Komitmen “Ekonomi Biru”

Oleh: Lazuardhi U Rifky

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Sudah sejak lama laut Asia menjadi incaran negara-negara Eropa. Bahkan, Amerika Serikat pun sudah memprediksi jauh sebelumnya, medio tahun 1700-an, oleh seorang Laksamana Angkatan Laut bernama Alfred Thayer Mahan, kalau perairan Asia bakal menjadi “rebutan” lantaran faktor geo-politik dan geo-ekonomi di masa depan.

Benar saja. Wilayah laut Asia memiliki peran sentral dalam menyumbang pertumbuhan ekonomi, baik regional maupun dunia. Wilayah Asia yang meliputi luas air sekitar 66% dari permukaan bumi dan sekitar setengah dari total luas permukaannya berupa perairan, berkontribusi penting bagi penyediaan barang, jasa dan media moda perdagangan dunia.

Nah, pelaksanaan Konferensi Asia Conference on Oceans, Food Security and Blue Growth(ACOFB) 2013 di Bali kemarin, merupakan bukti kepedulian negara Asia, terutama Indonesia, terhadap laut. Konferensi yang mengusung tema “Blue Growth for Prosperity” telah mengidentifikasi aksi nyata terkait kebijakan dan investasi untuk mempromosikan ketahanan pangan dan peningkatan peran laut secara berkelanjutan di wilayah Asia.

Konferensi ini sekaligus menjamin ketahanan dan kesehatan perairan laut di wilayah Asia, di mana telah disepakati untuk menempatkan potensi laut dan pesisir untuk berkontribusi terhadap manfaat sosial dan ekonomi secara berkelanjutan dapat diwujudkan melalui pendekatan ekonomi biru, sebagai sebuah strategi. Sebagai wakil pemerintah, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengatakan, saat ini negara-negara di Asia menghadapi berbagai tantangan wilayah lautnya, seperti kesehatan perairan laut, ketahanan pangan dan nutrisi, kemiskinan, perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan.

Untuk strategi, Konferensi ACOFB 2013 menghasilkan tujuh 7 strategi yang telah disepakati. Pertama, tindakan terkoordinasi untuk meningkatkan investasi dan kerja sama berdasarkan pendekatan berbasis bukti. Strategi ini dapat membuka potensi lautan dalam mengatasi tantangan kesehatan perairan laut, ketahanan pangan, kemiskinan, dan pertumbuhan ekonomi.

Lebih lanjut, strategi tersebut dapat membangun ketahanan terhadap perubahan iklim dan pengasaman laut. Kedua, peningkatan kerja sama regional di Asia, sangat penting untuk peningkatan kapasitas dan transfer pengetahuan untuk inovasi lebih efektif dalam kebijakan dan tindakan. Ketiga, kemitraan di seluruh disiplin ilmu dan sektor. Keempat, penguatan dan implementasi kebijakan lintas sektoral yang terintegrasi. Strategi lain yang ingin diterapkan adalah identifikasi sumber pendanaan untuk membiayai inisiatif, potensi laut dan pesisir untuk berkontribusi terhadap manfaat sosial dan ekonomi secara berkelanjutan dapat diwujudkan melalui pendekatan ekonomi biru serta memperkuat kerja sama melalui inisiatif yang ada.

Harapan ke depan, peran sektor kelautan Asia mempunyai kontribusi penting bagi lingkungan, energi, pangan, dan jasa lingkungan lain dalam mendukung ketahanan pangan dan pertumbuhan ekonomi. Sumberdaya hayati dan non-hayati wilayah Asia memberikan penyediaan dan prospek ekonomi seperti mineral laut, gas, dan energi, sedangkan sumberdaya biologis kelautan yang melimpah dengan tingkat tinggi keanekaragaman hayati, baik perikanan tangkap dan budidaya, memberikan kontribusi bagi penyediaan pangan masyarakat

Related posts