KSPI: BBM Naik, Kenaikan Upah Sia-sia

NERACA

Jakarta - Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal, mengatakan bahwa kenaikan harga BBM akan menurunkan daya beli sebesar 30%, sehingga kenaikan upah minimum yang baru dirasakan beberapa bulan ini menjadi sia-sia. Rata-rata kenaikan upah minimum adalah sebesar 30%. Provinsi DKI Jakarta sendiri menaikkan upah minimum provinsi sebesar 44% menjadi Rp2,2 juta.

“Kondisi kenaikan harga BBM ini nantinya akan diperparah dengan harga barang yang melambung tinggi menjelang puasa dan lebaran,” kata Iqbal lewat pesan singkatnya kepada Neraca, Senin (17/6). Dia juga mengingatkan bahwa buruh tidak mendapat Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM), karena rata-rata buruh bukan tergolong masyarakat miskin.

Menurut Iqbal, BLSM hanya bersifat politis karena menjelang pemilu 2014. Buruh sendiri akan tetap dalam keterpurukan ekonomi. “Yang disesalkan juga, tidak ada satupun kebijakan pemerintah terkait pengalihan subsidi BBM diorientasikan untuk pelaksanaan jaminan kesehatan seluruh rakyat yang mulai pada 1 Januari 2014. Tidak ada kebijakan untuk perumahan buruh dengan harga murah, padahal saat ini mayoritas buruh tidak mempunyai kemampuan membeli rumah. Pemerintah juga tidak mengeluarkan kebijakan untuk transportasi publik berongkos murah,” jelasnya.

Salah satu gambaran konkret apa yang terjadi pada buruh adalah seperti apa yang diceritakan Ronal -anggota Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI)- kepada Neraca. Gajinya baru naik menjadi Rp2,3 juta. Tidak ada pekerjaan sampingan dan istrinya pun tidak bekerja. “Mayoritas buruh seperti itu, tidak ada sampingan dan istri tidak bekerja, jadi andalannya dari gaji suami saja,” kata Ronal.

Pos-pos besar pengeluaran bulanan yang rutin dikeluarkan, kata Ronal, adalah biaya kontrakan rumah Rp500 ribu-Rp700 ribu. Biaya pendidikan anak, jika anaknya sudah dua dan menginjak pendidikan SD atau SMP, maka butuh biaya sebesar biaya kontrakan. Sedangkan kebutuhan makan sehari-hari bisa lebih dari Rp1 juta sebulan. Dengan postur semacam itu, akan sulit sekali bagi buruh yang sudah berkeluarga, lalu ingin mempunyai motor, apalagi rumah. “Kita nombok 10%, kalau gaji baru naik 30%, sementara kenaikan BBM 40%,” kata Ronal. Jika pemerintah tetap menaikkan harga BBM, KSPI dengan organisasi buruh lainnya mengancam akan melakukan mogok nasional pada 16 Agustus 2013 nanti, yaitu saat Presiden SBY membacakan RAPBN 2014 di Paripurna DPR.

Dosen FEUI Aris Yunanto mempertanyakan kenaikan BBM yang mendekati bulan puasa, lebaran, natal dan tahun baru, yang menurut dia, empat agenda besar ini adalah siklus konsumsi terbesar yang memang menimbulkan inflasi. “Biasanya bulan puasa memang terjadi inflasi, kenaikan BBM juga sebabkan inflasi. Jadi ada 2 inflasi yang akan terjadi dan tidak dapat dibaca inflasi milik kenaikan BBM atau bulan puasa. Hal ini menjadi pertanyaan bagi saya, apa pemerintah memang berniat bersembunyi dibalik inflasi bulan puasa?,” terangnya. [iqbal]

Related posts