengenai kenaikan BI Rate, tentu tidak ada dampak pada nasabah-nasabah lama, karena rate-nya kan sudah tetap. Tapi untuk nasabah yang baru pasti akan naik, karena bank juga sudah minta dinaikkan,” ujarnya di Jakarta, pekan lalu.

Lebih lanjut Suwandi menuturkan, kenaikan bunga kredit yang diinginkan bank terhadap multifinance sekitar 0,5% - 1,5%. Dengan kenaikkan ini, dia pun mengaku tidak akan melihat dampak yang terjadi selama bulan ramadan karena perubahannya tidak bisa menjadi patokan, atau dengan kata lain, perubahan sikap konsumsi masyarakat selama ramadan hanya bersifat musiman.

“Tapi setelah Idul Fitri baru kita akan bisa melihat dampaknya seperti apa. Ya, karena sekarang permintaan akan naik. Biasanya orang juga banyak yang kredit untuk pulang kampung,” tambahnya. Selain itu, Suwandi memandang dampak akan terlihat dengan mengukur kemampuan masing-maisng calon debitur yang akan mengambil kredit. Akan tetapi, bila kenaikan bunga kredit hanya 0,5% - 1,5%, asumsinya tidak terlalu bermasalah bagi masing-masing pihak.

Dia lalu mencontohkan sepeda motor yang naik 1,5%. Kemungkinan perubahan terhadap cicilan hanya sekitar Rp10 ribu. “Tapi tergantung dari apa yang diambil unitnya. Kalau yang diambil mobil, ya, 1% juga tentu akan berasa,” ungkap Suwandi. Dia juga mengingatkan, yang perlu dicermati bukan hanya kenaikan BI Rate atau kenaikan BBM. Melainkan naiknya harga-harga kebutuhan pokok di pasaran.

Pasalnya, sebelum masyarakat mencukupi kebutuhan yang lain atau sekunder, tentu harus dipenuhi terlebih dahulu kebutuhan primernya. Andai kata terjadi penurunan terhadap permintaan, khususnya otomotif, maka akan dikaji ulang bagaimana penanganannya. “Kenaikan pasti ada, tapi belum tahu seperti apa. Nanti kita lihat pasca Idul Fitri,” kata Suwandi.

Prihatin inflasi

Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Jenderal APPI, Efrinal Sinaga, mengamini penjelasan Suwandi Wiratno. Dimana pengaruh terhadap perusahaan pembiayaan pasti akan ada karena mendapatkan dana dari bank. Sedangkan bank mulai menaikan suku bunga. “Pastilah berpengaruh terhadap bunga. Dengan meningkatnya suku bunga berarti bunga ke penjualan juga akan naik, atau ke marjin kalau di (pembiayaan) syariah,” jelasnya.

Efrinal justru memberi perhatian terhadap inflasi tinggi yang membuat daya beli masyarakat semakin menurun. Hal ini menjadi kekhawartiran lantaran akan berdampak terhadap angsuran. Alhasil, minat masyarakat untuk mengambil kredit terhadap suatu barang otomatis menurun juga. “Jadi, kenaikan angsuranlah yang mungkin akan menjadi faktor paling berpengaruh. Apalagi inflasi dan BBM sama-sama naik tepat di saat menjelang ramadan. Ini membuat kemampuan membayar masyarakat makin menurun karena konsumsi juga sedang tinggi,” keluh dia.

Mengenai dampak penurunan penjualan, Efrinal melihat perusahaan pembiayaan tidak akan merasa khawatir, karena pihaknya hanya menyesuaikan diri dengan bank. Bahkan yang menjadi fokus utama APPI sekarang adalah bagaimana masyarakat menyesuaikannya saja. “Mungkin butuh waktu satu sampai dua bulan untuk penyesuaiannya. Kalau bicara penurunan volume penjualan, dari sisi amount (jumlah), tidak terlalu bermasalah. Tapi kalau ditanya mana yang paling berpengaruh, terbesar di sektor sepeda motor,” tandasnya.

Dia pun memberi ilustrasi uang muka atau down payment (DP), di mana akan berpengaruh di sektor sepeda motor. Pasalnya, untuk menaikan uang muka sepeda motor, jelas akan membebani masyarakat. Hal ini berbeda dengan uang muka mobil. “Kenaikan uang muka sepeda motor menjadi perhatian kami karena sangat terasa dampaknya. Kalau nasabah mobil tidak masalah karena memang sudah berhitung dan lebih siap dengan uang muka tinggi,” jelas Efrinal. [lulus]

Related posts