Bersiap Hadapi Krisis

Pengaruh gejolak di pasar finansial dunia tampaknya belum juga mereda. Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia masih jauh dari level tertinggi 5.214. Investor asing bahkan terus melakukan aksi jual, sehingga mencatat net sell hampir sebulan terakhir ini cukup memprihatinkan. Nilai tukar rupiah pun masih terlihat menjurus di sekitar level Rp 10.000 per US$.

Memang ada sejumlah faktor yang memicu demam di pasar saham dan pasar uang. Ketidakpastian pemerintah menjaga laju inflasi diprediksi tak mampu sesuai target APBN-P 2013 yaitu 7,2%, bahkan Bank Dunia memperkirakan inflasi mencapai 9% pada 2013. Di sisi lain, gejolak pasar finansial juga merupakan imbas faktor global. Spekulasi rencana bank sentral AS (The Fed) yang hendak menghentikan pelonggaran moneter (quantitative easing) senilai US$ 85 miliar per bulan mendorong investor di emerging market keluar saat ini.

Tidak hanya itu. Jumlah cadangan devisa di Bank Indonesia pun ikut tergerus cukup besar sebagai dampak fluktuasi nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS belakangan ini. Hingga akhir Juni 2013 cadangan devisa menurun menjadi US$98,1 miliar dibandingkan posisi Mei sebesar US$105 miliar dan akhir Desember 2012 US$112 miliar. Artinya dalam satu semester (Januari-Juni 2013) jumlah cadangan devisa sudah tergerus sekitar US$14 miliar!

Direktur Departemen Komunikasi BI Peter Jacobs beberapa waktu lalu, mengakui keluarnya dana hot money tentunya menggerus cadangan devisa di bank sentral. Pasalnya, BI harus menjaga likuiditas valuta asing (valas) ketika terjadi capital outflow dari pasar modal dan Surat Berharga Negara (SBN).

Hingga minggu ketiga Juni 2013, BI mencatat total capital outflow mencapai Rp 34 triliun, yang terdiri dari outflow SBN sebesar Rp 17 triliun dan sisanya saham.

BI, kata dia, senantiasa mengantisipasi kebutuhan likuiditas valas di pasar, seiring dengan periode akhir bulan atau semesteran. Masa tersebut merupakan saat kebutuhan valas meningkat untuk membayar utang luar negeri dan repatriasi keuntungan korporasi.

Ini menggambarkan adanya faktor ketidakpastian, baik di domestik maupun global membuat sebagian kalangan pengusaha bertanya-tanya, benarkah ada gejala krisis bakal berulang. Bahkan ada yang khawatir bahwa kondisi sekarang mirip krisis finansial 2008 maupun krisis multidimensi 1997-98.

Indikator kredibel untuk menguji apakah saat ini terdapat sinyal menuju krisis adalah dengan menelisik sejumlah indikator makroekonomi. Pertumbuhan ekonomi Indonesia seperti prediksi Bank Dunia hanya mencapai 5,9%. Laju inflasi diperkirakan mencapai 8%-9% setelah kenaikan harga BBM bersubsidi. Jika suku bunga acuan BI Rate dinaikkan lagi menjadi 6,25%, dipastikan suku bunga kredit perbankan akan naik. Sementara tingkat bunga kredit bank di negeri ini tercatat paling tinggi di ASEAN yaitu 12%-16% per tahun.

Adapun faktor fundamental makro lain yang cukup penting adalah pengangguran dan kemiskinan, yang angkanya terus menurun, meski pemerintah perlu mewaspadai tingkat kesenjangan pendapatan yang terus membesar. Rasio Gini kini mencapai 0,41, merupakan level tertinggi dalam empat dekade. Angka kemiskinan diprediksi meningkat akibat kenaikan harga BBM, hal ini tentu menjadi perhatian kita bersama.

Kondisi lain yang patut diwaspadai adalah besarnya defisit perdagangan akibat tingginya impor minyak, turunnya harga komoditas yang menjadi andalan ekspor nasional, serta melemahnya permintaan global. Karena itu, pemerintah saatnya meningkatkan sense of crisis.

Related posts