Klaim Oversubscribed, Saham Sritek Dibuka Stagnan

NERACA

Jakarta – Mengawali debut perdana di pasar modal, saham PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) dibuka stagnan Rp240 dari harga perdana saham yang ditetapkan perseroan. Meskipun demikian, perseroan mengklaim mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed) hingga tiga kali. \"Oversubscribed sempat tiga kali. Waktu roadshow, 40-45% investor asing dan 50-60 investor domestik,\" kata Direktur Utama PT Bahana Securities, Eko Yuliantoro di Jakarta, Senin (17/6).

Menurutnya, PT Sri Rejeki Isman Tbk merupakan industri garmen yang mampu bersaing dengan perusahaan lainnya yang bergerak di bidang yang sama, dalam negeri maupun luar negeri.

Maka dengan IPO ini, tentunya akan mematahkan tanggapan tentang industri ini yang dinilai sunset atau sedang ternggelam. Perseroan menawarkan 5,60 miliar lembar saham atau 30,12% dari modal ditempatkan disetor penuh oleh Perseroan dengan nilai nominal Rp100. Total dana yang diraih dari hasil penawaran perdana saham sekitar Rp1,34 triliun.

Dana yang diperoleh dari penawaran perdana saham, di antaranya akan dipergunakan oleh perseroan untuk ekspansi divisi spinning sebesar 87% dan 13% untuk ekspansi divisi garmen.

Sebagai informasi, tahun ini perseroan menargetkan pendapatan sebesar Rp4,8 triliun atau naik sekitar 68,4% dari tahun sebelumnya sebesar Rp2,85 triliun. \"Target pendapatan kita tahun ini Rp4,8 triliun,\" kata Direktur Keuangan Sri Rejeki Isman Tbk, Allan Moran Severino.

Disebutkan, dari target pendapatan tersebut, perseroan optimis bisa meraih laba bersih 2013 sebesar Rp330 miliar atau naik 32% dari tahun sebelumnya senilai Rp250 miliar. Terkait rencana kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dinilai bukan sesuatu masalah yang menghambat kinerja perseroan. Pasalnya, produksi PT Sri Rejeki Isman Tbk sudah lama menggunakan harga BBM industri.

Kata Dirut PT Sri Rejeki Isman Tbk, Iwan Setiawan, kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) dan kenaikan tarif dasar listik juga tidak berdampak negatif kepada kinerja perseroan. Selain itu, perseroan juga menggangarkan belanja modal sebesar Rp2,4 triliun dalam dua tahun untuk pembangunan enam pabrik.

Sumber pendanaan berasal dari IPO. Nantinya, enam pabrik yang akan dibangun perseroan terdiri dari empat pabrik pemintalan (spinning) dan dua pabrik untuk garmen. Sedangkan investasi pembangunan pabrik pemintalan sebesar Rp2 triliun.

Disebutkan, lokasi pembangunan pabrik pemintalan dengan luas total 15-20 hektar berada di wilayah Sukoharjo dan satunya lagi sedang dalam pencarian. Namun, lokasinya masih berada di daerah Jawa Tengah. \"Lalu untuk dua pabrik garmen seluas 2-5 hektar berada dekat dengan pabrik yang sudah ada, di Sukoharjo agar lebih mudah dikontrolnya. Pembangunannya mulai pertengahan tahun dan tahun depan sudah selesai,\" kata Iawan Setiawan. (bani)

Related posts