Ayo, Ubah Cara Mengelola Keuangan

Pengelelolaan keuangan, khususnya bagi masyarakat kecil mutlak diperlukan. Upaya ini dibutuhkan untuk mengimbangi kemampuan finansial masyarakat akan kenaikan harga kebutuhan pokok pasca kenaikan BBM, apalagi saat Ramadan permintaan tidak seimbang dengan pasokan barang. Tentunya, akan membuat harga-harga semakin membumbung tinggi.

NERACA

Indonesia adalah negara dengan populasi terbesar keempat dengan jumlah penduduk lebih dari 234 juta orang. Menurut World Bank, lebih dari 32 juta penduduknya masih hidup di bawah garis kemiskinan dan 25 juta keluarga tinggal di daerah kumuh perkotaan seperti sisi jalan kereta, bantaran sungai bahkan hidup di jalanan.

Dalam kehidupan sehari-harinya mereka tidak dapat lepas dari bahan kebutuhan pokok. Hal itu wajar karena dalam kehidupan sehari-hari masyarakat perlu mengkonsumsi bahan kebutuhan pokok untuk memenuhi asupan gizi bagi tubuh seperti karbohidrat, mineral, protein, dan kalsium. Asupan itu bermanfaat bagi tubuh agar tetap dalam kondisi tidak kekurangan gizi.

Untuk memenuhi kebutuhan pokok tersebut selain persediaan juga dipengaruhi faktor harga, yang berkaitan dengan daya beli masyarakat. Ketika kenaikan harga barang-barang kebutuhan pokok serta kebutuhan sehari-hari pasca kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) melambung tinggi, sebagian besar masyarakat, khususnya dengan finansial terbatas pasti mengeluh, karena akan menambah beban anggaran rumah tangga sehari-hari.

Selain itu, kenaikan harga beberapa kebutuhan pokok tersebut disebabkan pula oleh tingginya permintaan di Bulan Ramadan yang tidak seimbang dengan pasokan barang. Seperti diketahui, kenaikan harga terjadi pada hampir semua komoditas pasar. Mulai dari daging ayam, telur ayam, beras, daging sapi, hingga minyak goreng dan gula pasir.

Kondisi itu juga akan menyedot anggaran untuk kebutuhan lain, dimana beban tersebut makin dirasakan bersamaan dengan datangnya tahun ajaran baru. Pengeluaran ekstra harus dilakukan oleh para orang tua untuk biaya anak masuk sekolah, mulai dari TK sampai perguruan tinggi. Para orangtua juga harus menyisihkan sejumlah uang untuk beli buku, peralatan dan seragam sekolah.

Ironisnya, keadaan tersebut semakin parah lantaran ketidakberhasilan masyarakat dalam mengatur dan mengelola keuangan. Seperti yang dialami oleh Murni (24) yang pekerjaannya sehari-hari berjualan kue kering. Dia hanya dapat mengumpulkan Rp 150 ribu per minggu tanpa bisa menabung, bahkan untuk modal belanja pun harus berutang.

“Banyakkan rugi daripada untungnya. Kalo dapat untung dibuat bayar utang. Jadi kayak gali lubang tutup lubang,” ujar dia.

Agar tidak jatuh dalam lubang yang sama di hari-hari berikutnya, dia mengikuti program Pendidikan Keuangan Keluarga (PKK). Kehidupannya pun berubah sejak mengikuti program PKK. Dengan berusaha menerapkan pengetahuan baru dari PKK, sedikit demi sedikit, kegigihannya pun membuahkan hasil. Murni mulai bisa menabung, membeli sepeda motor, dan mengembangkan usahanya. Hingga akhirnya saat ini ia dapat menghasilkan Rp 500 ribu per minggu.

Ubah Perilaku

Direktur Nasional Habitat for Humanity Indonesia, James L Tumbuan menyatakan Pendidikan Keuangan Keluarga adalah sebuah program besutan Habitat for Humanity Indonesia dan Citi Indonesia yang bertujuan mengubah perilaku masyarakat khususnya dalam mengelola keuangan keluarganya.

Konkretnya, masyarakat yang memiliki usaha kecil diajarkan untuk meningkatkan kebiasaan menabung, berbelanja dengan bijak, meminjam uang secara bertanggung jawab dan dengan pertimbangan jelas. “Program ini bertujuan untuk memperlengkapi masyarakat dengan informasi keuangan yang cukup sebelum mengambil keputusan yang tepat,” kata dia.

Peserta program ini dipilih oleh Habitat for Humanity Indonesia (HFHI) yang bekerja sama dengan Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB), dengan mayoritas peserta adalah ibu rumah tangga yang memiliki usaha kecil. Hampir 600 keluarga di wilayah Jakarta dan Surabaya telah mendapatkan pelatihan keuangan beserta manfaatnya.

Pihak Citi juga merasa bangga bisa menjadi bagian dari kesuksesan para peserta program untuk meningkatkan pemahaman keuangan, sekaligus memperbaiki kondisi ekonomi mereka. Pendidikan keuangan merupakan salah satu bidang yang selalu mendapat perhatian khusus dari Citi Indonesia. \\\"Itu juga mengapa Citi Indonesia, melalui Citi Peka, mendukung berbagai kegiatan, seperti yang dilaksanakan oleh Habitat for Humanity Indonesia,” ujar Director, Head of Corporate Affairs Citi Indonesia, Agung Laksamana.

BERITA TERKAIT

Tingkatkan Literasi Keuangan, Mobil Prestasi Muamalat Sambangi Sekolah

    NERACA   Jakarta - PT Bank Muamalat Indonesia Tbk (Muamalat) menyadari pentingnya pembangunan karakter anak bangsa melalui pendidikan.…

Cara Mengetahui Kanker yang Tak Bisa Dideteksi Dini

Semakin cepat kanker terdeteksi, semakin besar peluang untuk sembuh. Namun, sayangnya tak semua jenis kanker bisa dideteksi dini. Tercatat, hanya…

HSBC dan Sampoerna University Dorong Literasi Keuangan di Sumba

      NERACA   Jakarta - Sebagai bagian dari komitmen untuk mendorong literasi dan inklusi keuangan di Indonesia bagian…

BERITA LAINNYA DI KEUANGAN

KUR, Energi Baru Bagi UKM di Sulsel

Semangat kewirausahaan tampaknya semakin membara di Sulawesi Selatan. Tengok saja, berdasarkan data yang dimiliki Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sulsel,…

Obligasi Daerah Tergantung Kesiapan Pemda

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai penerbitan obligasi daerah (municipal bond) tergantung pada kesiapan pemerintahan daerah karena OJK selaku regulator hanya…

Bank Mandiri Incar Laba Rp24,7 T di 2018

PT Bank Mandiri Persero Tbk mengincar pertumbuhan laba 10-20 persen (tahun ke tahun/yoy) atau sebesar Rp24,7 triliun pada 2018 dibanding…