Fesyen Jadi Andalan Produk IKM - Kemenperin Berikan Bantuan Restrukturisasi Mesin Rp 1,2 M

NERACA

Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyatakan, bantuan mesin atau restrukturisasi mesin tekstil senilai Rp1,2 miliar bagi sektor Industri Kecil dan Menengah (IKM) khususnya fesyen di Majalaya menambah pasokan bahan baku ke para desainer.

“Tahun lalu, kami telah memberikan bantuan mesin senilai Rp1,2 miliar bagi pelaku usaha industri tekstil dan produk tekstil (TPT) di Majalaya untuk memasok bahan baku bagi para desainer. Dampak dari program tersebut, industri TPT di Majalaya bisa memasok bahan baku bagi para desainer nasional,” kata Direktur Jenderal (Dirjen) IKM, Euis Saedah dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Selasa (2/7).

Produk fesyen, menurut Euis, merupakan salah satu ujung tombak produk andalan IKM untuk menghadapi Asean Economic Community (AEC).“Beberapa upaya terus dilakukan pemerintah dalam meningkatkan daya saing industri Fesyen jelang AEC 2015 dengan pemberian bantuan mesin di sentra produksi TPT,” ujarnya.

Produk IKM tekstil asal Majalaya, lanjut Euis, telah menghasilkan produk daerah lain. Ke depannya, pemerintah akan membuat branding Indonesia dan Majalaya akan menjadi penyuplai bahan baku tekstil dari skala IKM.“Untuk songket asal Sulawesi telah diproduksi di Majalaya mampu menembus pasar Malaysia. Majalaya punya potensi besar dalam pengembangan IKM tekstil dan pemerintah akan kawal produsen IKM Majalaya sebagai penyuplai nasional dengan 49 unit usaha,” paparnya.

Sedangkan Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Ade Sudrajat, menyambut baik usulan dari pemerintah untuk menjadikan Majalaya sebagai basis produksi fesyen nasional, namun banyak keturunan pelaku usaha tekstil skala IKM yang gagal bertahan dan beralih profesi menjadi pedagang pasar hingga petani.

“Pelaku usaha khususnya IKM sangat senang dengan keputusan pemerintah menjadikan Majalaya sebagai basis produksi fesyen. Namun, pelaku IKM tekstil di Majalaya masih kekurangan sumber daya manusia karena banyak yang menjadi pedagang,” tuturnya.

Ade menambahkan, Majalaya adalah cikal bakal industri tekstil modern di Indonesia. Walau perkembangannya baru terasa pada 1930-an, namun geliatnya sebenarnya telah dimulai sejak 1910. Saat itu, sudah ada perempuan-perempuan yang menekuni alat tenun kentreung atau banyak disebut gedhogan dengan bahan baku kapas dan bahan pewarna dari kebun.

“Majalaya merupakan salah satu pusat industri tekstil skala IKM di Indonesia. Pada zaman kejayaannya, menjadi pekerja di pabrik tenun merupakan pekerjaan paling popular di mata remaja setempat, bahkan ketimbang sektor pertanian karena penghasilan di industri tenun lebih tetap dan tidak bergantung musim,” tandasnya.

Sekedar informasi kisah kejayaan industri tekstil pada tahun 1960-an saat Majalaya dijuluki Kota Dollar. Untuk memenuhi bahan baku tenun maupun keperluan sehari-hari saat itu sangat mudah. Warga tinggal keluar rumah. Sudah banyak penjual mengantre layaknya semut merubungi ceceran gula.

Tak dipungkiri, Majalaya adalah cikal bakal industri tekstil modern di Indonesia. Walau perkembangannya baru terasa tahun 1930-an dipelopori beberapa pengusaha tekstil lokal seperti Ondjo Argadinata dan Abdulgani, namun geliatnya sebenarnya telah dimulai sejak 1910.

Saat itu, sudah ada perempuan-perempuan yang menekuni alat tenun kentreung atau banyak disebut gedhogan dengan bahan baku kapas dan bahan pewarna dari kebun. Namun, skalanya masih sangat terbatas, dan haya untuk konsumsi rumah tangga saja.

Pada 1921, pemerintah kolonial Belanda mendirikan Textile Inrichting Bandeng atau kelak bernama Sekolah Tinggi Tekstil Bandung. Pada 1928, empat gadis asal Majalaya, Emas Mariam, Endah Suhaenda, Oya Rohana, dan Cicih dikirim ke Bandung untuk belajar tenun menggunakan alat tenun semi otomatis yang tidak membutuhkan listrik disebut alat tenun bukan mesin (ATBM). Emas, Endah, dan Oya-lah yang kelak mewariskan teknik tenun dan membangun dinasti-dinasti usaha tekstil rakyat Majalaya.

Related posts