Walhi: Hancurkan Ekosistem dan Aneka Hayati - Pembangunan Berorientasi Pertumbuhan Ekonomi

NERACA

Jakarta – Pembangunan yang semata-mata berorientasi mengutamakan pertumbuhan ekonomi telah menyebabkan peminggiran rakyat dan menghancurkan ekosistem dan keanekaragaman hayati. “Dalam memilih pemimpin yang baik dan tidak hanya berorientasi ekonomi saja, kita harus menjadi pemilih yang pintar. Menganalisa latar belakang dan track record politik para calon termasuk melihat apakah mereka memiliki visi dan misi lingkungan untuk melanjutkan perjuangan ini,” kata Direktur Eksekutif Walhi, Abetnego Tarigan di Jakarta, Senin (8/7).

Menurut dia, penyebab utama krisis lingkungan hidup adalah alih fungsi lahan, pencemaran, serta degradasi hutan dan deforestasi. “Hal ini disebabkan oleh pembukaan pertambangan, perkebunan besar, pariwisata, industri dan pembangunan infrasturuktur diareal pertanian tanaman pangan dan atau daerah penyangganya,” ungkapnya.

Dalam menentukan pemimpin yang ramah lingkungan, Pendiri Yayasan Perspektif Baru (YPB), Wimar Witoelar mengatakan Pemilu 2014 merupakan kesempatan penting bagi masyarakat Indonesia untuk ikut menentukan pemerintahan lima tahun mendatang ke arah yang pro penyelamatan lingkungan. Oleh karena itu, kata dia, bahaya perubahan iklim merupakan satu isu strategis yang harus masuk dalam Pemilu 2014. Pergantian pemerintahan dan anggota dewan hasil Pemilu tahun 2014 dapat berdampak pada upaya-upaya pencegahan perubahan iklim yang sudah mulai menjadi kenyataan.

“Saat ini Indonesia telah menarik harapan dunia ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada November 2009 memberikan komitmen untuk menjalankan skema Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation (REDD), dan mendukung upaya perlindungan terhadap perubahan iklim,” ungkap Wimar.

Senior Associate on Climate Change & Green Investment DNC Advocates at Work, Gita Syahrani, menuturkan REDD+ saat ini menjadi contoh agenda lingkungan hidup yang harus diperjuangkan, salah satunya melalui upaya pendirian lembaga REDD+ dengan instrumen pendanaan yang bertanggungjawab untuk mempercepat perbaikan lingkungan dalam meningkatkan tata kelola hutan dan lahan gambut di Indonesia. Kita masih menanti lembaga ini disahkan oleh Presiden SBY.

“Setelah Presiden SBY tidak lagi memimpin, Indonesia membutuhkan pemimpin yang tepat dan mampu melanjutkan perjuangan ini. Harus diingat lebih dari 50% calon pemilih 2014 nanti itu adalah generasi muda.” ungkapnya.

Sedangkan Praktisi hukum Desmen Rahmat Eli Hia mengatakan ancaman terbesar untuk mendapatkan pemimpin yang tepat adalah calon pemilih yang tidak memilih (golongan putih atau Golput). Hal ini cukup menjadi perhatian penting karena yang dapat membuat hasil pemilu lebih baik hanyalah pemilih itu sendiri. “Pemilu 2014 akan menjadi penting kalau kita bisa memilih wakil dan pimpinan rakyat yang mengerti isu strategis,” tuturnya.

Menurutnya, jika angka golput besar pada pemilu 2014, maka yang bertarung pada pemilu 2014 hanyalah orang partai dengan beragam kepentingan. Sementara, masyarakat yang telah menyia-nyiakan suaranya tidak mungkin terwakili. Padahal upaya mengurangi dampak perubahan iklim merupakan kegiatan masif yang memerlukan political will bersama untuk mengubah kerangka kebijakan pemerintahan ke arah yang pro lingkungan.

“Jadinya masyarakat Indonesia terutama generasi muda seperti mahasiswa harus mau menggunakan hak pilihnya dan memilih calon yang mengusung isu strategis pro lingkungan dan perubahan iklim pada Pemilu 2014,” tambah Desmen. [mohar]

Related posts